SINERGI ANTARA ORANGTUA DAN GURU DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK

1
31

Menyikapi dan mendukung  tulisan Bapak Maslani S. Pd di Blog IGI tertanggal 7 Januari 2019 tentang Pendidikan Berbasis Agama, bahwa memang jam mengajar di sekolah formal untuk mata pelajaran pendidikan agama dirasa kurang. Hanya dengan waktu 3 jam dan 4 jam di Kurikulum 2013 anak dituntut tidak hanya menguasai ajaran-ajaran agama tetapi juga harus mampu mempraktekkannya dan bahkan mampu menumbuhkan sifat-sifat yang diajarkan oleh  agama.

Mengajarkan ajaran agama, mampu mengamalkan sampai membentuk karakter, bukan hanya menjadi tanggungjawab guru di sekolah. Untuk hal yang sangat penting ini, kerjasama antara semua pihak yang berada di lingkungan terdekat anak menjadi sangat penting. Tanpa adanya kerjasama, tujuan pendidikan terutama pendidikan agama tidak akan tercapai. Orangtua tidak bisa mengharapkan guru di sekolah demi mewujudkan anak yang sholeh dan sholeha dengan alasan sibuk bekerja atau apapun. Guru juga tidak bisa membalikkan dengan alasan waktu orangtua dengan anak di rumah lebih banyak daripada dengan guru ditambah jam mengajar yang padat dengan berbagai tuntutan administrasi sehingga proses kegiatan belajar mengajar di sekolah hanya terbatas pada transfer ilmu dan mengenyampingkan penumbuhan nilai-nilai karakter.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2005) sinergi berarti kegiatan atau operasi gabungan. Sementara  R. Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People (Binarupa Aksara, 1994) seperti yang dikutip oleh Hernowo dalam artikelnya tiga manfaat “mengikat makna” untuk calon penulis, Covey merumuskan sinergi sebagai sebuah kerjasama yang kreatif. Sinergi berarti 1+1 yang hasilnya adalah 8, 16 atau bahkan 1600. Dapat disimpulkan bahwa sinergi adalah kerjasama yang dilakukan oleh berbagai elemen dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Sementara sinergi dalam membentuk karakter anak dapat diartikan kerjasama yang baik antara elemen-elemen yang terkait dalam pembentukan karakter anak. Elemen tersebut seperti orangtua, guru, masyarakat dan keluarga.

Proses kerjasama yang dilakukan menuntut konsistensi antara semua pihak. Proses ini tidak bisa dilakukan dengan setengah hati. Karena Pembentukan karakter harus dilakukan sebelum proses-proses yang lain. Sinergi sangat dibutuhkan untuk menghindari sikap saling menyalahkan antara setiap elemen. Konsep sinergitas dapat diterapkan dalam bentuk  nyata seperti mengatasi anak yang memiliki sifat kurang baik, orangtua dan guru bisa saling memberi laporan dan menasihati anak. Untuk mengetahui hal ini guru perlu mengetahui latar belakang keluarga anak.

Membentuk dan membina karakter anak dengan memberikan kasih sayang dan perhatian serta memperhatikan kesehatan dengan asupan makanan yang halal hendaknya dilakukan sejak lahir. Pada tahap selanjutnya anak sangat membutuhkan teladan (living model) karena ia akan mencontoh perbuatan dan tindakan orangtuanya. kemudian melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik akan melengkapi usaha dalam membentuk karakter anak. kegiatan yang selalu dibiasakan secara konsisten akan memberi pengaruh yang besar pada anak. Seperti yang ditulis oleh Abdul Munif dalam artikel yang berjudul Reinventing Nilai-nilai islam mengenai Pendidikan Guru dalam Pendidikan Karakter (Jurnal Alkaffah, Jurnal Kajian Nilai-nilai  Islami Volume 2 No. 2, Juli -Desember 2014:7) bahwa:

“pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik, sehingga siswa didik menjadi faham (domain kognitif) nilai yang baik dan mau melakukannya (domain psikomotorik), proses pembiasaan tidak akan mungkin berjalan dengan baik tanpa bantuan guru dan orangtua”.

Terakhir dapat disimpulkan bahwa dalam membina karakter anak harus dimulai sejak dini dengan perhtaian, kasih sayang. kemudian dibutuhkan teladan (living model) dan terakhir diperlukan pembiasaan-pembiasaan perbuatan baik.

TANAMKANLAH TINDAKAN, ANDA AKAN MENUAI KEBIASAAN

TANAMKANLAH KEBIASAAN ANDA AKAN MENDAPATKAN KARAKTER

TANAMKANLAH KARAKTER ANDA AKAN MENGUKIR NASIB (PROF. DR. Quraish Shihab

Daftar Bacaan

           Hernowo Hasim, Artikel Tiga Manfaat Mengikat Makna untuk Calon Penulis,  disampaikan pada tanggal 30 Sepetember 2016 pada Pelatihan Menulsi Mengalir di Raz Hotel, Medan

           Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 2006.

           Munif, Abdul, Reinventing Nilai-nilai Islam mengenai Pendidikan Guru dalam Pendidikan Karakter. (Medan: Al Kaffah, Jurnal Kajian Nilai-nilai Islami Volume 2 No 2 Juli-Deesember 2014, Komisi Penelitian dan Pengkajian Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara)

Quraish Shihab, Peningkatan Peranan dan Kualitas Pendidik Muslim dalam Pembentukan Karakter Bangsa, makalah dalam seminar nasional pembentukan karakter bangsa melalui pendidikan islam di UNS Surakarta, 3 April 2008.

Rumahq, 7/1/2019

Views All Time
Views All Time
67
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY