Social Education “Piluhnya Sebuah Penghianatan”

0
11

PILUHNYA SEBUAH PENGHIANATAN
Pengkhianatan bukan sekedar melukai perasaan, melainkan juga akan meruntuhkan sebuah kepercayaan.

Jika sebuah kepercayaan telah dihancurkan, jangan pernah mengharapkan kesempatan kedua yang akan memutar balikkan keadaan.

Pagi itu,seperti hari-hari sebelumya setiap hari harus berlomba dengan waktu, agar dapat tiba pada tujuan dengan tepat waktu. Beraktifas, menjalankan amanah sesuai dengan janji dan sumpah yang telah terlontar kala itu. Sungguh suatu anugrah yang tak bisa di beli dengan apapun.Apalagi ketika menyaksikan raut wajah mereka-mereka yang duduk di bangku antrian menyambut mereka dengan senyum simpul yang di baliknya tersimpan banyak makna dan harapan. Semangat untuk bekerjapun semakin membuncah menggelitik naluri hati untuk langsung bertatap muka dan berbincang dengan mereka.
Protap pada setiap lembagapun dilaksanakan sebagaimana mestinya, Di tempat inipun juga demikian, satu per satu mereka mendengarkan nama di sebut untuk mendapat pelayanan. Keluhan-keluhan, rasa sakit beruntun di sampaikan. Tentu berharap keluhan itu akan tertangani dengan baik dan nantinya tawa sumringah ada tersungging di bibir mereka.
Seiring berjalanya waktu hantaman keras melanda negeri kita, ada wabah pandemi yang menyerang semua titik di muka bumi ini. Dan tak luput negeri kita tercinta ini , Indonesia. Setiap daerah berjuang untuk masyarakatnya agar dapat terhindar dari virus ini. Berbagai macam upaya di lakukan oleh pemerintah untuk menyelamatkan warganya. Tapi nasib berkata lain, masyarakat pun terinfeksi, rumah-rumah sakitpun menyiapkan segala macam peralatan untuk menangani pasien ini. APD bagi para tenaga medis jugapun tak luput di siapkan walaupun seadanya saja sesuai kemampuan RS itu dan kemampuan daerah masing-masing untuk antisipasi awal. Waktu demi waktu berlalu.. pasien semakin banyak, kemampuan tenaga medispun juga terbatas. Di luar sana, pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan untuk menghentikan penyebaran covid 19 ini, membantu masyarakat dengan membagikan masker, menyiapakan alat pencuci tangan di berbagai tempat dengan handsanitizer, bahkan beberapa daerah sekarang ini memberlakukan PSBB, agar virus tidak semakin menyebar. Mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang, semuanya harus berdiam di rumah, tak ada yang boleh keluar rumah, anak sekolah harus BDR,orang yang bekerja diluar selama ini harus WFH. Kehidupan berubah drastis.
Tapi kemampuan psikologi manusia untuk bertahan di rumah tak sejalan dengan kemauan dari pemerintah, banyak yang harus keluar rumah untuk bekerja dengan sesuap nasi. Tak masaalah yang penting mereka bisa mengindahkan aturan-aturan bila bekerja di luar rumah.
Ironisnya yang menjadi fenomena diluar sana, bukan semuanya yang bekerja yang berkeliaran di luar sana, tapi ternyata banyak yang merasa bahwa sudah bosan stay at home, sudah jenuh harus berputar di sekitar rumah, akhirnya keluar rumah, janjian dengan teman-teman, kerabat, bahkan ngumpul sambil makan-makan, ngerayain ulang tahun dll. Sungguh sebuah situasi yang membuat hati yang telah berjuang selama ini untuk taat stay at home, menangis menyaksikan semuanya itu via medsos dan TV.
Bahkan sejak satu persatu tenaga medis gugur dalam menangani pasien ini hati saya terenyuh, sampai setiap saat selalu update berita, berharap tidak ada lagi yang gugur di balik tragedi ini. Pernah di suatu waktu karena mirisnya mendengar informasi dan menyaksikan via TV and medsos barisan PPNI memberikan penghormatan terakhir bagi sahabat-sahabat mereka,rekan kerja mereka yang harus kehilangan nyawa, sayapun melontarkan pertanyaan bodoh kepada rekan sekerja saya, bahwa kenapa dokter itu yang wafat? Kenapa perawat itu yang meninggal ? ( sedang mereka kan dokter,,mereka kan perawat) harusnya bukan mereka yang meninggal? Sampai sayapun bermohon ke teman seorang dosen yang hobby menulis dan menshare di media setiap tulisan-tulisannya untuk menulis juga tentang para dokter yang gugur dalam menangani C19, berharap agar orang-orang yang masih menyepelekan C19 bisa sadar dan menghargai perjuangan para medis ini. ..( Nah sadar kah kita semua bahwa di balik perjuangan mereka merawat pasien C19, mereka mengorbankan segalanya.)
Hari ini, 17 Mei 2020, saya pun membaca sebuah catatan hati seorang dokter :
“Setelah beberapa bulan selama masa pandemi, lalu “nge-kos” di RS, setelah melewati beberapa kali masa Up and Down karena khawatir dan kangen suami (yang terpisah di Jakarta), anak yang jg beda kota, si bungsu yang sekota tapi tak bisa dipeluk bebas, orangtua dan saudara di rumah. Tadinya saya melihat TS Dokter saya yg diposting foto ketika rindu pulang dan hanya melihat orang-orang tercinta dari teras rumah, tidak disangka itu saya alami sendiri. Rasanya pengen nangis bombay. Karena saya meyakini, tempat teraman sejauh ini untuk saya sbg Dokter adalah berada di Ruang Perawatan Isolasi COVID-19 Rumah Sakit kami karena saya setidaknya tahu gambaran apa yg saya hadapi, dan tempat teraman bagi keluarga saya adalah Tetap di Rumah. Dan bukan hanya saya yang menjalaninya, perawat-perawat kami, nakes lainnya juga menjalaninya, bahkan cleaning service dan security kami. Kenapa? Bukan hanya karena kami terikat sumpah. Tetapi karena KAMI PERCAYA PADA KALIAN!
Kami menaruh harapan pada kalian…
Percaya pada kalian para pakar dan pengambil keputusan!!!!
Tetapi kemarin ketika melihat antrian dan desak-desakan di Bandara Soekarno Hatta…. Perasaan yang muncul adalah:
Bingung : siapa yang bertanggung jawab jika muncul Cluster Soetta? Cluster McD Sarinah?. Dan Cluster2 ini mau tidak mau bisa jadi tiba di Kota kami, akibat ketidaktegasan prosedur.
Setidaknya kami masih bersyukur, Pemimpin di Papua masih memegang teguh ketegasan itu. Terimakasih.
Mohon tidak ada manusia2 lain dari luar dengan alasan apapun yg masuk ke Papua selama Pandemi ini. Jumlah kita sedikit, RS kita sedikit, SDM Nakes kita sedikit, fasilitas kita terbatas….Kita hanya bisa saling jaga!
Merasa dikhianati : Kami Garda paling akhir, kami Benteng Terakhir….kami begitu percaya pada para pengambil keputusan untuk memutus mata rantai penyebaran sebelum sampai kepada kami! Kami percaya!!!!
Tapi sekarang, bahasa kasarnya: kalian mau celakakan kami di RS/Faskes dengan mengirim tsunami pasien akibat kebijakan ini?
Bolehkah kami pulang saja ke rumah? bersama keluarga tercinta kami, bisa memeluk orang-orang yang dicintai, berbuka puasa bersama bahkan insya Allah berlebaran bersama??? Bolehkaaah???
Pandemi ini ibarat Perang. Ketika ada yg berkhianat, maka akan banyak yang jd korban. Miris!!
Awal ketika memutuskan”nginap” di RS dan fokus dengan Pandemi ini, bukan krn ingin penghargaan, materi dan lainnya.
Alasannya hanya:
Kami harus bergerak dan mengambil peran mencegah COVID-19 tiba di depan rumah kami, bertemu dengan orang-orang tercinta kami dalam wujud Belanjaan Ikan, Belanjaan Sayur, dan lainnya. Harus mau mengedukasi dan dengan ijinNya merawat sampai sembuh.
Semakin cepat badai ini berlalu, maka kami bisa berkumpul dengan suami, anak-anak, orangtua, saudara.
Itu saja!!!!
Mungkin sudah saatnya kami yang Stay at Home….Dr lilya wildhani

Jika foto wajah seorang dokter yang berjuang merawat pasien covid 19 tidak menyentuh hatimu, menggerakkan pikiranmu, dan membulatkan tekadmu untuk mencari jalan terbaik menghentikan laju penyebaran corona – di level manapun Anda, dan dengan cara apapun yang pantas untuk Anda – maka…. selamat untuk Anda..selamat atas padamnya cinta dan nurani kemanusiaan Anda…( foto/Artikel : Subaer Junaedi)

Bagaikan sebuah cerita sinetron tetapi ternyata ini sebuah kenyataan yang terjadi di negeri tercinta kita ini, Kepercayaan tenaga medis itu hilang, ikatan yang berusaha di bangun dengan susah payah selama mereka bertugas di RS bisa hancur seketika menyaksikan fenomena yang mereka anggap bahwa ini sebuah penghiatan kepada mereka. Ibarat peribahasa “ Nila setitik hancur susu sebelanga. Rusaklah semua yang sudah mereka percayakan karena sebuah kesalahan pelonggaran yang begitu fatal. Hati mereka menangis, Jiwa mereka berontak, Kalimat kasar yang tak sepantasnya keluar dari bibir mereka akhirnya dengan berat hati mereka, menuliskan kata hati mereka akibat dari rasa kecewa, mereka di khianati dengan objek yang mereka saksikan sendiri.
Tak bisa lagi berkata-kata, tak bisa lagi berbuat hanya kalimat terakhir yang mereka tulis :
“MUNGKIN SUDAH SAATNYA KAMI YANG STAY AT HOME”

Salam hormatku untukmu para pejuang C19
By; lenylince136@gmail.com (Tana Toraja)

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY