SUNGAI MARTAPURA, RIWAYATMU KINI (Bagian 2. Jukung Tambangan dan Taksi Klotok yang Hilang )

0
19

Sungai Martapura menyimpan banyak kenangan dan sejarah dalam kehidupan penulis dan masyarakat sekitarnya, karena dulu sungai ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat untuk mengangkut orang,  hasil-hasil pertanian, dan sebagainya dengan menggunakan rakit, jukung, dan kapal klotok.  Jukung merupakan sebutan alat transportasi sungai suku Banjar, yaitu perahu kecil atau sampan. Sedangkan klotok merupakan sebutan orang Banjar untuk perahu bermasin yang ukurannya relatif besar untuk mengangkut orang dan barang.

Sebelum adanya jalan yang dapat dilalui sepeda motor dan mobil sekarang ini, alat transportasi massal masyarakat sekitar sungai Martapura, khususnya Kampung Pakauman, Kampung Melayu, Kampung Kramat, Kampung Dalam Pagar, Kampung Teluk Selong, Kampung Kamasan, Kampung Sungai Tabuk, dan kampung-kampung sekitarnya, mereka menggunakan jukung tambangan dan taksi klotok ketika akan mau pergi dan pulang dari pasar Martapura. Pasar Martapura merupakan pusat perekonomian masyarakat yang ada sejak zaman Kerajaan Banjar dahulu.

Jukung tambangan memang sudah sejak tahun 1970-an tidak dipakai lagi untuk mengantar pulang pergi orang dan barang dari pasar Martapura ke kampung-kampung pinggiran sungai Martapura dan sekitarnya sebelum ada taksi kapal klotok tahun 1980-an. Jukung tambangan pernah menjadi alat atau sarana transportasi sungai masyarakat pinggiran sungai Martapura yang dikayuh oleh seseorang yang berada di bagian belakang atau buritan. Jukung tambangan ini dilengkapi dengan atap untuk menahan panas dan hujan dengan jumlah penumpang sekitar 5-6 orang. Ketika itu, perahu tambangan tidak memiliki saingan transportasi massal lainnya, sehingga sarana transportasi ini paling diminati oleh masyarakat saat itu ketika akan bepergian ke pasar Martapura atau ke tempat lain yang ada di pingiran sungai Martapura.

Sementara itu, taksi kapal klotok yang kemudian menggantikan sarana transportasi jukung tambangan mulai dikenal dan paling banyak digunakan sebagai angkutan massal masyarakat pinggiran sungai Martapura dan sekitarnya pada tahun 1980-an. Penulis sendiri sering menggunakan taksi kapal klotok ketika sekolah dulu, karena saat itu jalan yang menuju ke Martapura terendam air yang banjir dalam waktu yang lama, sehingga tidak dapat dijalani dengan bersepeda. Kondisi sungai Martapura saat musim penghujan, airnya akan meluap dan membanjiri jalan-jalan di pingirannya selama berbulan-bulan, maka pada saat inilah kapal taksi klotok sangat berperan bagi masyarakat saat itu.

Jumlah armada taksi kapal klotok  saat itu ada sekitar 20-30 buah yang beroperasi hilir mudik mengangkut orang dan barang dari dan menuju ke pasar Martapura. Ongkos atau biaya taksi kapal klotok ini tergantung jarak yang ditempuhnya. Adapun daerah operasionalnya mencakup beberapa kampung yang penulis sebutkan di atas, yaitu Kampung Pakauman, Kampung Melayu, Kampung Kramat, Kampung Dalam Pagar, Kampung Teluk Selong, Kampung Kamasan, Kampung Sungai Tabuk, Kampung Tangkas, dan sekitarnya. Kampung-kampung tersebut berada di pinggiran sungai Martapura dengan jarak ke pasar Martapura bervariasi, yang terjauh kampung Sungai Tabukdan Tangkas , dengan jarak sekitar 8 km.

Setelah jalan-jalan yang ada di kampung pingiran sungai Martapura sudah baik, lebar, dan beraspal sehingga dapat dilalui berbagai macam alat transportasi darat, seperti beca, sepeda motor ojek, dan taksi pedesaan, maka taksi kapal klotok semakin berkurang penumpangnya. Akhirnya, sekitar tahun 1990-an, armada taksi kapal klotok mulai langka dan tidak beroperasi lagi hingga kini.

Kini, jukung tambangan dan taksi kapal klotok sudah tidak ada lagi beroperasi hilir mudik menjemput dan mengantarkan penumpangnya, hanya tinggal kenangan bagi yang pernah menjadi penumpangnya. Modernisasi memang telah merubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat, tidak kecuali terhadap jukung tambangan dan taksi kapal klotok,  sarana angkutan massal sungai Martapura yang dulu populer dan menjadi andalan masyarakat sekitarnya. Keberadaan becak, ojek sepeda motor, dan taksi mobil angkutan pedesaan telah menggantikan armada angkutan massal sungai Martapura yang dulu pernah populer dan berperan besar bagi masyarakat.

 

#####

 

Views All Time
Views All Time
104
Views Today
Views Today
1
Previous articleSUNGAI MARTAPURA, RIWAYATMU KINI (Bagian 1. Kondisi Airnya )
Next articleDI KAMPUNGKU ADA MAKAM RAJA BANJAR IV
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY