SEKOLAH AMAN BAGI ANAK

0
70

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2014 ini dipayungi oleh awan kelabu bagi anak-anak Indonesia khususnya, dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya. Pelecehan seksual yang dialami oleh salah satu siswa di lembaga pendidikan JIS Jakarta telah mencoreng kesucian dan kearifan sekolah selama ini yang dianggap sebagai lembaga memanusiakan manusia yang berbudaya, bermoral, dan beragama. Namun, karena ulah perbuatan bejak segelintir manusia yang tidak bermoral dan lemah imannya menyebabkan kepercayaan terhadap sekolah, khususnya JIS, menjadi berkurang. Kepercayaan orangtua kepada sekolah yang selama ini dianggap bergengsi, mewah, dan modern tidak diimbangi dengan ketahanan sekolah itu sendiri dalam menjaga moral dan budaya yang luhur dan menusia sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Pelecehan seksual terhadap siapa pun merupakan bentuk perbuatan yang tidak manusiawi, terlebih lagi kepada anak kecil yang tidak berdosa dan tidak mengerti apa-apa. Pelaku pelecehan seksual seperti yang terjadi dan diberitakan akhir-akhir ini di media massa cetak dan elektronik mungkin saja  hanya secuil kisah kelam yang dialami oleh banyak anak kecil di negeri ini. Kejahatan selalu tersembunyi dikegelapan, namun bukan berarti luput dari pembelasan dan siksa dari Tuhan YME nantinya di hari kemudian. Kasus pelecehan seksual terhadap anak kecil yang dilakukan oleh orang dewasa seperti yang diterungkap di JIS merupakan gambaran bagaimana perlindungan kepada anak-anak yang masih sangat rentan terhadap berbagai bentuk kejahatan, khususnya pelecehan seksual.

Perlindungan terhadap siswa atau anak yang  masih belia sedang menuntut ilmu di sekolah sepenuhnya ada di bawah tanggung jawab pihak sekolah, khususnya guru yang mendidik dan mengajarnya. Ketika terjadi tindak pelecehan seksual terhadap diri siswa tersebut maka tentunya perlindungan dan pengayoman terhadap siswa tersebut sangat lemah. Sekolah dan guru seharusnya memiliki aturan yang ketat untuk menjaga dan melindungi siswa yang lemah tersebut dari upaya tindak kejahatan yang mengancam dirinya di dalam lingkungan sekolah. Sekolah yang memiliki pola  pengawasan yang super ketat seperti JIS ternyata tidak mampu mencegah tindak kejahatan terhadap anak didiknya karena di dalam lingkungan sekolah tersebut telah terjadi apa yang diistilahkan ‘pagar makan tanaman’, bahkan dalam bahasa yang lebih ekstrim disebut sebagai ‘predator’ atau pemangsa.  Kejahatan di sekolah yang terselebung dan berbalut seragam petugas kebersihan dan petugas lainnya atau bahkan gurunya sendiri merupakan bentuk ancaman yang sangat mengerikan bagi anak.  Kepercayaan dan dukungan orangtua yang mempercayakan putra-putrinya di sekolah tersebut telah dilanggar dan dikabiri oleh oknum yang bertopeng dan berbalut seragam. Lalu, kemana lagi anak memerlukan perlindungan jika orang-orang yang ada di sekolah malah menjadi pelaku kejahatan yang mengancamnya.

Orangtua,guru,  dan masyarakat diharapkan lebih meningkatkan perlindungan kepada anak-anak yang tidak berdaya atas tipu muslihat dan perbuatan orang dewasa di sekitarnya yang punya niat dan kesempatan untuk melancarkan aksi jahatnya, khususnya kejahatan pelecehan seksual. Kenyataan menunjukkan bahwa kejahatan pelecehan seksual banyak dilakukan oleh orang-orang’ dekat’ yang sudah dikenal oleh anak-anak, seperti kasus di JIS  yang dilakukan oleh oknum penjaga sekolah. Kejahatan selalu mengintai anak-anak yang berada di luar rumah atau bahkan di ruang publik yang selama ini dianggap streril dari kejahatan seperti sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Pemerintah sebagai pembuat regulasi dan memiliki otoritas terhadap lembaga pendidikan seperti JIS perlu lebih ketat dalam memberikan izin atau rekomendasi kepada pihak asing yang berupaya ikut memajukan dunia pendidikan Indonesia melalui lembaga pendidikannya yang terkesan ekslusif dan tertutup. Kejadian yang menimpa anak Indonesia menuntut ilmu di sekolah yang berlabel dan berstandar internasional tidak serta merta memberikan jaminan terhadap anaknya dari ancaman kejahatan berupa pelecehan seksual. Lalu, pertanyaannya sampai sejauhmana pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan koleganya di daerah, dalam melindungi anak Indonesia dari ancaman kejahatan pelecehan seksual di sekolah yang berlabel dan berstandar internasional tersebut?

Persoalan kejahatan berupa pelecehan seksual dapat dikatakan sebagai fenomena gunung es. Keengganan pihak korban, baik anak maupun orangtua, untuk melaporkan perbuatan yang sangat tidak bermoral tersebut tentunya menyulitkan pihak berwajib untuk mengungkap kejahatan tersebut secara terbuka dan tuntas. Tentunya, masih banyak anak atau siswa yang menjadi korban tindak kejahatan pelecehan seksual ini namun kasus mereka tidak terekspose dan tidak  ditangani oleh pihak berwajib. Kesulitan mengungkap kejahatan pelecehan seksual sangat berkaitan dengan sikap dan niat baik pihak yang menjadi korban. Bagaimanapun pihak berwajib dan pihak terkait lainnya akan sangat sulit masuk dan mengungkap secara tuntas kejahatan pelecehan seksual ini apabila pihak korban dan keluarganya tertutup  atau setidaknya tidak mau memperpanjang dan mengungkap kasusnya sampai tuntas. Kesadaran dan niat dan itikad yang baik dari pihak korban dan kelaurganya akan banyak membantu pihak berwajib untuk mengungkap dan selanjutnya mengadili pelakunya dengan hukuman yang seadil-adilnya sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Dengan terungkapnya kasus pelecehan seksual terhadap anak secara terang benderang akan memberikan pelajaran berharga bagi orangtua dan masyarakat dalam memberikan perlindungan kepada anak secara optimal.

Pelecehan seksual  terhadap anak-anak dengan segala bentuk dan jenisnya adalah perbuatan yang sangat kejam, terlebih lagi dapat menularkan penyakit.  Perbuatan tersebut dapat membuat trauma berkepanjangan bagi diri si anak dan keluarganya sehingga menyebabkan masa depan suram. Oleh sebab itu, sanksi atau hukuman bagi pelaku kejahatan pelecehan seksual ini hendaknya lebih berat daripada pelecehan terhadap orang dewasa. Dengan sanksi yang berat ini diharapkan tidak ada lagi orang yang berani melakukannya dikemudian hari sehingga anak-anak dapat dengan bebas menikmati dunianya. Kondisi anak yang yang menjadi korban pelecehan seksual tentunya sangat berat penderitaannya, baik sekarang maupun  di kemudian hari, karena selain fisiknya yang tersiksa juga psikisnya tergoncang hebat.  Trauma berat menjadi penderitaan yang dapat terus menerus menghantui kehidupannya.  Meskipun penderitaan fisik dapat disembuhkan dalam waktu yang relatif singkat, namum penderitaan psikis dan harga dirinya tentunya amat berat untuk dapat ditanggung oleh anak yang sangat belia dan tidak tahu apa-apa, termasuk juga orangtua dan keluarganya.

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)  2014 ini menjadi momentum dunia pendidikan Indonesia untuk memberikan perlindungan dan kenyaman bagi semua anak Indonesia, khususnya yang sedang menuntut ilmu di lembaga pendidikan, agar mereka  tidak ada lagi yang menjadi korban tindak kejahatan pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang yang selama ini dianggap bagian terdekat dari mereka. Kemegahan dan kemewahan sebuah sekolah atau lembaga pendidikan bukanlah menjadi jaminan mutlak bahwa anak-anak yang bersekolah di tempat tersebut terbebas dari berbagai bentuk tindak kejahatan seperti pelecehan seksual. Namun demikian, bukan berarti bahwa semua lembaga pendidikan yang mewah atau berstandar internasional demikan. Tentunya masih banyak lembaga pendidikan atau sekolah yang mewah dan berstandar internasional yang bermutu dan memiliki budaya dan tradisi yang kokoh dalam menjaga moral dan kepribadian pengelolanya. Pengawasan Pemerintah dan terlebih orangtuanya sangat diperlukan agar putra-putri harapan keluarga dan bangsa ini dapat menikmati dunia mereka dengan aman dan nyaman serta mereka terbeas dari ancaman yang terselubung di balik kedok dan oknum yang berseragam di sekitar mereka.

Views All Time
Views All Time
153
Views Today
Views Today
1
Previous articleUN DAN PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERCECER
Next articleHAKIKAT SEKOLAH UNGGUL
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY