SEKOLAH KRISIS KEPALA SEKOLAH ?

0
21

Membaca dan menyimak pemberitaan koran Banjarmasin Post, Jumat, 9 Agustus 2019, yang pada halaman 10 menangkat judul berita “ Banjarmasin Kekurangan 30 Kepala SDN” . Dalam petikan beritanya,  bahwa menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Totok Agus Daryanto saat dikonfirmasi hal tersebut, tidak memungkirinya. Bahkan kondisi tersebut, menurutnya memaksa sejumlah sekolah dasar di Kota Banjarmasin pun saat ini harus masih dijabat Pelaksana Tugas (Plt). “Namun ini bukan berarti kami tidak ingin melantik. Melainkan memang karena setok guru yang memiliki  kualifikasi kepala sekolah ini tidak ada” jelasnya. Lebih lanjut, Totok menjelaskan sementara untuk guru yang bisa diangkat menjadi kepala sekolah sendiri, salah satu syaratnya ia harus memiliki sertifikasi yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengembang dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS).

Pemberitaan koran di atas memberikan gambaran kepada khalayak tentang kondisi dunia pendidikan yang sedang terjadi saat ini. Bagaimana berharap sekolah dalam berlangsung atau berjalan sebagaimana mestinya, jika kepala sekolah sebagai pemegang kunci manajerial sekolah tidak ada. Meski ada Pelaksana Tugas (Plt), bukan berarti permasalahan di sekolah dapat dihadapi dan diatasi oleh Plt tersebut, karena kewenangan Plt sangat terbatas.

Dengan adanya pemberitaan tersebut juga mengindikasikan, bahwa sekolah yang berada di Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan tersebut, masih kekurangan calon kepala sekolah (CAKEP), apalagi di daerah lain yang termasuk wilayah yang jauh dari ibukota provinsi tersebut. Sebagaimana dikmaklumi, bahwa Kota Banjarmasin menjadi barometer berbagai kemajuan daerah, termasuk dunia pendidikan.

Lalu, apa yang menjadi penyebab terjadinya kekosongan kepala sekolah dan tidak segera diangkat kepala sekolah yang baru? Bukankah kepala sekolah itu penting dalam menjalankan manajemen atau pengelolaan sekolah sehari-hari? Pertanyaan –pertanyaan tersebut dapat ditelusuri dari akar permasalahan lain yang berkaitan dengan regenerasi atau rekrutmen calon kepala sekolah sebagai persiapan pengganti bagi kepala sekolah yang pensiun dan sebagainya.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah, persyaratan untuk menjadi bakal kepala sekolah antara lain memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari perguruan tinggi yang telah terakreditasi minimal B, memiliki sertifikat pendidik, memiliki pangkat minimal Penata, golongan ruang III/c, pengalaman mengajar paling singkat 6 (enam) tahun menurut jenis dan jenjang sekolah masing-masing, kecuali di TK/TKLB memiliki pengalaman mengajar paling singkat 3 (tiga) tahun di TK/TKLB, dan sebagainya.

Rekrutmen bakal calon kepala sekolah disiapkan lebih awal sesuai dengan prediksi yang akan terjadi dalam proses pergantian kepala sekolah, baik karena adanya mutasi maupun promosi kepala sekolah. Masalahnya, banyak guru yang enggan mengikuti tes calon kepala sekolah, dan yang ikut tes itu pun belum tentu lulus atau gagal. Keengganan guru mengikuti tes calon kepala sekolah dapat diperngaruhi oleh beberapa faktor, seperti kualifikasi akademiki, masa kerja, motivasi  diri, kemampuan atau kompetensi, dan sebagainya.

Persyaratan untuk menjadi calon kepala sekolah yang relatif suli tersebut, juga semakin dipengaruhi oleh minimnya penghargaann finansial sebagai kepala sekolah.  Sementara ini, penghasilan yang resmi antara kepala sekolah dengan guru tidak jauh berbeda, perbedaannya relatif kecil, atau bahkan nyaris sama. Sedangkan peran dan tanggung jawab kepala sekolah sangat komplek dan menyeluruh, mulai dari guru, siswa, dan sebagainya. Ibaratnya, kepala sekolah memikirkan dari  akar rumput di halaman dan sekitar hingga ujung atap sekolah.

Keberadaan kepala sekolah dalam sistem pendidikan nasional sekarang mulai diperhatikan. Salah satunya dengan adanya penugasan kepala sekolah  yang lebih fokus pada manajerial, supervisi, dan kewirausahaan sebagainya tercantum dalam Pasal 9, Ayat (1)  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 Tahun 2018 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas. Dengan adanya penataan baru beban kerja kepala sekolah tersebut diharapkan akan lebih konsenntrasi dan fokus mengelola sekolah dengan sebaik-baiknya, dan tentunya juga menarik minat guru untuk menjadi kepala sekolah.  Semoga.

###2065###

Views All Time
Views All Time
19
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN MENUJU TANAH SUCI. Bagian 4. Persiapan Keberangkatan
Next articleGuru Honor: Mimpi&Nyata
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY