Beritanya sontak membuat geger netizen di media sosial. Seorang wanita berseragam PNS berdandan ala boneka Barbie. Fotonya sengaja saya pasang pada postingan artikel saya hari ini. Maksudnya biar gurusianer yang menilai.  Selain itu, bagi yang belum tahu beritanya, tidak perlu repot-repot klik sana,klik sini mencari fotonya. Kecuali yang penasaran kelengkapan beritanya.

(Lanjutkan membaca,silakan merapat ini menarik untuk kita diskusikan)

SKB 3 Menteri VS PNS yang Berdandan Ala Barbie

Viralnya berita Wanita Berseragam PNS berdandan ala Barbie, hampir sama dengan viralnya berita SKB 3 Menteri dengan Nomor 02/KB/2021, Nomor 025-199 Tahun 2021, dan Nomor 219 Tahun 2021 Tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut Bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah yang Diselenggarakan Pemerinta Daerah Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Yang jadi sorotan seragamnya.

Dalam keputusan tersebut, poin ke dua berbunyi Pemerintah daerah dan sekolah memberikan kebebasan kepada peserta didik, pendidik,dan tenaga kependidikan untuk memilih menggunakan pakaian seragam dan atribut sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU.

Tentu saja saya menganjurkan kepada rekan gurusianer untuk membaca dan mempelajari SKB 3 Menteri itu secara utuh sampai khatam, supaya tidak terjadi kesalah pahaman dalam menafsirkannya.

Tanggapan Siswa dan reaksi Guru Terhadap SKB 3 Menteri

Keputusan 3 Menteri ini dibuat ketika Proses Belajar Mengajar (PBM) dilaksanakan secara daring.  Saya yakin siswa kita telah mengetahui hal ini. Berita viral menjadi santapan mereka setiap hari. Nah, yang saya khawatirkan adalah ketika siswa back to school, PBM dilaksanakan normal seperti sebelumnya, Siswa datang ke sekolah dengan dandanan seperti yang dilakukan oleh wanita yang beritanya viral tadi. Bagaimana reaksi guru?

Sampai paragraf ini, entah mengapa saya jadi baper ketika menulis artikel ini. Jujur saja saya menulis sambil berkaca-kaca. Mungkin karena saya terlalu dalam membayangkan sebuah adegan, dimana guru menegur siswa karena dianggap melanggar peraturan dalam hal pakaian seragam.

Siswanya tidak terima. Dengan lantangnya dia berkata, ” Bu,Pak, masa sih belum baca SKB 3 Menteri,Kudet amat”. Duaaarrr!!! Bagai petir menyambar di siang bolong. “ Harap Ibu dan Bapak tahu ya, kami sebagai siswa sekarang diberikan kebebasan untuk mengenakan seragam sesuai dengan yang kami mau. Atau bapak dan ibu mau saya ajukan kepengadilan?”.  Masya Allah… batin saya. Masih belum puas sampai di situ, dia melanjutkan ocehannya eh argumennya. “ yang melanggar peraturan itu,Bapak,Ibu atau saya?”.

Di satu sisi, SKB 3 Menteri ini, membuat siswa lebih percaya diri ( baca : percaya diri untuk melawan gurunya). Karena ada kekuatan hukum. Di sisi lain guru merasa tidak berdaya, ketika mengambil tindakan untuk memberikan sanksi. Hal ini sudah terbukti dengan melihat latar belakang terbitnya keputusan ini.

Untuk meminimalisir kejadian yang tidak diharapkan,terkait dengan SKB 3 Menteri ini, alangkah lebih baiknya pihak sekolah segera mengambil sikap dengan melakukan  musyawarah dengan melibatkan orang tua siswa dan perwakilan siswa di masing-masing tingkatan  lembaga pendidikan Sehingga terjadi kesepakatan yang diterima oleh semua pihak.

Sebenarnya masih ada hal yang lebih penting daripada aturan seragam.  Yaitu mewujudkan tujuan pendidikan Nasional. Sampai kapan pun tujuan ini tidak akan tercapai apabila Peningkatan mutu pendidikan hanya sekedar wacana di atas kertas. Ditambah dengan terbitnya aturan yang menimbulkan polemik.  Semoga bermanfaat. Salam literasi.

Views All Time
Views All Time
33
Views Today
Views Today
1

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY