TWIN TOWERS I

0
26

Le Apple Boutique hotel @ KLCC menjadi hotel pilihan Hanna pada traveling kali ini,
setiap bepergian hotel dengan balkon, view pemandangan gunung, laut, danau atau kota
menjadi favorit Hanna.
Secangkir kopi menemani Hanna duduk di dalam kamar menghadap langit KL
disana berdiri kokoh Twin Towers, ini hari kedelapan Hanna berada di KL. Hanna telah
book penerbangan pulang ke Indonesia secara online. Hanna teringat belum mencatat
perjalanan terakhir ke bukit Tabur. Hanna mengeluarkan sebuah notebook dari tasnya.
Aku harus mencatat perjalanan terakhir kemarin, tadi malam terlalu lelah.
Hanna pun mulai menulis. Tiba-tiba notifikasi WhatsAap berbunyi. Hanna
meraih ponselnya yang tergelatak di atas meja.
Pesan dari Ali Shidiq.
“Han, sorry besok aku tidak bisa mengantar ke airport, boss tidak memberiku
ijin. Boleh nanti malam aku jemput, mu? Aku mau ajak kamu makan di rumahku. Aku
dan teman-temanku memasak spesial untukmu.”
“Hanna tersenyum”
“Ok” mengirim pesan dua huruf itu. Hanya hitungan detik stiker smile
muncul dari pesan yang dikirim Ali Shidiq.                                                                                                                                  ****

Jam menunjukan pukul 07.00 pm, Hanna menggunakan celana jeans dipadu t-
shirt putih gombrong, hijab biru, sandal tiplek dan tas selempang.
Ponsel Hanna berdering,
“Hello …”
“Hello … Hanna aku di loby”.
“Ok. Aku turun”.
Hanna mengambil hotel lock dari evergi saving switch lalu menuju lift untuk
turun, sesampai di loby terlihat Ali Shidiq dengan senyumya yang khas Pakistan tengah
menunggu Hanna, dia seorang pemuda berusia 22 tahun dengan tinggi 179 cm memiliki
karekter wajah sangat keras dan tegas, jika tersenyum baru terlihat ketampanannya.

Sama kebanyakan orang-orang Pakistan. Ali Shidiq memiliki hidung mancung, mata
tajam dan fostur tubuh besar.
“Ready …?” sapa Ali Shidiq pada Hanna
“Yes, I’m.”
Ali Sidiq memanggil taxi untuk menuju flat dikawasan Little India. Ali shidiq
bekerja sebagai konrtuksi bangunan gedung di KL, dia bersama dua temanya menyewa
sebuah flat dan tinggal bersama.
“Assalamu’alaikum,” ucap Hanna ketika berdiri di depan pintu flat.
“Wa’alaikum Salam”, jawab kedua teman Ali Shidiq.
Mereka memang menunggu kedatangan Hanna
Rajiz nama salah seorang dari mereka, tingginya mungkin hanya 167 wajahnya
terlihat paling dewasa. Rajiz sangat fasih berbicara melayu dia telah bekerja di KL
selama 6 tahun.
Munim nama pria yang hanya tersenyam dan katakan haii…haii.. pada Hanna,
dia sedikit gemuk, menggunakan anting dikedua telinganya, dan rambutnya dicat warna
pirang.
“Han, kamu tahu, dia hanya bisa tersenyum padamu.”
“Kenapa?” tanya Hanna.
“Dia tak pandai cakap Malaysia.”
“And can’t speak English too
Hanna tersenyum manis. “No problem,” jawab Hanna.
Munim tanpak senang dengan sikap ramah Hanna, senyumya semakin lebar dan
menapakan seluruh gigi putih dan rapi miliknya. Dia berdiri, lalu pergi ke dapur dan
mengambil piring penuh berisi capahti. Diletakan chapahti itu dihadapan Hanna, lalu
Munim kembali ke dapur dan membawa piring berisi aloo keema, Rajiz juga pergi ke
dapur dan membawa panci berisi beef birayani.
“Hanna … Munim memasak lebih bersemangat dari pada Ali Shidiq,” Rajiz
memberi tahu Hanna.
“Woow! Really?”
“Semua masakan ini terlihat sangat lezat, aku pikir karena Munim memasaknya
dengan rasa bahagia,” Ujar Hanna.
Ali Shidiq menterjemahkan kedalam bahasa Urdu.

Wajah Mumim memerah karena ucapan Hanna.
“Thank you,” ucap Munim pada Hanna.
Hanna mengacungkan jempol.

Bersambung……..

Views All Time
Views All Time
29
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY