SIKAP ILMIAH

0
6

Sikap ilmiah merupakan suatu sikap pada diri seseorang yang mau berubah, belajar, menerima masukan dan pemikiran yang bersifat membangun yang bertujuan untuk merubah, memperbaiki dan memecahkan suatu masalah dengan mempertimbangkan segala kondisi yang ada.

Pada  materi belajar yang menuntut dilakukannya sebuah eksprimen berpeluang membentuk karakter sikap ilmiah dan sikap ini akan menjadi habit apabila didukung dengan aktivitas bermanfaat yang dapat memunculkan sikap ilmiah. Seringkali dalam proses pembelajaran sikap ilmiah ini tidak muncul pada peserta didik. Hal ini disebabkan karena beberapa sebab, diantaranya pengaruh kultur belajar pola lama yang hanya mengandalkan tulisan atau teks, materi yang disampaikan tidak menarik, guru hanya mengajarkan konsep – konsep materi, penyampaian materi yang tidak menarik dan tidak inovatif, serta tidak adanya tantangan dalam belajar.

Dalam membentuk sikap ilmiah peserta didik dapat dimunculkan dengan adanya;

  1. Peserta didik bersikap kritis

Cara berpikir tiap individu berbeda – beda, mind set yang terbentuk dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya; 1) kepribadian, 2) keluarga, 3) pendidikan, 4) sosial masyarakat.

Kemampuan berpikir kritis dapat terlihat dari cara seseorang bertanya. Pertanyaan yang muncul merupakan pertanyaan yang masuk dalam kategori berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir seseorang biasanya sudah terlihat sejak seseorang masih kecil atau balita. Dan kemampuan ini dapat dilatih dengan memberikan edukasi yang bersifat menuntut akal untuk berpikir.

  1. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi

Rasa ingin tahu yang tinggi dapat muncul apabila ada dorongan atau motivasi untuk mengetahui sesuatu kejadian atau peristiwa. Motivasi tersebut muncul apabila terjadi dalam realita yang sebenarnya. Peserta didik akan lebih mudah belajar memahami suatu peristiwa atau kejadian apabila itu bersifat realita, berada atau terlihat oleh mata kepala secara langsung, dibandingkan belajar dari suatu materi yang mereka tidak dapat menggunakan informasi tersebut dalam kesehariannya.

  1. Skeptis atau bersikap ragu – ragu

Rasa tidak  cepat menerima sesuatu , ragu – ragu akan suatu peristiwa atau kejadian, dapat melahirkan rasa ingin tahu, dari rasa ingin tahu tersebut dapat memunculkan pemikiran – pemikiran berupa rangkaian pertanyaan – pertanyaan yang menuntut jawaban. Sikap ini sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran,  sehingga materi  yang berupa persoalan – persoalan dapat terjawab dengan adanya suatu hipotesis dan ekprimen, yang menghasilkan jawaban – jawaban atas suatu ketidak pastian.

  1. Objektif

Seorang yang memiliki sudat pandang  terhadap sesuatu yang ingin dibuktikan biasanya  akan bertindak dengan cermat, teliti dan konsisten tanpa adanya intervensi dari pihak manapun. Sehingga dari hasil pengamatan di dapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan .

  1. Bersikap terbuka dan menghargai orang lain

Seseorang yang berkeinginan untuk maju akan selalu menerima pendapat dan kritikan orang lain sebagai suatu koreksi atau evaluasi atas segala pemikiran atau tindakan. Mau mendengar dan mempertimbangkan pendapat dari orang lain adalah sebagai salah satu bentuk penghargaan yang diberikan kepada orang lain.

Pembelajaran yang bersifat eksprimen seperti model pembelajaran Project Based Learning atau Problem Based Learning dapat memotivasi dan membentuk karakter peneliti pada peserta didik. Dalam model pembelajaran tersebut peserta didik selain dituntut untuk bekerja mandiri, berkolaborasi, bertanggung jawab, mengamati, menghargai pendapat, menganalisa dan memperhitungkan kemungkinan – kemungkinan yang terjadi. Bagian pembelajaran itu akan dapat memberikan dampak positif bagi peserta didik yang dapat mempengaruhi karakter peserta didik dan sikap sosialnya dimasyarakat. Sehingga diharapkan pembentukan karakter tersebut dapat menjadi habit dalam kehidupan sehari – hari.

 

 

Views All Time
Views All Time
31
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY