TANTANGAN PENDIDIKAN MORAL DI ERA DIGITAL

0
425

Menurut  pasal 36 ayat 1 UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran,menyatakan bahwa ”  Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia”.  Salah satu kewajiban bagi  semua pihak yang bergerak dalam bidang penyiaran  untuk membuat dan menyiarkan produknya ke  publik  isinya mengandung nilai pendidikan.

Kenyataan yang kita dapati dalam tayangan televisi nasional sekarang ini tidak sedikit produk yang mereka siarkan ke ruang publik masih kurang memperhatikan  nilai pendidikannya, lebih banyak hanya sisi hiburannya. Masih belum lama hilang dalam ingatan kita bersama tentang kasus yang menimpa salah seorang penyanyi dangdut yang melecehkan lembang negara, Pancasila. Demikian pula dengan beberapa tayangan sinetron yang banyak mendapat kritikan dari masyarakat dan pihak berwenang seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Menurut data KPI, ada sebanyak 250 sanksi yang dijatuhkan oleh KPI pada tahun 2015 dan program sinetron menjadi salah satu program yang mendominasi sanksi tersebut. Pelanggaran sinetron antara lain berkaitan konten kekerasan, kesopanan dan kesusilaan.

Lalu apa hubungan sinetron telivisi dengan sekolah?. Banyak tayangan sinetron yang tayang di televisi nasional mengambil latar belakang kehidupan sekolah, baik itu proses pembelajaran maupun aktifitas sekolah lainnya. Namun, menurut KPI banyak sinetron berlatar sekolah tersebut sering bertabrakan dengan norma pergaulan yang ada dan belum sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis. Jelasnya, ada kontradiksi antara tayangan sinetron yang berlatar belakang dunia pendidikan dengan nilai-nilai pendidikan itu sendiri. Salah satu contoh adegan yang mungkin sering ditonton dalam sinetron berlatar belakang sekolah adanya adegan pacaran, atau bahkan sampai pada (maaf) ciuman cipka-cipiki antara laki-laki dengan wanita, dan bentuk kemesraan lainnya. Perilaku yang kurang pantas ditonton oleh anak-anak di bawah umur tersebut terkesan biasa dan lumrah bagi kehidupan anak sekolah.

Pada sisi lain,  di sekolah para  guru dengan segala daya dan upaya terus  berusaha untuk menumbuhkan, menanamkan dan mencontohkan akhlak mulia dengan segala strategi, pendekatan, metode, teknik, dan taktik agar peserta didik nantinya dapat memiliki akhlak mulia.  Pendidikan akhlak mulia sejatinya merupakan inti dan hakikat pendidikan, baik dalam keluarga maupun sekolah  sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan  bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan  terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Permasalahannya, ketika di sekolah telah diberikan pendidikan akhlak mulia melalui program sekolah dan pembelajaran di kelas oleh para guru, namun apa yang terjadi di tayangan televisi, internet, dan media elektronik lainya yang sangat gencar menayangkan materi tayangan yang kontradiktif dengan apa yang peserta didik dapat di sekolah. Dengan mudahnya sekarang ini tayangan yang tidak sesuai dengan kaidah agama, adat istiadat,  serta pendidikan akhlak mulia yang mereka dapatkan sehingga membuat peserta didik menjadi bimbang dan mengarungi pertarungan moral yang kuat dalam jiwanya. Apakah mengikuti pelajaran, nasehat, dan petunjuk dari guru atau mengikuti contoh dalam tayangan yang sudah sangat banyak diikuti oleh orang-orang di sekitarnya.  Peserta didik mengalami konflik bathin dan pertarungan dalam diri mereka, terlebih kondisi pergaulannya sangat dominan mempengaruhi jiwa dan kepribadian pserta didik yang masih sangat labil.

Ketika peserta didik sudah tidak memiliki panutan dan arahan dalam kehidupan keluarga mereka, maka dalam kondisi kebimbangan inilah mereka cenderung mengikuti apa yang dilihat dan dilakukan oleh teman sepergaulannya yang cenderung kurang sesuai dengan apa yang telah didapatnya dari sekolah atau gurunya. Pada kenyataannya, kehidupan peserta didik lebih banyak dalam keluarga dan lingkungan masyarakat sekitarnya, sedangkan di sekolah hanya sekitar 7-8 jam sehari.  Proses yang peserta didik alami di sekolah terkadang juga tidak sesuai dengan  visi dan misi pendidikan karena di sekolah terdapat banyak penyebab yang membuat proses pendidikan tidak membuat peserta didik nyaman berada di dalamnya, seperti masih banyak kasus bullying, tindak kekerasan, dan sebagainya.

Peserta didik yang sejatinya menjadi generasi penerus harapan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara perlu mendapat perlindungan, arahan, dan bimbingan sekolah, guru, keluarga, dan pihak-pihak yang peduli akan masa depan bangsa agar mereka dapat tumbuh dan berkembang untuk mencapai cita-cita mereka. Oleh sebab itu, keluarga dan sekolah harus saling berkomunikasi sejak peserta didik itu masuk sekolah sampai mereka lulus dari sekolah tersebut. Keadaan inilah yang selama ini kurang dimaksimalkan dalam membantu peserta didik. Keluarga dan sekolah seolah-olah bergerak dan bertindak sesuai dengan keinginan masing-masing, kurang komunikasi dan koordinasi.  Seiring dengan penguatan peran kelaurga dalam pendidikan anak atau pserta didik, maka perlu dimaksimalkan hubungan dan komunikasi antara keluarga dan sekolah, terlebih menghadapi arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat ini. Menghidupkan dan memaksimalkan kembali peran keluarga dalam mendukung pendidikan anak adalah sesuatu hal yang wajar dan sangat rasional. Harapannya ke depan ada hubungan yang sangat sinergis  antara sekolah dan keluarga dalam membina dan membimbang anak sehingga terjadi hubungan komunikasi yang memberikan dampak positif bagi prestasi belajar anak dan mutu pendidikan Indonesia

Terkait dengan rencana pelaksanaan “full day school” sebagaimana digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tentunya hal tersebut bertujuan untuk lebih memaksimalkan dan  meningkatkan peran sekolah dalam pendidikan peserta didik di lingkungan sekolah, tanpa mengurangi peran orangtua peserta didik itu sendiri. Selama ini peran pendidikan dalam keluarga belum difungsikan secara maksimal. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Direktorat baru ini diharapkan mampu mendorong proses penguatan prestasi belajar peserta didik, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan karakter dan kepribadian. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga memiliki program penanganan perilaku perundungan (bullying), pendidikan penanganan remaja, serta perilaku destruktif. Semua program tersebut diperuntukkan tidak hanya untuk meningkatkan peran aktif orangtua kandung dari peserta didik, tapi juga wali atau orang dewasa yang bertanggung jawab dalam pendidikan anak.

Kita berharap semoga tayangan televisi, internet, media cetak, serta media sosial dapat menjadi referensi, inspirasi, dan sumber informasi bagi peningkatan pengembangkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang memiliki akhlak mulia dan juga mampu menggapai cita-cita mereka demi kejayaan keluarga, masyarakat, bangsa dan bernegara. Semoga.

Views All Time
Views All Time
501
Views Today
Views Today
1
Previous articleGURUKU SAYANG,GURUKU MALANG
Next articleUNBK, SIAPA TAKUT?
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY