Stop Bullying Perasaan

0
10

Menarik sekali tulisan Mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Nanda Sulistyowati  yang berjudul “Apa KabarJiwa Yang Dibanding-bandingkan?” yang di unggah di Media Online Kompasiana.com pada tanggal 18 Februari 2020. Dia menceritakan tentang pengalaman pribadinya saat berada di bangku sekolah dengan toturan seadaanya.

“Kejadian ini terjadi saat saya sedang duduk di kelas sebelas sekolah menengah atas. Dihari itu perasaan saya baik-baik saja, saya mensyukuri prestasi yang saya capai selama ini, meskipun belum memberikan rasa kepuasan tersendiri. Tapi, setelah saya bertemu salah seorang guru saya disekolah, saya langsung merasa down”. 

dalam narasinya, dia menceritakan adanya oknum guru yang membandingkan dia dengan siswa-siswi yang berprestasi dalam berbagai bidang akademik maupun non akademik, padahal sesunguhnya setiap orang memiliki “prestasi” yang berbeda dan hal itu harus dihargai sebagai sebuah prestasi bagi dirinya.

Memang benar, secara psikologis seseorang siapapun dia, anak-anak atau bahkan orang dewasapun jika dibanding-bandingkan dengan seseorang lainnya akan merasakan sesuatu yang tidak nyaman “sakit hatinya”. Apalagi bagi seorang siswa yang jiwanya masih tidak labil hal ini bisa dikategoorikan sebagai kategori bullying “perasaan” dalam bentuk verbal (kata-kata yang menyakitkan hatinya}.

Coba kita cermati pengertian Bullying berikut ini. Bullying berasal dari bahasa Inggris (bully) yang berarti menggertak atau mengganggu. Banyak definisi tentang bullying ini, terutama yang terjadi dalam konteks lain ( tempat kerja, masyrakat. komunitas virtual), namun penulis akan membatasi dalam school bullying. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2001) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif kekuasaan terhadap
siswa yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/kelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut.
Mereka kemudian me gelompokkan bullying ke dalam 5 kategori:
a. Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, mencubit, mencakar, juga
termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimliki orang lain).
b. Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan,
mengganggu, memberi panggilan nama (name–calling), sarkasme,
merendahkan (put-down), mencela/mengejek, mengintimidsi, mengejek,
menyebarkan gosip)
c. Perlaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah,
menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam,
biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal).

d. Perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi
persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan,
mengirimkan surat kaleng).
e. Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).

Memang secara kasat mata kita tidak menpungkiri ada sebagian oknum tertentu baik guru maupun siswa sendiri yang melakukan bullying terhadap siswa yang lain, akan tetapi yang lebih membekas adalah bullying perasaan ini. Oleh karena itu, sebagai praktisi pendidikan tentu hal ini harus ditegah sejak dini dan tidak menjadi sebuah budaya dan merusak sebuah tatanan pendidikan yang memiliki tujuan mulia mendidik anak bangsa menjadi generasi yang hebat dan memiliki karakter tinggi.

 

 

 

Views All Time
Views All Time
27
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY