SEKALI LAGI , PERSOALAN NILAI SISWA DI SEKOLAH

0
30

Meskipun bukan satu-satunya faktor penentu, begitu banyak masa depan peserta didik  yang tergantung pada hasil dari penilaian di sekolah. Program beasiswa, masuk jenjang perguruan tinggi, mendapatkan pekerjaan lebih banyak ditentukan oleh angka-angka dalam raport atau ijajah maka tidaklah berlebihan untuk mengatakan betapa pentingnya penilaian yang berujung pada angka-angka ini.

Penilaian merupakan bagian integral dari proses yang berkelanjutan dalam pendidikan untuk belajar dengan efektif dan upaya untuk meningkatkan proses belajar tersebut . Namun,  Benarkah bahwa siswa  dengan angka-angka terbaik itu adalah siswa pintar? Banyak kasus  di sekolah penilaian siswa berdasarkan pada deretan panjang proses penilaian terhadap siswa yang terdiri dari Test Harian / LK + test formatif + performa + tugas / PR + Test Sumatif = Nilai akhir.  Dan yang terjadi, nilai akhir ini merupakan penggolongan siswa dan ‘labeling’ siswa bodoh, menengah dan pintar. Guru menjadi super  sibuk menilai lembar-lembar kerja siswa, ulangan, PR, tugas plus  indikator-indikator penilaian.   Banyak pula kasus orang tua pun bangga dan merasa anaknya telah berhasil belajar hanya dengan melihat angka-angka  fantastis dan rangking di kelas nya.

Dengan perkembangan konsep belajar saat ini, Guru dan Sekolah sudah saatnya meninggalkan penilaian seperti itu. Selain tidak efektif bisa jadi hanya akan membuat stress  guru apalagi dengan tuntutan  administrasi pembelajaran yang kadang malah membuat ‘renced’.  Pola penilaian demikian tidak akan memberikan siswa ruang untuk berbuat salah, jika berbuat salah atau salah mengisi soal artinya bodoh masa depan suram, jika berhasil mengisi test dengan benar maka pintar dengan masa depan cerah. Akibatnya jika melakukan kesalahan berpengaruh pada nilai raport, siswa takut nilai kecil karena kalau nilai kecil artinya ‘papan bawah’ di kelas sehingga memunculkan budaya nyontek dan segala cara untuk mendapatkan angka-angka yang dianggap standar/baik tersebut, peserta didik pun tak kalah sibuknya mengikuti bimbel di luar sekolah, menghafalkan seabrek soal-soal dan jawaban yang membuat siswa kelelahan, akibatnya Guru dan siswa sama-sama terobsesi pencapaian nilai tinggi.  Padahal hakikat belajar adalah proses. Ibarat bayi yang sedang belajar berbicara tidak serta merta bisa mengucapkan vokal,konsonan atau kata dengan tepat tetapi selama belajar bahasa itu terjadi kesalahan-kesalahan pengucapan . Singkatnya belajar adalah sebuah proses bukan menjejalkan atau menghafalkan jawaban soal-soal test. Distorsi makna belajar.

Bukan berarti penilaian tidak penting dalam sebuah proses belajar di sekolah. Penilaian dan evaluasi belajar merupakan rangkaian dan  bagian penting dari proses pembelajaran yang bermakna. Orientasi penilaian tidak saja  sekedar siswa mencapai poin nilai standar tetapi sebagai perangkat untuk membantu siswa melalui tahapan dan proses belajarnya serta menjadi bahan evaluasi guru menilai efektifas dalam menyampaikan materi;  metode, gaya, dan memilih bahan ajar yang sesuai dengan karakter peserta didik. Angka-angka raport, ijajah itu penting tetapi banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika menuliskan angka-angka tersebut.

Dengan penilaian seperti itu guru dapat mencoba cara lain atau pendekatan lain yang lebih mudah dipahami siswa dalam proses pencapaian suatu  kompetensi. Penilaian pada dasarnya untuk mengetahui posisi pemahaman siswa pada suatu proses pembelajaran. Bukan menggolong-golongkan siswa atau bahkan  memberikan ranking dan  stempel bodoh dan pintar. Keberadaan siswa di sekolah terdiri atas beragam kemampuan, bermacam-macam karakter dan berbagai potensi prestasi. Bukan persoalan bodoh pintar tetapi menempatan pembelajaran sesuai dengan kemampuan memahami dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Sekolah yang mengedepankan siswa sebagai sasaran pendidikan dan berorientasi pada daya saing masa depan  tidak menjadikan semua hal yang dikerjakan siswa dalam proses belajar;  PR, ulangan harian atau LK harian, test formatif sebagai komponen dari sistem ranking atau penilaian di akhir pembelajaran.  Jika siswa salah dalam mengerjakan ulangan harian, LK, PR harian ataupun formatif maka tidak dimasukkan sebagai bahan penyusunan nilai rapot.

Test akhir pembelajaran memang sangat penting tetapi test tersebut adalah test proses belajar outputnya bukan pengklasifikasian nilai-nilai standar. Penyusunan nilai raport, nilai  ijajah selayaknya mempertimbangkan berbagai aspek.  Kelulusan , naik jenjang memerlukan penilaian yang tidak parsial tetapi melihat dan mencermati siswa selama proses pembelajaran. Nilai berfungsi sebagai  feed back bagi anak itu sendiri dan guru sebagai fasilitator belajar, untuk terus berupaya mencari cara terbaik dalam proses pembelajaran. Mengevaluasi kemampuan dirinya sendiri supaya peserta didiknya mendapatkan pembelajaran yang optimal dan bermakna.

Pengertian dari Evaluasi, Pengukuran, Tes dan Penilaian (Assessment) harus betul betul dipahami Guru dan Sekolah. Penilaian siswa harus memenuhi  keselarasan, keserasian, dan keseimbangan. Ketika itu telah terjadi dalam standar penilaian di sekolah, maka siswa akan merasakan keadilan dari nilai yang diberikan oleh guru. Guru dan siswa merasakan bahwa sistem penilaian yang diberikan sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Guru bisa melihat kemampuan setiap peserta didik, dan peserta didikpun merasakan kemampuan apa yang telah dikuasainya. Terjadilah penilaian obyektif dari pendidik kepada  peserta didiknya.

Pendidikan di sekolah selayaknya menghargai dan mengembangkan segenap potensi peserta didik ; tidak saja dimensi kognitif, namun juga kemampuan afektif, psikomotorik dan potensi unik lainnya. Siswa dihargai bukan karena ia memiliki angka-angka sesuai standar atau rangking-rangking terbaik di kelasnya melainkan karena ia memiliki potensi yang positif

(dari berbagai sumber)

Views All Time
Views All Time
51
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY