SEKILAS BUSANA “KATENTE, NGGONDO TEMBE DAN RIMPU” SUKU MBOJO

2
370

Beny Barra, Dompu.  Katente Nggodo Tembe dan Rimpu merupakan salah satu budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Suku Mbojo yang mendiami wilayah Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima.  Budaya ini telah hidup dan berkembang sejak masyarakat “Suku Mbojo” ada. Katente Nggondo Tembe dan Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam, sejak Daerah Dompu dan Bima menjadi daerah Kesultanan atau Kerajaan Islam.

Katente Nggondo Tembe dan Rimpu yakni busana masyarakat Suku Mbojo yang menggunakan sarung khas Daerah Dompu- Bima. Sarung ini biasa dibuat secara tradisional yang disebut “Muna”.  Sarung yang dipakai ini dalam kalangan masyarakat Suku Mbojo dikenal sebagai Tembe Nggoli (Sarung Songket). Kafa Mpida (Benang Kapas) yang dipintal sendiri melalui tenunan khas Daerah.

Sementara sarung songket memiliki beberapa motif yang indah. Motif-motif sarung songket tersebut meliputi nggusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli (yang bahan bakunya memakai benang rayon).

Katente Nggondo Tembe merupakan rangkaian pakaian yang menggunakan dua lembar sarung. Kedua sarung tersebut untuk bagian bawah dan bagian atas. Penggunaannya, yakni satu lembar untuk pakai di bagian bawah atau disebut “Katente” , sedangkan satu lembar untuk digunakan di bagian atas seperti memakai selempang atau disebut “Nggondo”. 

Dilihat dari kebiasaan Masyarakat Suku Mbojo,  yang kebanyakan bermata pencaharian petani atau bertani, dan Nelayan.  Sarung yang digunakan untuk “Nggondo” biasa dimanfaatkan membawa bekal saat ke sawah, ladang dan melaut, pemakai busana ini akan membentuk layaknya tas.  Busana kaum laki-laki Mbojo ini , penggunaannya dilengkapi dengan tutup kepala atau disebut “sambolo”.  Selain digunakan untuk membawa bekal, Sarung yang dipakai untuk Katente Nggodo Tembe yang dilengkapi dengan “Sambolo” ini juga dimanfaatkan sebagai busana atau pakaian untuk Shalat,  bahkan ini yang utama.

Sedangkan Rimpu adalah pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan sebagai busana muslimah tradisional. Rimpu juga menggunakan dua lembar sarung, yakni satu lembar untuk bagian atas atau disebut Rimpu dan satu lembar lagi dipakai pada bagian bawah atau disebut “Sanggentu“.  Dilihat dari cara berpakaian,  busana ini mirip dengan jilbab panjang atau hizab. Seperti laki-laki Mbojo, Pakaian Rimpu juga biasa digunakan untuk shalat, ke sawah, ke ladang dan bahkan untuk ke acara-acara kampung lainnya.*

Pic Moda : Laki-laki (Beny Barra)

Pic Moda : Perempuan (Nurul)

Views All Time
Views All Time
623
Views Today
Views Today
1

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY