TAKJIL

0
2

TAKJIL

Oleh: Ida Rusmiyati

            Sepulang dari salat Magrib di Musala Al Ikhlas, wajah Idris tampak cemberut. Dengan rasa penasaran kemudian kucoba bertanya padanya, “ Kenapa cemberut? Marah nih ya?”

Idris pun Cuma diam saja, bibirnya semakin manyun. Matanya mengeluarkan air sedikit demi sedikit yang dalam sekejap mengalir dengan derasnya.

“Owalaah Nak, ditanya kok malah nangis!” kataku.

“ Sudah…cup…cup…cup!” pintaku padanya.

Idris adalah anakku yang paling bontot, usianya baru 3 tahun. Anakku itu banyak akalnya dan lucu. Celotehan apa saja yang keluar dari bibir mungilnya sering membuat kami tertawa geli dan senang. Bicaranya masih celat tetapi cukup ceriwis juga.

“ Ayo…coba cerita sama ibu, sini!” lanjutku sambil meraih badannya yang mungil dan memangkunya. Kucoba merayunya dengan halus agar ia mau bicara. Sambil menenangkannya.

“ Idris nggak dapet takjil Bu…!” kata Idris sambil cemberut dengan gaya bicara yang celat.

“ Lha memangnya takjilnya tadi apa Nak?” tanyaku mengintrogasi.

“ Teh…sama serabi…!” sahutnya sambil tetap cemberut setengah menangis.

“ Hummm begitu ya…sudah nanti ibu buatkan teh manis hangat, sama ibu belikan kue serabi di Jati ya?” bujukku.

Idris hanya menggeleng, “ Nggak mau ah…!” lalu melanjutkan tangisannya.

“ Ya sudah Idris mau minta jajanan apa? Nanti ibu belikan.” bujukku lagi.

Ia tetap saja tidak mau. Tampaknya, bagi Idris takjil adalah sesuatu yang istimewa di bulan Ramadhan ini. Ia merasa diperlakukan tidak adil dengan tidak didapatnya takjil, padahal anak-anak kecil lainnya dapat. Ia ingin sama seperti anak-anak lain yang mendapat takjil. Aku cukup mengerti dan paham dengan perasaan anak kecil seperti Idris. Terkadang aku tersenyum geli juga melihatnya menangis karena mungkin terlewat hingga tak mendapat takjil. Sebenarnya masalah tidak kebagian takjil atau terlewat adalah hal yang sepele bagi orang dewasa sepertiku.

            Setelah kemarahannya mereda, hatiku menjadi tenang, kupikir anakku Idris sudah tak marah lagi. Kucarikan kudapan kecil yang enak yang dimauinya. Dilahapnya hingga habis tak bersisa. Aku hanya mengamati sambil tersenyum. Setelah menghabiskan kudapan kebetulan Ibu mertuaku datang. Seperti biasa beliau pasti langsung masuk dan menggendong cucu kesayangannya itu si Idris.

“ Idris sudah buka puasa?” tanya neneknya.

“ Sudah Nek” jawab Idris.

Tak disangka ternyata Idrispun menceritakan perihalnya tidak mendapatkan jatah takjil.

Hahahhah…hahha…hhahhah Idris mengadu pada neneknya.

“ Aduhhh, kasihan cucu kesayangan nenek kok nggak dapat takjil, nanti yang bagi nenek marahi ya!” kata Nenek menghibur Idris.

Sejenak kemudian Idris pun berlari-lari senang. Dia sudah lega sudah menceritakan semua kejadian kepada nenek. Dengan cepat pula Idris melupakan kejadian itu segera.

“ Owalaahhh…Idris…Idris! Anak kecil memang mudah marah, mudah pula redanya, tentu dengan kelihaian membujuk tingkat tinggi. Setelah itu lupa akan kejadian tersebut dengan cepat, manakala hatinya riang dan gembira.” kataku dalam hati.

Hal- hal menurut kita kecil dan sepele, belum tentu demikian bagi anak-anak kecil.

Selamat berbuka puasa!

Ungaran, 29 April 2021

#30harimenulisramadhan

#gbmharike-17

Views All Time
Views All Time
41
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY