Sinetron dan Pesantren “Kun Anta”

0
13

Maraknya keberadaan sinetron saat ini tidak  lepas dari adanya televisi swasta yang juga makin banyak di Indonesia.

Hal ini juga memiliki dampak bagi perfilman dan perusahaan akting di nenege ini,  juga tidak terkecuali mempunyai dampak yang signifikan bagi kepribadian anak.

Kehadiran televisi swasta di Indonesia, disisi lain layak untuk di sambut dengan suka cita, karena memberi pengaruh positif kepada pemirsanya. Dengan kehadiran tayangan – tayangan yang bermutu dan layak untuk disimak. Tapi disi lain kehadiran televisi Indonesia, membawa masyarakat kepada sesuatu yang membahayakan, kehadiran acara – acara yang dulunya di tayangkan untuk hiburan, saat ini ditayangkan untuk menaikan rating, minat pemirsa, tanpa melihat sisi negatifnya dari tayangan yang telah mereka tayangkan.

Dalam menggaet segmen pemirsa, setiap stasiun televisi saling berlomba menayangkan sesuatu yang lagi menjadi trend dan banyak di saksikan oleh penonton, tidak lain hanya untuk menaikan rating mereka. Salah satu contohnya sinetron, ada beberapa dan bisa dikatakan banyak stasiun televisi di Indonesia yang sering menampilkan sinetron-sinetron yang sebenarnya itu hanya di peruntukan bagi orang tua bukan anak-anak. Namun karena jam tayang yang memungkinkan bagi anak untuk menonton, maka jadilah anakpun ikut menontonnya.

Cerita yang biasanya di angkat di dalam sinetron tersebut adalah cerita-cerita kehidupan remaja yang hidup dalam kemewah-mewahan dan kehidupan rumah tangga yang begitu kompleks yang seharusnya itu tidak layak untuk di tonton oleh anak-anak. Memang benar disini diperlukan pengawasan bagi orang tua untuk mengawasi anak-anaknya memilih acara televisi yang baik, tetapi untuk beberapa orang tua membiarkan anak-anaknya menonton televisi selama berjam-jam, dengan asumsi bahwa mereka terhibur dengan acara yang disuguhkan, tanpa memperhatikan mamfaat dan pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa dan mental anak-anaknya.

Masa anak-anak dan remaja adalah masa yang paling penting bagi perkembangan hidup manusia. Sehingga apapun yang diberikan dan diterima pada masa itu sebaiknya merupakan hal yang terbaik. Dampaknya mungkin tidak akan terasa sekarang, akan tetapi tapi beberapa tahun kemudian anak-anak yang sering nongkrong di depan televisi akan mengalami kesulitan konsentrasi. Banyak sebenarnya dampak yang akan muncul, seperti masalah kesehatan, konsentrasi, bahkan masalah moral.

Apabila dari masa anak-anak dan remaja sudah disuguhkan tayangan-tayangan yang ceritanya untuk orang dewasa itu akan mempengaruhi pandangan mereka. Betapa enaknya hidup dengan rumah yang besar dan mobil yang mewah yang bisa ia bawa kapan saja bahkan mereka bawa untuk pergi kesekolah. Biasanya tayangan – tayangan seperti itu menampilkan sisi enaknya saja tanpa dilihatkan sisi kerja kerasnya untuk mencapai hal kemewahan tersebut. Secara tidak langsung mereka akan terdoktrin bahwa hidup selalu enak dan apa saja yang kita inginkan pasti ada, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Kita harus bekerja keras dan harus selalu mensyukuri hidup, tidak boleh selalu melihat “keatas”.

Untuk melihat beberapa fakta saat ini, yang sepertinya begitu mendewakan acara televisi, mereka rela tidak ikut bahkan tidak pergi ke Masjid karena sinetron mereka sedang tayang mereka merelakan hal seperti itu tidak di jalankan, asal sinetron kesayangan mereka tidak terlewati. Mereka marah, saat pemeran utama dari sinetron kesayangannya tersakiti, mereka pun menangis, dan tertawa setiap kali pemutaran sinetron kegemarannya.

Dampak lain dari anak atau remaja yang keranjingan sinetron adalah mereka akan merasa ketergantungan dengan televisi, mereka akan malas melakukan untuk melakukan kegiatan lain selain menonton televisi. Mereka akan cenderung meniru apa yang mereka lihat di tayangan televise atau sering dikatakan para psikolog‘what they see is what they do’ (apa yang mereka lihat adalah apa yang mereka kerjakan).

Bercerita tentang sinetron yang saat ini lagi di gandrungi anak-anak dan remaja adalah sinetron “Kun Anta” maka di sukai atau tidak akan memiliki dampak yang sangat berpengaruh bagi kepribadian anak baik di rumah maupun di sekolah.

Ada aktor yang memiliki karakter  baik dan sopan tentu akan menjadi panutan dan bisa ditiru oleh anak.  Akan tetapi ada juga aktor yang memiliki karakter tidak baik,  jahil dan suka mengganggu orang lain tentu akan menjadi contoh tidak baik juga bagi seorang anak.

Keberadaan pesantren dalam mendidik santriawan dan santriawati memiliki peran yang sangat penting untuk terus dijaga dan dipelihara tradisi kajian kitab kuning dan kitab klasik lainnya,  tentu dengan tidak melupakan kajian buku-buku modern.

Seorang Santri setelah tamat di bangku pesantren akan dihadapkan dengan kehidupan yang lebih konflik,  sehingga keberadaan ilmu pengetahuan selain agama juga wajib di kaji oleh seorang santri.

Mencermati keberadaan pondok pesantren Kun Anta dalam sinetron tersebut tentu yang lebih banyak diperlihatkan sisi kehidupan Santri kesehariannya yang memiliki perilaku saling menjelekan,  menjatuhkan.  Tidak lebih banyak menyoroti sisi sebuah pesantren yang memberikan informasi positif bagi masyarakat penonton terhadap eksistensi pesantren modern.

Akhirnya semua ini akan berpulang kepada orangtua di rumah dan seorang guru di sekolah untuk memberikan pencerahan terhadap tayangan sinetron tersebut,  juga tayangan-tayangan acara atau program televisi yang lainnya.

Disinilah peran orangtua dirumah menjadi teman bagi anak-anaknya mendampingi dan memberikan pencerahan terhadap apa yang mereka lihat dan saksikan di layar kaca.

Pelaihari,  02 Pebruari 2019

Views All Time
Views All Time
19
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY