TERTUKAR

0
22

Pagi ini mentari bersinar cerah seperti hari-hari biasanya, aku selalu bergegas untuk berangkat ke sekolah. Walaupun aku bangun lebih awal tetap saja bergegas-gegas…terburu-buru… dan tergopoh-gopoh selalu menghiasi pagiku. Sialnya pagi ini jalanan macet, membuat suasana hatiku menjadi lebih kemrungsung dan galau,aku sangat khawatir kalau-kalau terlambat sampai di sekolah. Malu kan…apalagi jam pertama, aku ada jadwal mengajar.

Ternyata ada truk tronton yang mogok karena kelebihan muatan. Walau jalanan macet toh akhirnya kendaraan yang kutumpangi sampai juga di sekolah.

Dengan setengah berlari aku segera menuju ruang TU untuk melakukan fingerprint. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.50. Kulihat teman-teman guru dan karyawan  pun banyak yang  berebut untuk melakukan fingerprint, tampaknya terlambat finger atau lupa finger merupakan momok yang menakutkan bagi kami. Lebih menakutkan  dibandingkan dengan dimarah atau ditegur atasan ( kepala sekolah kami ). Ha…ha…ha sangat lucu tampaknya. Namun, kami seringkali tak menyadarinya. Masih ada waktu sebelum bel  masuk berbunyi, kumenuju ruang guru untuk meletakkan tas dan merapikan diri. Kusempatkan diriku menyapa dan memberikan salam kepada temanku semua.

Hal yang sangat membahagiakan hatiku walau sebentar, bercengkerama bersama di ruang guru.Canda tawa temanku semua menjadi semangatku tuk melaksanakan tugas sehari-hari di awal pagi.

Tak lama kemudian bel pun berbunyi, kupercepat langkahku menuju ke kelas 8 A.

Semua siswa sudah bersiap menyambutku. Pagi ini tampak aneh sambutan mereka. Pandangan mereka pun aneh tertuju padaku,  mata dan hatiku sangatlah sensi jika bertemu hal-hal aneh seperti begini. Sebenarnya hatiku bingung juga mengapa semua siswa menatapku dengan tatapan dan senyum yang aneh. ”O Tuhan, ada apa ini?”

Kutahan hatiku untuk tidak bertanya kepada mereka.

Ketua kelas menyiapkan dan memimpin berdoa. Setelah semua seremonial pagi di kelas usai, masih saja kutangkap tatapan dan senyuman aneh siswa-siswaku, semakin lama suasana kelas semakin gaduh. Hatiku semakin ingin marah menemui situasi demikian.

” Anak-anak mengapa kalian pagi ini gaduh sekali? Ada apa ini?”

Mereka ditanya bukannya menjawab malah semakin tertawa nyaring, ada pula yang tertawa tersipu-sipu dengan cekikikan. “Sungguh mirip kuda aja.” batinku berkata demikian.

Kuulangi lagi pertanyaanku kepada semua siswa dengan nada dan intonasi kalimat yang lebih tinggi.

“Anak-anak diam Kalian! Ada apa Kalian tertawa? Berani sekali Kalian pada bu Guru ya!”

Emosiku semakin tersulut.

Hingga kemudian salah seorang siswa memberanikan diri berkata, “ Itu Bu…hemmm itu…tuh!”

Jarinya sambil menunjuk-nunjuk kearah dadaku. Mataku semakin melotot ke arah siswa tersebut, “ Itu…itu…itu apa ha!”

Akhirnya semua siswa menunjuk ke arah dadaku sebelah kanan, tepatnya pada papan nama di dadaku.

“Itu Bu, nama ibu  SYAMSUDIN! “

Segera kulihat papan nama di dadaku, akupun semakin terkejut dan mataku terbelalak lebar. “Astagfirullah…!”, tenyata aku keliru memakai papan nama, yang kupakai adalah papan nama suamiku, papan nama kami tertukar rupanya, itu karena kami sama-sama meletakkan perangkat seragam lengkap di meja rias kamar kami.

Duh betapa malunya aku. Ternyata aku sudah memakainya sejak dari rumah. “O Tuhan betapa malunya aku!”

Segera papan nama  kulepas dan akupun meminta maaf kepada semua siswa. Sungguh sangat sulit menghentikan tawa mereka seketika itu juga.

Setelah berjalan sekitar 15 menit suasana kelas menjadi normal. Semua siswa mengikuti pelajaran kembali dengan tenang. Kegiatan belajar mengajar berjalan dengan tertib dan lancar.

 

 

 

Ungaran, 25 September 2020

Views All Time
Views All Time
14
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY