Selalu Marah Pada Siswa. Perlukah?

Hampir setiap guru pernah marah kepada murid-muridnya. Memang sebagai pribadi yang hidup di tengah kompleksitas kehidupan, guru sangatlah lumrah untuk marah. Terlebih lagi ketika meresponi tindakan yang dilakukan siswa yang melewati batas, selayaknya bagi guru untuk menunjukkan rasa itu kepada siswa. Sebagian besar guru akan beralasan  kemarahan mereka muncul tidak lain ialah karena guru menyayangi murid tersebut dan mengekspektasikan siswa tersebut untuk  berperilaku sewajarnya. Itu ialah alasan yang logis. Namun, bagaimana jika setiap hari, guru selalu marah-marah di kelas. Perlukah untuk menampilkan rasa marah itu kepada anak-anak setiap saat?

Perlu kita pahami bersama bahwa setiap manusia pasti memiliki emosional. Kemarahan ialah salah satu bentuk emosional yang ditunjukkan oleh manusia normal. Adalah suatu hal yang mustahil jika mengharapkan seorang pribadi di dunia profesional untuk tidak pernah menunjukkan kemarahannya. Sebagai makhluk ciptaan yang berakal dan memiliki perasaan, kita sangatlah berbeda dengan robot. Guru bukanlah robot yang mengajar siswa.

Saya menulis artikel opini ini karena saya terheran dengan rekan guru yang terkenal dengan kegalakannya kepada siswa. Dia pun menyadari bahwa dia suka marah-marah kepada siswanya di kelas karena siswanya sulit diatur. Jika menarik ulur pengalaman mengajar saya dulu di Palembang, saya pun menemukan contoh yang sama dari rekan yang mengajar salah satu mata pelajaran. Marah-marah ialah karakteristik yang dicap siswa untuk dirinya. Namun, saya pun ternyata menampilkan hal yang sama di tahun pertama saya mengajar. Lalu, apa penyebabnya?

Pada dasarnya, setiap guru memiliki idealisme dan ekspektasi tersendiri. Saat mengajar, guru memiliki tujuan yang ingin dicapai. Namun, kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi kepada siswa di kelas saat kita mengajar. Gangguan pada kelas yang disebabkan oleh perilaku  siswa inilah yang memicu rasa marah guru karena secara tidak langsung, usaha guru untuk mencapai tujuan yang ia ingin capai terhambat karenanya. Bahkan bisa dikatakan bahwa rasa marah sering muncul bagi guru yang sangat bergairah untuk memberikan pengajaran yang terbaik bagi murid-muridnya. Namun, tak bisa dipungkiri, guru bisa memunculkan kemarahannya karena dia tidak memiliki kompetensi yang cukup perihal classroom management dalam meresponi setiap perbuatan siswa yang dilakukan di sekolah. Saya selalu teringat dengan perkataan salah seorang pembicara dari seminar yang pernah saya ikuti. Beliau berkata bahwa setiap guru yang tidak memiliki kompetensi akan classroom management atau manajemen kelas akan selalu memilih untuk marah terhadap murid-muridnya. Berdasarkan pengalaman 7 tahun saya mengajar dan observasi anedok yang saya lakukan, pernyataan yang disampaikan oleh pembicara tersebut benar adanya. Lalu, apa yang seharusnya guru lakukan untuk mengurangi intensitas marah mereka di depan kelas?

Pertama, kompetensi dasar perihal manajemen kelas perlu dikuasai oleh setiap guru. Jika guru di sekolah tidak memiliki riwayat pendidikan sekolah keguruan, maka membaca buku atau artikel tentang classroom management wajib untuk dilakukan. Penting untuk diketahui bahwa manajemen kelas menciptakan sekumpulan ekspektasi yang digunakan dalam lingkungan kelas yang terorganisir. Ini mencakup rutinitas, aturan, dan konsekuensi. Memahami topik ini akan membantu guru menyelesaikan masalah yang terjadi di kelas dengan melihat kembali daftar konsekuensi dan kesepakatan yang sudah dibuat dan disetujui oleh seluruh siswa saat minggu pertama sekolah berlangsung. Dengan begitu, guru tidak perlu lagi melelahkan diri sendiri dengan marah kepada siswa karena kita sudah memiliki amunisi untuk penyelesaikan konflik yang terjadi di kelas. Guru yang tidak mengatur sistem konsekuensi dan kesepakatan siswa ini akan cenderung memilliih jalan pintas yaitu dengan marah. Maka dari itu, pada pertemuan awal dari pengajaran, selayaknya guru berdiskusi dengan siswa perihal tata tertib saat kelas berlangsung dan apa resiko yang akan mereka dapatkan jika melanggarnya. Keseriusan akan hal ini akan membawa siswa pula pada perbuatan yang serius dan pantas saat guru sedang mengajar.

Kedua, guru juga perlu memahami keunikan siswa. Setiap siswa memiliki gaya belajar dan kompetensi yang berbeda. Siswa yang kinestetik, akan lebih menyukai pembelajaran yang dinamis dengan melakukan banyak kegiatan. Jadi, jangan pernah mengharapkan mereka untuk bisa duduk dengan tenang dan selalu melipat tangan sambil melihat ke depan. Demikian pula, jangan pernah berharap kepada siswa yang memiliki gaya belajar auditory untuk selalu melihat guru saat sedang menjelaskan pembelajaran. Dengan hanya mendengarkan, siswa akan lebih mudah menangkap maksud dari topik yang sedang dijelaskan.  Siswa yang memiliki gaya belajar visual  akan mudah merasa bosan jika guru hanya mengandalkan tipe mengajar lecturing. Terlebih lagi, perilaku siswa juga muncul karena pengaruh usia. Oleh karena itulah, setiap sekolah perlu menyadari bahwa guru yang mengajar pada level tertentu ialah pribadi yang benar-benar mengetahui dengan detil karakteristik dari murid yang mereka ajar berdasarkan perkembangan usia dan diri siswa. Guru yang belum pernah mengetahui akan hal ini sangat disarankan untuk mempelajari topik ini secara lebih detil.

Pada akhirnya,  semakin kaya kompetensi dan kemampuan yang dimiliki dalam mengatur siswa, merancang pembelajaran dan mengaplikasikan manajemen kelas yang efektif, maka akan semakin jarang pula guru tersebut untuk menunjukkan kemarahan kepada siswanya.

Views All Time
Views All Time
7
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY