SUNGAI MARTAPURA, RIWAYATMU KINI (Bagian 1. Kondisi Airnya )

0
52

Setiap pulang ke Martapura,  kampung kelahiran penulis, selalu yang teringat masa kecil ketika bermain dengan teman-teman sebaya dulu mandi di sungai Martapura sehabis bermain sebelumnya. Sehabis bermain kami sering menyempatkan diri mandi dan bermain di sungai Martapura, maklum kampung kami berada di tepi sungai tersebut. Kami main kejar-kejaran  di sungai yang relatif lebar  dan panjang tersebut, tanpa merasa takut atau khawatir dengan adanya gangguan yang ada di sungai saat itu.

Kehidupan kami masa kanak-kanak pada tahun 1970-an lebih banyak berada di alam terbuka atau di luar rumah dengan berbagai kegiatan atau aktiivitas bermain dengan teman-teman sebaya. Salah satu dengan mandi dan bermain di Sungai Martapura yang masih relatif bersih dan tidak banyak tercemar. Sesekali saat itu, jika musim loding atau berlabuh kayu gelondongan yang ditarik oleh sebuah kapal dari hulu yang melintas ketika kami sedang mandi, maka serentak kami berenang mengejar dan menaiki golondongan kayu tersebut yang panjang ikatannya ratusan meter.

Sungguh mengasyikkan bermain-main di sungai Martapura saat kami masih kanak-kanak, sekitar umur 8-10 tahunan. Memang sejak kecil secara alami penulis dan teman-teman sebaya saat itu mampu berenang sendiri tanpa diajari oleh orangtua atau orang lain. Semua keahlian berenang kami dapatkan dengan belajar mandiri dari alam. Tidak heran ketika air Sungai Martapura sedang surut, kami biasa menyebrani sungai tersebut bolak-balik dengan berenang bersama. Perlu diketahui, bahwa lebar sungai Martapura ini sekitar 100 meter, bahkan kalau saat banjir dapat mencapai 150 meter dari tepi ke tepi seberangnya.

Pada tahun 1985, ketika penulis saat itu membuat makalah sebagai tugas akhir bagi siswa kelas III SMAN Martapura, maka masalah yang penulis angkat saat itu tentang pencemaran air Sungai Martapura. Mengapa?  Pada saat itu tingkat pencemaran sungai Martapura di kampung penulis dan sekitarnya sudah cukup parah, terutama oleh limbah dan sampah rumah tangga atau masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai tersebut. Sedangkan air sungai Martapura menjadi satu-satunya sumber air baku untuk keperluan rumah tangga, seperti air minum, memasak, mandi, cuci, dan keperluan lainnya.  Tidak dapat dimungkiri, bahwa alam dan lingkungan hidup di sekitarnya rusak atau tercemah karena ulah tangan manusia itu sendiri.

Salah satu penyebab tercemarnya air sungai Martapura di kampung penulis adalah (maaf)  pembuangan tinja atau kotoran manusia yang dilakukan di sungai tersebut. Hal ini terjadi karena hampir semua masyarakat yang tinggal di pinggir aliran sungai Martapura, dari hulu sampai ke hilir, membuang kotorannya di jamban atau WC yang berada di sungai ini. Nyaris semuanya menumpahkan kotoran tersebut ke sungai Martapura. Kalau pada tahun 1970-an jumlah penduduk sedikit, tetapi beberapa tahun kemudian jumlahnya semakin banyak. Kondisi pencemaran air sungai Martapura terparah dan kritis ketika musim kemarau, dimana saat itu aiar sungai terjadi pasang surut dengan volume airnya sedikit,  sehingga kotoroan tersebut bolak-balik mengikuti gerak air sungai.

Kini, tahun 2018, atau 33 tahun kemudian, masyarakatnya semakin banyak dari sepuluh atau duapuluh tahun yang lalu. Kalau dulu rumah masyarakat tidak banyak yang berdiri atau dibangun di tepi sungai, tetapi kini nyaris tepi sungai Martapura tersebut ada rumah berdiri dengan kokohnya. Sungai Martapura saat ini relatif semakin sempit, karena berdirinya rumah atau bangunan lain yang berada di tepi sungai. Lalu, bagaimana kondisi pencemaran air sungai Martapura sekarang? Tentu dapat dibayangkan bagaimana tingkat pencemaran air sungai Martapura, tidak saja berasal dari kotoran manusia itu sendiri, tetapi juga sampah dan limbah rumah tangga yang ada di sekitarnya.

Pemerintah Kabupaten Banjar selaku pemegang otoritas daerah melalui dinas terkait, pada beberapa tahun terakhir ini mulai mengkampanyekan gerakan hidup sehat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai Martapura. Salah satunya dengan melaksanakan kegiatan menghilangkan jamban-jamban yang ada di sungai Martapura, dan menggantikannya dengan pembangunan WC di darat yang lebih hegeinis, sehat, dan ramah lingkungan. Selain itu, ada petugas yang khusus mengambil sampah yang larut di sungai Martapura dengan menggunakan kapal khusus pemungut sampah dan limbah. Demikian pula dengan sampah yang ada di darat, secara rutin diambil oleh petugas memakai mobil sampah untuk memungut sampah yang telah diletakkan di tepi jalan oleh masyarakat, sehingga diharapkan tidak ada lagi sampah yang dibuang ke sungai Martapura.

Alhamdulillah, kini air sungai Martapura sudah cukup baik dan tidak terkena pencemaran kotoran manusia, sampah, dan limbah rumah tangga lainnya. Meski tidak sepenuhnya bebas dari penyebab pencemaran tersebut, tetapi setidaknya mulai tumbuh perhatian dan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang kotorannya, sampah, dan limbah ke sungai Martapura. Semoga ke depannya akan semakin tumbuh dan tinggi kesadaran masyarakat untuk memelihara sungai Martapura dan menjadikannya ‘asli’ kembali tanpa tercemar oleh tangan manusia itu sendiri. Semoga.

#####

 

Views All Time
Views All Time
145
Views Today
Views Today
2
Previous articlePengembangan RPP Kurikulum 2013 Tingkat SMP
Next articleSUNGAI MARTAPURA, RIWAYATMU KINI (Bagian 2. Jukung Tambangan dan Taksi Klotok yang Hilang )
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY