SENSASI ITU,MENJERATKU

0
60

Sensasi itu, menjeratku

Setahun yang lalu ku mengenal dirimu. Di perkenalkan oleh seorang teman facebook, yang terus terang saja, belum pernah ku kenal di dunia nyata. Aku berteman dengannya dikarenakan dia memintaku untuk menjadi temannya di Facebook. Rabiah, namanya. Sebelum menerima dia menjadi temanku ,seperti biasanya ku telusuri dulu rekam jejaknya. Ternyata dia adalah seorang guru yang begitu menginspirasi. Banyak hal-hal positip yang telah dilakukannya. Aktif di kegiatan kepramukaan dan juga seorang penggerak literasi. Sampai suatu hari Kulihat dia memposting sebuah buku karangannya. Terus terang saja aku orangnya suka iri. Namun tidak dengki. Aku selalu iri pada keberhasilan orang lain dan ingin sekali berbuat seperti orang tersebut. Prinsipku, jika orang lain bisa berbuat kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain, kenapa aku tidak. Toch, kita sama-sama di beri akal dan pikiran oleh Yang Maha Kuasa agar bisa menjadi orang yang bermanfaat dan menebar kebaikan. Bolehkan iri untuk hal-hal yang baik? Yang jelas rasa iri ku adalah rasa iri yang positif. Singkatnya, Aku lalu banyak bertanya padanya. Bagaimana caranya dia bisa menerbitkan buku. Karena terus terang saja aku memang hobi sekali menulis. Lalu Rabiah memperkenalkan aku dengan istilah sagusaku (Satu Guru Satu Buku). Setelah melalui proses transfer dan juga berkenalan di grup WA Sagusaku Pekanbaru, aku lalu mengikuti kegiatan tersebut.
Di awali dengan keikutsertaanku di acara Sagusaku Pekanbaru Menulis Langsung Terbit yang ditaja oleh Ikatan Guru Indonesia atau IGI, bekerjasama dengan igmp bahasa Indonesia Pusat, akhirnya cita-citaku untuk menjadi guru penulis, bisa terealisasi.
Terus terang saja,awalnya aku tidak mengenal IGI. Yang kutahu selama ini organisasi profesi guru itu hanyalah PGRI. Ternyata IGI juga merupakan organisasi profesi yang bergerak untuk meningkatkan meningkatkan mutu pendidikan dan kompetensi guru.

Di acara sagusaku, aku lalu mengenal sosok Nur Badriah seorang motivator handal, penulis, pejuang literasi, Inspiring Beauty bagi guru penulis IGI. Dia juga ketua igmp bahasa Indonesia Pusat.Lalu ada sosok Mr. Slamet Riyanto, guru hebat yang melalang buana ke luar negeri karena aktivitas menulisnya dan telah menerbitkan ratusan buku. Kemudian ada sosok bu yulismar, yang sekarang ku panggil dengan sebutan kak Yuli , penulis, pejuang literasi dan motivator handal. Merekalah inspiratorku saat itu, hingga memotivasiku untuk menulis dan menerbitkan buku. Meski waktu 2 hari di Sagusaku Pekanbaru tidak membuat aku mengenal banyak tentang mereka, namun di pertemuan-pertemuan online, aku mulai memahami betapa mereka adalah sosok sosok yang begitu menginspirasi.
Di IGI , Aku berkenalan dengan teman-teman guru yang ingin maju membangun pendidikan di Indonesia, sementara kegiatan IGI adalah kegiatan Swadana artinya jika ingin mengikuti kegiatan di IGI harus berani merogoh kocek sendiri, karena terus terang saja di IGI tidak ada iuran anggota ataupun anggaran dari APBN ataupun APBD.
IGI bergerak secara mandiri dalam meningkatkan kompetensi guru dan mutu pendidikan di Indonesia. Di IGI, aku begitu banyak sekali mendapatkan pelajaran-pelajaran tentang bagaimana guru-guru yang ikhlas dalam mendidik dan dalam memberi pengetahuan pada siswa dan guru lain. Melalui slogan “Sharing and Growing together”, semua seakan ingin berpacu meningkatkan kompetensi diri dan mutu pendidikan di Indonesia. Akhirnya setelah melalui pelatihan selama 2 hari di LPMP Pekanbaru tersebut, (meski harus melajukan perjalanan tengah malam selama 9 jam di antara rintik hujan dan kilat yang menyambar-nyambar dan jalanan yang licin, sehingga mobil yang ku tumpangi bersama teman-teman hampir slip)dan kelas online selama 3 bulan, maka terbitlah novelku yang berjudul Gadis Jerambah (Sebut Saja Namaku, Elni).

Beberapa bulan kemudian, setelah kelas menulis yang diadakan sagusaku Pekanbaru ini, kami 100 orang guru penulis yang sudah menerbitkan buku dari seluruh Indonesia diundang pada acara Global Educational Supplies and Solution (GESS), di Jakarta Convention Center (JCC). Disini kembali aku belajar banyak hal tentang pendidikan dan inovasi pendidikan.
Kebersamaan denganmu dan guru-guru igi membuatku semakin betah. Sehingga ku ingin terus bersama dan bersama.

Lalu, kemarin, tanggal 5 sampai 7 Januari, Aku kembali bertemu denganmu, du acara Temu Nasional Pelatih di gedung A Kemendikbud Jakarta. Sepanjang acara di Temu Nasional ini, aku semakin menyadari betapa diriku seperti buih di lautan diantara mereka, penyayangmu. Betapa aku tertinggal sekali dibandingkan mereka. Betapa banyaknya kekurangan diriku dalam mengembangkan kompetensi diri dan pendidikan di daerahku terutama di sekolah. Hampir sepanjang hari, aku berdiri, meski ada kursi untuk duduk, rasanya tak puas jika tidak berdiri. Betapa aku terkagum-kagum melihat penampilan guru-guru IGI saat memperkenalkan kanal-kanal pelatihan mereka. Ketika teman-teman hebat dari guru-guru IGI tersebut memperkenalkan 67 kanal-kanal mereka aku terpaku. IGI… Betapa aku sangat mencintaimu. Kau dan guru-guru hebat itu, membuatku begitu jatuh cinta. Sensasi-sensasi yang kau tawarkan begitu menggoda, sehingga seakan menjeratku lebih dalam lagi masuk ke ruang hatimu. Dan aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya padamu. Aku berharap engkau pun juga mencintaiku seperti dalamnya aku mencintaimu. Dan kedepannya bersama dengan dirimu, Aku ingin menjadi seseorang yang berarti dalam dunia pendidikan di Indonesia ini. Sampai jumpa di Solo, IGI-ku.

Views All Time
Views All Time
174
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY