SURAT CINTA

0
12

“jika yang lain mampu mengusik sisi yang terdalam hatimu, maka mungkin aku hanya mampu menyentuh sisi terluarnya saja”.

Isi surat itu mengingatkan Tiara dalam beberapa minggu ini ketika ia membuka hati kembali untuk seseorang. Kertas berwarna Pink itu mengusik hatinya meskipun ia berusaha mencoba menata hatinya setelah ia ditinggalkan seseorang yang sudah 8 tahun menjadi bagian hidupnya. Tiara lupa ketika ia bercerita kepada Gendis yang baru saja ia kenal, ia mengisahkan bagaimana 8 tahun perjalanan cintanya dengan Randi. Randi yang menjadi bagian hidupnya mampu menyentuh sisi bagian terdalam hatinya sehingga ia masih sulit untuk keluar dari kehidupa Randi. Randi yang digambarkannya sebagai laki-laki dewasa, memiliki lesung pipi dikiri kanan, susunan giginya yang rapi, rambutnya yang cepak sesuai dengan badannya yang atletis, tutur katanya yang ramah, serta sikapnya yang dewasa, dan bahkan dia sangat perhatian meskipun hidupnya sederhana membuatku nyaman. Guman Tiara dengan ekspresi kesedihan mengisahkannya. Gendis hanya bisa tersenyum sambil menahan napas panjang bagaimana ia harus mengatur napas dan menata hatinya agar ekspresi kecemburuan itu tidak terlihat diwajahnya. Ia tahu bahwa perkenalannya dengan Tiara baru seumur jagung, namun gejolak perasaannya melebihi dari apa yang Tiara ketahui. Ia mencoba menyikapi semua pembicaraan dari Tiara dengan santai, tapi tetap saja kisah cinta Tiara mengusik kedalaman hatinya, kecemburuan itu membuatnya diam. Aliran darahnya semakin cepat, detak jantungnya semakin kencang. Sementara ia selalu mengubah posisi duduknya agar nyaman.

Tiara juga teringat saat Gendis mengungkapkan sesuatu kepada dirinya, bagaimana perasaan Gendis terhadapnya. Kata-kata Gendis masih tergiang ditelinganya.

“Tiara” aku tahu, mungkin aku belum mampu untuk menggantikan seseorang yang selama ini menghiasi kehidupanmu, memberikan warna terindah dalam kehidupan yang kamu jalani. Namun aku juga tidak mampu menyembunyikan perasaan ini lebih lama darimu. Meskipun kita baru kenal, namun pandangan pertama membuatku tak mampu mengabaikan banyanganmu dalam hari-hariku. Waktu 8 tahun kehidupanmu bersama dengannya memang tidak mudah untukmu melupakan dan bangkit, apalagi membuka lembaran baru dengan seseorang yang baru kamu kenal. Aku juga tahu bagaimana hubunganmu dengannya belum ada kejelasan putus atau tidaknya serta untuk kedepannya. Kamu merasakan ia terbaik dalam hidupmu meskipun ada rasa gelisah, galau tetap kamu jalani dengannya. Bahkan kamu juga menceritakan bagaimana hubunganmu selama 3 tahun setelah tidak ada kejelasan dengan Randi, kamupun membuka hubungan baru dengan Willy tanpa ada kejelasan statusmu.

“Tiara, aku tidak tahu apa yang bisa kutawarkan kepadamu untuk kamu bisa menerimaku apalagi mencintaiku dan menjadikab aku bagian hidupmu. Aku juga tidak mampu mengusik hatimu apalagi mengisi ruang kosong dalam hatimu. Aku juga tidak mampu membuatmu bisa merinduiku meskipun setiap bait bahasa kucoba untuk bisa kamu menikmatinya. Bahkan aku berusaha memberikan perhatian dan bersikap dihadapanmu agar kamu bisa menerimaku dengan kebaikan hatimu, meskipun ada paksaan untukmu bisa menerimaku. “Tiara… secara fisikly mungkin aku belum masuk kategori yang kamu harapkan, apalagi secara materi belum mapan. Namun aku bisa memberikan kebahagiaan untukmu untuk kita. kataku penuh pengharapan.

Tiara hanya diam dan memandang wajahku. Mungkin ia mencoba menyelami hatiku dan menemukan kenyakinan dalam dirinya untukku. Bahkan sorot matanya tajam saat ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari lisanku.

Gen… apa yang kau katakan tidaklah sepenuhnya benar. aku menerima seseorang bukan karena fisik atau materi, karena itu bukanlah jaminan kebahagiaan untukku. Aku menerima seseorang karena adanya feel yang tidak semua orang bisa merasakan itu. Aku percaya bahasa hati akan mampu membuatku tersentuh dan cerminan sikap mampu untukku bisa mengabaikan semua kenangan yang selama ini sudah tergoreskan dalam kehidupanku. Aku hanya butuh kenyakinan saja untuk bisa menerimamu mengisi ruang kosong dalam hidupku. Bukan aku tidak mau serius denganmu, namun aku saat ini hanya ingin menjalani saja terlebih dahulu. Gen… tidaklah tepat ketika kau menilaiku secepat itu. sementara kau baru sesaat mengenal aku.

Aku hanya bisa menatap wajah Tiara dengan penuh harap, namun aku juga tidak bisa memaksakan hatinya untuk segera menerimaku. Akhirnya akupun mengalihkan pembicaraan dengan topik yang berbeda karena aku tahu jika terus kudesal dan dilanjutkan pembicaraan ini akan tidak baik untuk emosiku.

Ungkapan Gendis kepadaku saat menyampaikan perasaannya membuatku harus mampu menahan diri, agar aku tidak jatuh untuk kesekian kalinya lagi, meskipun ada perasaan yang entah mengapa hadir menyapaku namun aku belum mampu untuk langsung membukanya.

Kulanjutkan membaca surat dari Gendis tersebut.

Saat aku berada didepanmu, pandanfan dan hatimubteralihkan dengan yang lain, aku merasa bukanlah orang yang tepat berada didalam kehidupanmu. Aku mencoba menahan rasa cemburu saat kau lebih memilih berkomunikasi dengan gadgetmu, kau bisa tersenyum manis saat setiap tulisan dan video yang kau saksikan mampu membuat hatimu bahagia bahkan tertawa kecil dihadapanku. Sementara aku kau abaikan meskipun aku berusaha untuk menjalani, aku berada disampingmu kau anggap tiada. Kau lebih memilih Gadgetmu dibandingkan aku. Bagaimana mungkin kita bisa menjalani dengan serius sementara hati dan pikiranmu bukan kepadaku.

Tiara… tiada yang lebih indah ketika seseorang yang mencintaimu masih mau bertahan, masih mau melihat dirimu tersenyum. Namun kau ketahuilah bahwa tidak semua hati itu setegat karang dilautan yang tetap bertahan meskipun ia akhirnya juga hancur. Tidak semua gunung akan mampu berdiri kokoh jika tiba saatnya ia juga hancur bersama waktu.

Tiara… aku mencintamu dengan bahasa yang sederhana sebagaimana cintanya bunda dengan sang kumbang. Ia rela menunggu sampai kumbang mampu membuatnya berkembang.

Tiara… semoga suatu saat kau bisa mendapatkan orang yang tepat seperti apa yang kau impikan.

Maafkan aku yang harus pergi untuk membuka lembaran baru bersama keindahan hidup yang penuh kepastiaan.

dariku yang mencintaimu

GENDIS.

****

Tiara hanya bisa terkulai lemas, kakinya seakan tidak mampu lagi untuknya berdiri. Ia tahu keputusan Gendis untuk pergi dalam kehidupannya bukan hanya keputusan asal-asalan tetapi ia menunggu kepastian untuk aku bisa terima dia. Agar ia bisa membatalkan kepergiannya ke Luar Negeri untuk studinya.

Namun semua sudah terlambat bagi Tiara untuk mengatakan bahwa ia juga memiliki rasa yang sama.

#kisahyangtaksempurna
#bhpriau

Views All Time
Views All Time
77
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY