SERBA-SERBI PERJALANAN PELAIHARI-KOTABARU-2019. Bagian 1. Kota Batulicin dan Tambang Batubara

0
25

Perjalanan penulis bersama Yuliansyah,M.Pd dan  Supian, S.Pd dari Pelaihari, Tanah Laut ke Kotabaru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan banyak mendapatkan pengalaman dalam perjalanan menempuh jarak sekitar 240 kilometer.  Perjalanan tersebut melewati satu kabupeten saja,yakni Kabupaten Tanah Bumbu, namun jarak tempuhnya ratusan kilometer. Kotabrau merupakan Ibukota Kabupaten Pulau Laut, namun masyarakat mengenalnya dengan sebutan Kabupeten Kotabaru, sehingga nama Pulau Laut kurang terdengar.

Asalnya dulu sebelum pemekaran, Tanah Bumbu yang berada di daratan Pulau Kalimantan merupakan bagian dari Kabupaten Pulau Laut, sehingga Kabupaten Tanah Laut berbatasan langsung  dengan Kotabaru atau Pulau Laut. Tanah Bumbu kini berkembang pesat meski usianya relatif muda, bahkan dapat dibilang melampaui kabupaten induknya sendiri, Kotabaru.

Bagi penulis, pertama kali ke Batulicin, Ibukota Tanah Bumbu, sekitar tahun 1991. Saat itu Batulicin hanyalah sebuah kecamatan dari Kabupaten Kotabaru. Kondisinya masih sepi, tidak ada gedung bertingkat, banyak lahan kosong, dan sebagainya. Saat itu, penulis menyeberang ke Kotabaru dari pelabuhan kapal Batulicin yang dermaganya masih dari kayu ulin. Penulis bersama kawan saat itu menyeberang ke Kotabaru dengan menggunakan speedbord yang berisi maksimal 4 orang. Belum ada kapal ferry penyeberangan seperti sekarang ini.

Kemudian, penulis kembali datang ke Batulicin sekitar tahun 2008, saat ada kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka peringatan hari otonomi daerah yang dipusatkan di Batulicin, Tanah Bumbu saat itu.

Mengutip laman berita Banjarmasin tribunnews.com tanggal 13/8/2019 tentang Kisah Bibalik Berdirinya Tanah Bumbu, disebutkan bahwa Tanah Bumbu merupakan inisiator lahirnya undang-undang desa. Kabupaten tanah Bumbu resmi terbentuk pada 8 April 2003. Pada awalnya berdiri, hanya ada 5 kecamatan dan 112, kini sudah menjadi 10 kecamatan dan 144 desa (https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/08/13).

Setelah sekian lama tidak melihat langsung Kota Batulicin, maka saat penulis melakukan perjalanan ke Kotabaru bersama Yuliansyah, M.Pd dan Supian, S.Pd dalam rangka persiapan kunjungan MKKS SMP Tanah Laut pada 20 September 2019 nanti, maka saat di Batulicin penulis melihat dari dekat bagaimana kemajuan Ibukota Tanah Bumbu sekarang ini.

Perkembangan Kabupaten tanah Bumbu, terlebih Batylicin sebagai ibukotanya, memang sudah menjadi buah bibir masyarakat di Kalimantan Selatan. Perkembangannya yang relatif pesat menjadi magnet tersendiri bagi banyak kalangan, terutama bagi pelaku dunia usaha. Pertambangan batubara yang menjadi andalan utama Kalimantan Selatan, salah satunya dihasilkan oleh daerah ini, selain Kabupaten Tapin, Tabalong, Tanah Laut, dan Balangan.

Melalui hasil dari pertambangan batubara yang begitu masiv dilakukan di daerah Tanah Bumbu ini membuat perkembangan kabupaten yang baru ini melampaui kabupaten induknya dan dan sejajar dengan daerah lainnya yang telah lebih dulu menjadi daerah otonom. Jadi, tidak heran jika dalam kurun waktu yang relatif singkat, Batulicin yang dulunya hanyalah sebuah kecamatan atau bahkan desa, kini berkembang pesat menjadi kota dengan berbagai fasilitas yang mendukungnya. Kota Batulicin bertranspormasi diera otonomi, terlebih lagi dengan semakin mudahnya mengakses ke daerah, baik melalui jalan darat, lalut, maupun udara.

 

Views All Time
Views All Time
16
Views Today
Views Today
1
Previous articleLDK Sarana Mencetak Calon Pemimpin Masa Depan
Next articleNasehat Untuk Siswa, Berhati-hatilah Menggunakan Media Sosial
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY