SUKA TAPI BURUK UNTUKMU BENCI TAPI BAIK UNTUKMU

0
7

Oleh : Frans Hendarsah

Tidak semua yang kita anggap baik, benar-benar baik untuk kita. Sebaliknya, tidak semua yang kita benci benar-benar berakhir buruk buat kita. Bahkan tidak sedikit terjadi bahwa kesenangan dan kemanisan hidup baru kita rasakan setelah kita merasakan penderitaan dan pahitnya kehidupan. Nilai yang terkandung dibalik segala peristiwa itulah yang hendaknya menjadi fokus perhatian kita. Contoh yang bagus tentang hal ini adalah apa yang diceritakan oleh John Lettier berikut ini :

Seorang laki-laki berjalan dari satu Negara ke Negara lain. Sejak fajar, dia telah menjelajahi negeri yang tidak dikenal. Dengan berjalannya waktu, dia menjadi lebih yakin bahwa dia telah berjalan pada jalan yang salah. Dengan mengingat kembali jalur perjalanannya ini di benaknya, dia berupaya mengingat kembali apakah dia telah mengambil belokan yang keliru….Tiba-tiba dari ujung pelupuk matanya tampak seorang laki-laki yang sedang duduk dengan kepala tertunduk. Rambutnya panjang dengan baju yang kumal dan hampir-hampir saja dia tidak melihat orang tersebut karena seperti batu. Kemudian dia mendekati laki-laki yang duduk tersebut dan bertanya, “Maaf, apakah Anda baik-baik saja ?”. Tidak ada jawaban. Laki-laki ini menjadi merasa aneh dan bertanya lagi,”Apakah Anda mendengar suara saya ? Apakah Anda baik-baik saja ?”. Tetap tidak ada jawaban. Karena merasa tidak ada jawaban, akhirnya dia hendak pergi meninggalkan laki-laki tersebut. Namun ketika langkahnya belum jauh, tiba-tiba laki-laki tersebut berkata,” Jalanlah terus ke arah sana. Apabila nanti ada sungai, maka sebelum Anda menyeberanginya, ambillah sebanyak-banyaknya batu ke dalam tasmu…”, setelah itu laki-laki tersebut tertunduk kembali. “Aneh, hanya itu saja?”, sang pejalan kaki tidak habis pikir. Lalu diteruskanlah perjalanannya mengikuti arah yang ditunjuk laki-laki tersebut. Ternyata benar, di depan ada sebuah sungai dengan jembatan penyeberangannya. Teringat akan pesan laki-laki tadi, maka diambillah olehnya beberapa bongkah batu saja ke dalam tasnya. Dengan merasa berat dan lelah dia menyeberangi sungai. Akhirnya sampailah ia di seberang. Karena lelah, dia merebahkan diri ke tanah untuk beristirahat. Namun alangkah kagetnya dia ketika tasnya di taruh ke tanah, batu-batu tadi yang terasa begitu berat bergelinding keluar dan bukan sebagai batu, tapi : PERMATA-PERMATA  yang indah. Dengan perasaan menyesal, dia berujar dalam hati, “Seandainya saya mengumpulkan batu sebanyak-banyaknya …”.

Terlepas dari benar-tidaknya cerita di atas, kita bisa mengambil beberapa hikmah yang berguna bagi kita :

  1. Hidup adalah perjalanan

Seorang manusia pasti akan melewati berbagai fase kehidupan yang terus berjalan, semenjak dari bayi hingga dewasa dan tua. Tiap fase perjalanan tersebut memerlukan ilmu dan amal yang berbeda untuk menjalaninya. Bekal yang harus diberikan untuk anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Kemudian   terkadang manusia mungkin merasa bahwa dia telah salah dalam mengambil keputusan untuk perjalanan hidupnya. Sehingga merenungi kembali jalan yang telah dilalui menjadi sangat penting agar apa yang dicita-citakan tercapai dan sesuai harapan.

  1. Sesuatu yang kita anggap berat justeru bernilai tinggi

Inilah inti dari cerita di atas. Kita barangkali merasa bahwa beban yang kita tanggung saat ini terasa begitu berat, seperti orang yang membawa batu besar dan mendaki. Begitu payah kita berjalan dan melangkah. Namun dibalik itu semua,  justeru “batu-batu” itulah yang nantinya akan menjadi “batu permata” yang tidak terhingga nilainya.

Kenanglah ketika kita sekolah dulu. Setiap hari, kita harus berangkat pagi ke sekolah, belajar dari pagi sampai siang. Begitu banyak pelajaran yang harus kita pelajari dan dihapalkan, terlebih apabila ada pelajaran yang tidak kita sukai atau merasa tidak ada manfaatnya bagi kita, semuanya terasa berat dan melelahkan.  Tak ketinggalan pula dengan pola pendidikan yang sangat disiplin bahkan cenderung keras. Tapi apa yang kita rasakan kini ? Mungkin didikan ketika kecil itulah yang sangat berkesan bagi kita. Mungkin tak terbayangkan kita akan rutin mengerjakan shalat 5 waktu apabila tidak dibiasakan oleh orang tua dan guru kita sejak kecil, walaupun terkadang harus melalui cepretan lidi. Begitu pula dengan baca dan hafalan al-Qur’an. Kita pun mampu menghormati orang yang lebih tua, santun dalam pergaulan, mulai dari cara berjalan sampai bersikap. Adapun seluruh ilmu yang kita peroleh menjadi pondasi yang kuat bagi kita dalam menuntut ilmu yang lebih tinggi. 

        Dari sinilah mungkin kita akan ingat dengan firman Allah SWT berikut : “….boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah, 2:216). 

    Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah ra menafsirkan ayat di atas dengan mengemukakan 3 konsekuensi, yaitu : 

  1. Mengikuti perintah

Satu-satunya pilihan baginya ialah mengikuti perintah meskipun pada mulanya mungkin berat. Sebab segala kesudahan (dari perintah Allah) pasti merupakan kebaikan, menyenangkan, kenikmatan dan keberuntungan. Sekalipun hatinya tidak menyukainya, toh hal itu baik bagi dirinya dan lebih bermanfaat.

  1. Pasrah kepada  Allah

Diantara rahasia ayat ini ialah mengharuskan hamba untuk pasrah kepada Allah yang mengetahui kesudahan segala urusan, ridha terhadap pilihan dan qadha’Nya, disertai permohonan untuk mendapatkan kesudahan yang baik.

  1. Membebaskan hati dari berbagai macam pikiran

Yang demikian ini akan membuat dirinya merasa terbebas dari berbagai macam pikiran yang biasa menyertai pilihan, mengosongkan hati dari berbagai macam persangkaan yang biasanya muncul di kemudian hari atau sesekali waktu.

 

Views All Time
Views All Time
19
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY