SEKOLAH itu PELITA BAGI WARGA DI SEKITARNYA

3
34

Menurut berita koran Banjarmasin Post, Sabtu, 18 Mei 2019, pada halaman 9 dengan judul berita “ Halaman Sekolah Dilempari Pecahan Kaca” dan subjudul “ Anggota TNI Turut Amankan SDN Melayu 3”. Dalam beritanya, siswa SDN kelas 5 yang menggelar pesantren ramadan di SDN Melayu 5 Banjarmasin harus berhati-hati, Jumat (17/5) pagi. Soalnya, di halaman sekolahnya berhamburan pecahan kaca dan sampah. Banyaknya pecahan kaca dan sampah di SDN setempat itu terjadi pasca diperoleh kesepakatan berbagai pihak Nico Hanafi yang rumahnya di depan persis SDN Melayu 5 bersedia memindahkan lima anjingnya ke lokasi lain, Kamis (15/5). Selama ini, Nico selalu melepas liar lima anjingnya ke halaman sekolah sehingga membuat takut para siswa saat belajar dan istirahat. Selanjutnya, menurut  Kepala SDN Melayu 5 Banjarmasin, Herawati, bahwa pihaknya Jumat pagi langsung melapor ke Babinsa (TNI) dan Babimkantibmas Polsek Banjarmasin tengah terkait teror dan ancaman pecahan kaca yang diterima SDN Melayu 5.

Begitulah  sekilas mengenai adanya konflik antara pihak sekolah dengan salah satu warga masyarakat sekitar sekolah yang menyebabkan. Kasus ini merupakan salah satu kasus yang jarang terjadi, dimana ada warga sekitar sekolah yang melakukan teror terhadap siswa dan sekolah yang berada di dekat rumahnya. Sungguh ironis, sekolah yang merupakan lembaga pendidikan dengan visi utama mencerdaskan kehidupan bangsa serta mendidik generasi muda bangsa menghadapi ulah oknum warga sekitar sekolahnya sendiri.  Bukannya bersyukur dan mendukung sekolah yang ada, tetapi malah sebaliknya membuat resah siswa dan warga sekolah lainnya.

Peran serta masyarakat dalam dunia pendidikan sangat diperlukan, disamping peran pemerintah dan orangtua, utamanya dukungan masyarakat yang tinggal di sekitar sekolah. Bagi warga sekitar sekolah, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mendukung keberadaan sekolah, seperti menjaga keamanan, kebersihan, dan sebagainya. Setidaknya, warga masyarakat sekitar sekolah tidak melakukan perbuatan atau tindakan yang dapat mengganggu kehidupan sekolah, seperti dengan menjaga ketertiban sekitar sekolah agar tidak mengganggu proses pendidikan yang berlangsung di sekolah tersebut.

Keberadaan bangunan sekolah yang berada di tengah pemukiman penduduk yang padat di kota-kota besar seperti di Banjarmasin tersebut, memang rentan terjadi gesekan dengan penduduk atau warga masyarakat setempat. Kondisi ini dapat terjadi  kemungkinan disebabkan oleh lahan yang terbatas, sehingga terjadi gesekan atau konflik seperti kasus di atas. Siswa membutuhkan kondisi lingkungan belajar atau sekolah aman dan nyaman, terutama pada saat kegiatan atau proses pembelajaran di kelas. Demikian pula, ketika siswa sedang istirahat belajar memerlukan ruang yang lapang, aman, dan nyaman, seperti halaman yang luas, rindang, dan sebagainya.

Kondisi dari lingkungan perkotaan yang padat oleh semakin banyaknya penduduk dan perumahannya, akhirnya membuat warga sekolah harus beradaptasi dengan kenyataan yang ada. Masyarakat semestinya mendukung dan menyokong keberadaan sekolah agar siswa dengan segala kegiatannya dapat berjalan baik, lancar, aman, dan kondusif, sehingga kegiatan pembelajaran dan pendidikan di sekolah tersebut dapat berlangsung dengan baik. Sekolah dan masyarakat harus saling mendukung, karena sekolah menjadi wahana untuk mencerdaskan anak-anak warga masyarakat yang ada di sekitarnya. Sekolah adalah pelita bagi masyarakat diu sekitarnya. Semoga.

###1483###

 

Views All Time
Views All Time
69
Views Today
Views Today
1
Previous articleOTW Finlandia
Next articleRamadhan Kokohkan Rasa Persaudaraan
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

3 COMMENTS

  1. Hampir di wilayah kita persoalahn lahan di dunia pendidikan trus muncul pk. Perlu penataan aset lahan oleh pemerintah agar lembaga pendidikan dan siswanya tdk menjadi korbn. Salut untuk pr gru dan siswa yag tetap berjuang menjadi pelita. Smg diberi kekuatan dan kesabaran.

    • Benar, Dulu, ketika sekolah itu berdiri, lahannya merupakan wakaf dari warga setempat. Kemudian, seiring waktu ada tuntutan ekonomi dan sebagainya, anak-anak yang mewakafkan tanahnya untuk sekolah itu menuntut mengambil tanah tersebut atau minta ganti rugi. Sedangkan warga yang memberikan wajaf tanah utk seklah tsb telah meninggal, surat pemberian wakaf atau hibah tidak ada. Pada sisi lain, awalnya lokasi sekolah berada di lahan yang kosong, beberapa puluh tahun kemudian lahan kosong itu menjadi pemukiman penduduk, karena pertumbuhan dan perkembangan kota yang pesat. Akhirnya, sekolah berada di pemukiman yang padat penduduk dan memiliki lahan yang sempit, terjepit oleh perumahan yang ada, seperti kasus yang dibahan di atas.

  2. Sama persis kejadiannya di daerah kami pak. Dari tanah wakaf, setlh sekian tahun berjalan, sekolah sdh berdiri dan dinegerikan ahli waris menuntut ganti rugi dan menyegel lahan sekolah, akhirnya oleh kementerian kita karena tidak ada kata sepakat dicarikan lahan baru dan dibangunkan kembali di tempat yang baru. Seluruh siswa dialihkan ke lokasi yg baru. Smg sgr mendapatkan solusi pak.

LEAVE A REPLY