Sepasang Manik Biru

Sepasang Manik Biru

0
3

SEPASANG MANIK BIRU
Karya Nurul Samirka, S.Pd

Siang itu langit mendung. Di langit,awan hitam berarakan siap menumpahkan air ke bumi. Siang itu pertama kalinya aku bertemu gadis kecil dengan manik mata sebiru laut. Gadis kecil yang berjalan terseok sambil menyeret sebuah karung yang hampir terisi penuh. Jelas terlihat tenaganya tak sebanding dengan isi karung tersebut.
Siang itu, untuk pertama kalinya aku berucap syukur dengan lebih banyak kala mengenang masa kecil yang telah kulewati. Siang itu, kisah ini bermula.

–oo—
Mengabdi di daerah pegunungan membuat rutinitas pagiku berubah 180 derajat. Aku hampir beku kedinginan saat pertama kali mencoba mandi. Bahkan, aku pernah hanya cuci muka ke sekolah karena malamnya hujan turun. Jangan tanya apa aku menggunakan AC di kamar. Bahkan kipas anginpun jarang kugunakan. Selain karena kondisi cuaca yang tidak terlalu membutuhkan pendingin, kondisi listrik juga menjadi kendala.

Tadinya aku melihat kondisi seperti ini di dalam tayangan televisi. Kini, aku ikut merasakan bagaimana gelapnya keadaan rumah saat tiba-tiba lampu mati karena ada pohon tumbang yang mengenai tiang listrik. Atau saat aku harus memanjat pohon mencari sinyal hp di belakang rumah untuk video call dengan keluarga atau teman-temanku. Akupun pernah menjerit ketakutan saat terbangun tiba-tiba karena petir menyambar di tengah malam. Beberapa kali aku ‘menumpang’ di rumah pak kades, yang kebetulan rumah nya bersebelahan dengan rumah sewaku kala rasa takutku belum juga reda.

Terkadang pula aku sedikit merasa ketakutan saat bertemu dengan warga di sini. Saat kusapa mereka ketika berpapasan, sering kudapati tatapan curiga terhadap penampilanku. Aku yang terbiasa memakai gamis dan jilbab besar di tempat tinggalku terlihat ‘berbeda’ dengan mereka. Aku coba mengerti keadaan ini. Sebagai pendatang di kampung mereka tentu aku jadi pusat perhatian. Aku berusaha untuk bersikap ramah dan berhati-hati. Sebisa mungkin aku tak melakukan hal yang menambah kecuriaan mereka.

‘Orang kampung masih suka main dukun’, kata temanku dulu saya kukabarkan kelulusanku di sini. Tentu saja aku kalut dengan info itu. Sebagai seorang perempuan, aku harus tinggal jauh dari keluarga di tempat yang tak kuketahui kondisi realnya. Penyesalan sempat datang kenapa aku harus mengikuti lowongan tes di sini. Aku hanya berpikir kemungkinan untuk lulus lebih besar di sekolah pinggiran ketimbang sekolah favorit di kota, tanpa tahu kehidupan seperti apa yang akan kujalani setelah lulus nanti.. Meski sudah kujalani sampai saat ini, terkadang rasa menyesal masih membayangiku.
Seiring waktu aku mulai menyesuaikan diri. Setidaknya aku mencoba untuk itu.
–00-
Suara azan subuh terdengar bersahut-sahutan di kejauhan. Aku terbangun dengan mata berat. Baru pukul 12 malam aku selesai mengecek semua jawaban ulangan siswa dan menyiapkan materi untuk pembelajaran esok hari. Efeknya, subuh ini aku terbangun dengan rasa kantuk yang masih menggantung. Rasanya seperti ada batu yang menimpa mataku. Dengan langkah terhuyung,aku keluar dari kamar. Ku sambar handuk di dekat pintu kamar mandi. Perlahan melangkah ke dalamnya. Dinginnya air di subuh ini kuharap mampu mengembalikan kesegaran tubuhku.

Selesai mandi, segera kulaksanakan ibadah salat subuh. Kulanjutkan dengan membaca Alquran. Itulah ajaran ibu dari kecil yang masih tetap kujalani meski aku tinggal berjauhan dengan keluarga. Setelah berganti pakaian, aku keluar kamar. Dapur adalah tujuanku. Ternyata air dingin tak cukup mempan untuk kantukku. Sepertinya pagi ini aku butuh banyak minum kopi.

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan angka 06.30. Aku bergegas bersiap dan mengambil tas berisi buku yang telah kusiapkan dari semalam. Sekolah tempatku mengajar tidaklah jauh. Namun, kondisi jalan rusak dan terkadang berlumpur saat musim hujan sedikit menghambat perjalananku. Setiap hari aku harus berangkat lebih pagi agar sampai di sekolah sebelum bel masuk berbunyi.

Aku adalah seorang guru sekolah dasar di sebuah kampung. Hampir 5 bulan sejak aku lulus CPNS, aku ditempatkan di sini. Awal sekali ,sejak aku datang ke sini, rasanya aku ingin langsung pulang. Aku langsung terbayang seperti apa sinyal hp saat aku menonton drakor kesukaanku. Tentu tidak akan ada malam mingguan seperti halnya kebiasaanku dengan teman-teman kampusku dulu. Aku tak bisa go-food saat tiba-tiba aku ingin makan burger atau bakso langgananku. Jelas kondisinya berbeda dengan kota tempat tinggalku.
Sempat kuutarakan niatku untuk mundur. Tapi keluargaku terus membujuk untuk tetap bertahan. Katanya akan banyak pengalaman yang akan kudapati di sini. Aku harus belajar untuk mandiri dan lebih dewasa menyikapi hidup. Kuharap mereka benar akan hal itu.

Gerbang sekolah sudah di depan mata. Terlihat Pak Harun, satpam sekolah, berdiri di balik pintu pagar bersiap-siap menarik pintu gerbang.
“Assalamualaikum, Pak Harun!,” Sapaku sambil tersenyum.
“Waalaikumsalam, Bu Intan!,”Jawab Pak Harun tak kalah ramah.
Segera aku menuju tempat parkir yang terletak di bagian kanan gerbang. SD ini tidaklah terlalu besar. Selain bangunan utama berupa ruang kepala sekolah dan ruang dewan guru, terdapat juga gedung yang difungsikan untuk perpustakaan dan musala. Lalu, ada 6 kelas yang dibangun berderet yang menghadap ke bangunan utama. Ada taman-taman kecil di depannya. Warna-warni bunga menambah kesan asri bagi sekolah yang terletak di areal perkampungan ini.

Sesampainya di ruang guru, banyak guru yang terlebih dahulu tiba. Aku kembali menyapa mereka dengan salam. Sedikit bertanya basa-basi dengan guru-guru senior. Setidaknya aku sadar diri sebagai guru baru yang paling junior harus belajar mengakrabkan diri dengan yang lain.
Masih ada waktu 10 menit menjelang bel masuk berbunyi. Kubuka Kembali catatan ujian siswa yang telah kuperiksa semalam. Kutelusuri Kembali satu persatu nama siswa agar tidak ada yang keliru. Begitu sampai di nama terakhir, bel masuk jam pertama berbunyi. Akupun bangkit, bersiap masuk ke kelas.

–00—
Bel kembali berbunyi. Kali ini lebih panjang menandai jam pelajaran telah usai. Aku kembali bergegas menuju kantor guru. Sejak keluar dari ruang kelas, mataku terngadah ke langit. Nampak awan hitam mulai menutupi langit. Pasti sebentar lagi hujan akan turun, batinku. Kupercepat langkahku.
Sesampainya di parkiran, ku buka bagasi motor. Ternyata aku lupa memasukkan kembali jas hujan setelah beberapa hari yang lalu kujemur setelah kugunakan saat hujan. Semoga aku tidak kehujanan di jalan, harapku cemas.

Harapanku tidak terkabul. Baru 500 meter aku keluar dari gerbang sekolah rintik hujan mulai jatuh perlahan. Kupelankan laju motorku dan tak jauh dari situ terlihat sebuah kios kecil yang masih tertutup. Akupun berteduh.
Kuperhatikan jalanan. Beberapa pengendara lain tetap melanjutkan perjalanan. Meski bukan hujan lebat,tetap saja aku akan kebasahan tiba di rumah jika memaksakan diri. Meski sedikit, efeknya tetap akan kurasa karena aku alergi dengan dingin. Kupikir tidak salah menunggu hujan reda. Toh, setelah ini tidak ada banyak deadline tugas yang harus kukerjakan di rumah.

Langit masih gelap. Semilir angin berhembus, menusuk ke tulangku. Aku memeluk tubuhku, berharap untuk tetap hangat. Saat kupalingkan mukaku ke kanan, kulihat seorang gadis kecil berjalan pelan sambil menyeret karung besar ditangannya. Ia nampak kesusahan.
Spontan mataku memindai kondisinya. Kuperhatikan alas kakinya. Aku meringis saat membayangkan bagaimana rasanya berjalan dengan kondisi sandal yang tapaknya sangat tipis. Lalu, mataku mengarah ke pakaiannya. Celana panjang dan kaos panjang yang tak jelas lagi warnanya. Belum lagi, sobekan-sobekan kecil di kerah kaosnya. Menambah rasa iba di hatiku.
Tanpa kusadari, dia semakin dekat berjalan ke arahku. Mata kami bertatapan. Aku sedikit tersentak saat kulihat pendar biru di bola matanya. Mataku terus menatapnya , seakan aku tersedot masuk ke birunya manik mata si gadis kecil.
Saat gadis itu tepat berada di depanku. Kesadaranku akhirnya kembali. Aku mengerjap perlahan. Lalu mencoba tersenyum.

“Adek, dari mana?”, Tanyaku.
“Dari kebun,”Jawabnya.
Sambil melihat karung yang dipegangnya aku kembali bertanya, “Itu apa?”.
“Itu singkong, Kak,” Gadis itu Kembali menjawab. Aku mengangguk pelan.
“ Jadi kamu baru panen singkong di kebun?”,Aku bertanya lagi.
“Saya membantu Wak Limah di kebun tadi, itu dikasih untuk dibawa pulang”,terangnya.

Aku terdiam. Lama kupandang wajahnya. Jika tak salah kira, dia kutaksir berumur 10 tahun, masih usia sekolah. Pikiranku semakin mengelana. Kalau pagi tadi dia membantu orang bernama Wak Limah di kebunnya, tentu dia tidak bersekolah bukan?

“Kamu tidak bersekolah?”,Aku semakin penasaran.
“Saya ga sekolah, Kak”,Jawabnya lirih.
Aku semakin terenyuh. “Ke..kenapa?” Tanyaku terbata.
“Setiap hari saya harus bantu-bantu di kebun Kak agar dapat uang untuk beli beras”, Katanya,” Mamak lagi sakit di rumah,ga bisa kerja lagi”,Dia Kembali menjelaskan.

Aku mematung mendengar penjelasannya. Aku ingin kembali bertanya, tapi mulutku terbuka tanpa ada kata yang bisa kukeluarkan. Tenggorokan ku tercekat. Mataku terasa panas. Dan perlahan rasa hangat mengalir di pipiku. Aku terus memandangnya. Mencoba menilik kembali ke manik berpendar biru. Aku menyelami seberat apa hidup yang telah dilaluinya. Hatiku kembali sesak, saat kulihat dia tersenyum dan jelas terlihat sekuat apa dia bisa menjalani hidupnya selama ini. Lalu kuusah pelan rambutnya. Kubalas senyumnya dengan air mata terus mengalir di wajahku.

Ku arahkan mataku ke atas. Langit sudah tak segelap tadi. Rintik hujan pun sudah berhenti. Aku menoleh ke si gadis kecil. “Rumahmu di mana?”,Tanyaku.
“ Kami tinggal di kios ini, Kak.”, Jawabnya sambil menunjuk kios yang tertutup sejak tadi. Dahiku berkerut dengan fakta itu. Perlahan dia mendorong pintu yang tak terkunci. Tatkala pintu terbuka, kuliat seseorang sedang tertidur di atas kasur tipis yang ada di ruang kecil itu. Aku sedikit terhenyak dengan kondisi ini. “Mamak pasti sedang tidur,”Jelasnya tanpa kutanya.

Gadis itu lalu masuk. Tanpa diperintahkan kakiku pun ikut melangkah sendiri lebih dekat ke sosok yang sedang tertidur. Kuperhatikan kondisinya, lalu mataku menelisik ke seluruh ruangan kios. Hanya ada sebuah kasur tipis yang sedang ditiduri dan selembar tikar yang terlipat di sudut ruang. Di sisi yang lain, sebuah kompor kecil dan wajan yang terletak di atasnya serta peralatan makan seadaanya. Gadis kecil itu sedang membuka bungkusan yang kuyakini berisi nasi. Setelah menaruhnya di dalam piring,lalu menghampiri ibunya. “ Mak, Bangun dulu, makan!”,Perlahan dia membangunkan ibunya. Ibu itu mulai membuka mata setelah gadis itu berulang kali menggoyangkan lengannya. Dengan sigap ia mendudukan ibunya sambil meletakkan bantal di punggung.
Gadis itu mengulurkan gelas berisi air ke tangan ibunya sebelum kemudian menyuap nasi sesuap demi sesuap pada mulut ibunya.

Dalam diam aku merekam pemandangan itu. Lalu pikiranku mengelana jauh ke masa kecilku. Masa-masa aku bermain lompat tali dengan teman-teman mainku. Memori masa kecilku seperti meloncat keluar satu persatu. Saat aku tertawa dengan teman sekolahku. Ketika ibu menyuapkan nasi karena aku tak mau melewatkan film kartun yang selalu kutunggu jam tayangnya. Masa aku kabur saya ibu memintamu membantunya cuci piring. Aku tersenyum dengan air mata kembali jatuh.

“Kak?” Panggilnya.
Aku terkejut mendengar dia memanggil secara tiba-tiba.
“Kakak tidak pulang?, kayaknya ujan mau turun lagi”,Katanya sambil melihat ke arah luar.
Sambil bangkit dari duduk aku tersenyum.
“Ya, udah, Kakak pulang sekarang”,Kutundukkan sedikit kepala kearah si ibu tanda menyapa. Setelah berpamitan aku langsung keluar. Gadis kecil itu ikut mengantarkanku ke depan. Aku membuka tas mengambil kunci motor yang tadi kusimpan. Perlahan kubuka dompet. Alhamdulilah beberapa hari yang lalu aku sempat ke ATM yang ada di kampung sebelah. Di kampung tersebut fasilitas publik sedikit lebih baik. Uangnya baru kupakai sedikit. Tanpa menghintung lembarannya,langsung kukeluarkan.
Kuraih tangan si gadis kecil dan kuletakkan uang itu. Dia sedikit terkejut dengan tindakanku. Aku tersenyum sambil berkata,”Untuk beli obat mamak ya!”. Dia menatapku agak lama langsung mengangguk pelan.

Kuhidupkan motor lalu melaju dengan perlahan. Udara dingin masih cukup terasa, tapi entah kenapa hatiku terasa hangat. Aku tersenyum teringat pesan keluargaku. Sepertinya firasat mereka benar.Rasanya aku tidak terlalu keberatan lagi ditugaskan di kampung ini. Tak lama kemudian aku teringat kalo aku lupa menanyakan nama si gadis kecil. Aku tak mungkin berbalik ke tempat tadi. Tiba-tiba terlintas di pikiranku sebuah ide. Akupun tersenyum. Sepasang manik biru. Ya, itulah sebutanku untuknya.

Banda Aceh
3 April 2021

Views All Time
Views All Time
10
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY