STOP ! KEKERASAN DI SEKOLAH

0
6

Baru-baru ini, dalam sebuah tayangan berita dari BPost Online (BANJARMASINPOST.CO.ID)  yang menanyangkan vedio  dan  memberitakan mengenai vedio guru injak bahu siswa yang viral di media sosial. Kejadiannya, seorang guru pada salah satu SMA negeri di Karangasem memberikan hukuman push up kepada siswa yang rambutnya panjang dan tidak rapi.

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh koran Banjarmasin Post, Sabtu, tanggal  30 Maret 2019, dengan judul “ Kekerasan di Sekolah Masalah Kronis Pendidikan Kita” oleh Moh. Fajaruddin Atsnan,  memaparkan tentang wajah dunia pendidikan kita yang kembali tercoreng oleh tinda kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru pada salah satu sekolah di Kota Yogyakarta.

Guru merupakan pendidik dan juga menjadi sosok penegak disiplin siswanya dalam proses pendidikan di sekolah. Olehs sebab itulah, maka guru dibenarkan memberikan peringatan dalam batas yang wajar dan mendidik kepada siswa yang melanggar aturan di sekolah agar  tidak mengulangi perbuatan yang tidak dibenarkan oleh aturan dan ketantuan yang berlaku. Kemudian, sebagai guru sebagai  profesional  berkewajiban merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta tugas yang diamanatkan oleh sekolah lainnya. Keberhasilan proses pembelajaran di kelas sangat tergantung dengan guru itu sendiri dalam merencanakan dan mengemas suatu proses pembelajaran. Bahkan dapat dikatakan bahwa ‘hitam-putihnya’ proses dan hasil pembelajaran sangat tergantung pada tangan guru itu sendiri.

Sebagai profesional, maka guru tentunya tidak akan  bertindak diluar kaidah yang menjadi batasan dan etika profesinya. Jika dengan terpaksa guru menjatuhkan sanksi atau hukuman yang dijatuhkan kepada siswa, maka sanksi atau hukuman tersebut  bersifat mendidik dan mengingatkan atas kesalahannya, sehingga dikemudian hari tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut. Guru yang menjatuhkan hukuman yang bersifat fisik kepada  siswanya akan berpotensi  menyebabkan penderitaan fisik maupun psikis.

Banyak cara dan alternatif yang dapat digunakan untuk memberikan ‘pelajaran’ kepada siswa yang melanggara tata tertib sekolah lainnya yang tidak menyebabkan penderitaan fisik dan psikis. Persoalannya, sejauhmana guru mampu mengendalikan dirinya untuk tidak bersikap sabar dan bertindak profesional bukan mengedepankan emosional ketika menghadapi siswa  yang melanggar atau tidak mematuhi aturan dan ketentuan di sekolah yang berlaku.

Profesionalisme guru dibangun melalui penguasaan kompetensi yang secara nyata diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaannya sebagai guru. Kompetensi penting jabatan guru tersebut adalah kompetensi bidang substansi atau bidang studi, kompetensi bidang pembelajaran, kompetensi bidang pendidikan nilai dan bimbingan serta kompetensi bidang hubungan dan pelayanan/pengabdian masyarakat. Pengembangan profesionalisme guru meliputi peningkatan kompetensi, peningkatan kinerja (performance) dan kesejahteraannya. Guru sebagai profesional dituntut untuk senatiasa meningkatkan kemampuan, wawasan dan kreativitasnya” masing-masing yang saling mempengaruhi.

Tindak kekerasan  terhadap siswa  dengan segala bentuk dan jenisnya adalah perbuatan yang dapat menimbulkan trauma bagi siswa dan besar kemungkinnya pula tumbuh rasa dendam kepada guru yang pernah melakukan tindak kekerasan tersebut. Bahkan, dalam beberapa kasus, ada guru yang dianggap melakukan tindak kekerasan kepada siswanya dilaporkan kepada pihak yang berwajib oleh orang tua siswa.

Perlukan hukuman dalam pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran? Hukuman atau apapun namanya dalam proses pembelajaran pada hakikatnya tidak dibenarkan apalagi hukuman itu menimbulkan penderitaan fisik dan psikis bagi siswa. Namun, dalam praktiknya hukuman yang dijatuhkan oleh seorang pendidik masih dapat ditolerir selama hal tersebut dalam kerangka mendidik dan memberi peringatan untuk tidak mengulangi lagi atau membuat siswa lainnya tidak melakukan perbuatan tersebut.

Hasil pendidikan yang didalam prosesnya menggunakan hukuman sebagai bagian dari proses pendidikan tersebut akan melahirkan siswa  yang memiliki kepribadian dan sikap mental pengecut dan kurang percaya diri. Siswa merupakan aset masa depan yang dalam proses pembelajarannya mendapatkan kasih sayang yang penuh dan bebas dari tekanan fisik dan psikis.

Tidak adanya hukuman dalam dunia pendidikan,  bukan berarti sekolah tidak boleh mengambil sikap dan tindakan, apabila ada siswa melakukan pelanggaran terhadap aturan dan ketentuan yang berlaku. Melalui tata tertib dan ketentuan yang berlaku di sekolah, maka sekolah dibenarkan memberikan peringatan dalam batas yang wajar dan mendidik kepada siswanya untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak dibenarkan oleh aturan dan ketantuan yang berlaku.  Sekolah merupakan institusi yang mengarahkan siswanya menjadi manusia yang berbudaya dan beradab. Semoga.

Views All Time
Views All Time
15
Views Today
Views Today
2
Previous articleGURU, FIGUR PANUTAN SISWA MENULIS
Next articleMENCARI JATI DIRI SEKOLAH INDONESIA MELALUI PROGRAM SEKOLAH PENGGERAK (PSP)
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY