UNBK, MBS, dan MUTU SEKOLAH

0
20

Kebijakan tentang UN yang bersifat mutlak dalam menentukan kelulusan peserta didik sudah diganti dengan kebijakan baru yang lebih mengakomodir kepentingan sekolah dan orangtua peserta didik. Kebijakan tersebut dituangkan dalam Permendikbud Nomor 3  Tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan. Dalam Permendikbud ini ditegaskan bahwa kelulusan peserta didik ditentukan oleh satuan pendidikan atau sekolah setelah peserta didik menyelesaikan seluruh  menyelesaikan seluruh program pembelajaran; memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; dan lulus Ujian S/M/PK.

Dengan kebijakan ini maka sekolah memiliki posisi penting dalam menentukan kelulusan peserta didiknya. Kewenangan yang dimiliki sekolah dalam penentuan kelulusan peserta didiknya ini berarti mengembalikan ‘khittah’ otonomi sekolah  yang selama beberapa tahun lalu ‘diambil alih’ oleh nilai 4 (empat) mata pelajaran  yang di UN-kan.

Ketika kewenangan menentukan kelulusan peserta didik kembali dimiliki oleh sekolah, maka tentunya sekolah harus bersungguh-sungguh dalam menentukan kreteria kelulusan peserta didiknya secara lebih rinci dan menyeluruh (komprehenship), sehingga kualitas pendidikan tidak menjadi korban. Kualitas kelulusan peserta didik akan diuji dan dipertaruhkan ketika mereka memasuki dan bersaing di sekolah lanjutan di atasnya.

Kemampuan dan kualitas peserta didik dari sekolah yang memiliki kreteria kelulusan yang ‘ketat’ akan mampu bertahan dan meningkat prestasinya dibandingkan dengan peserta didik yang sekolah asalnya ‘longgar’ dalam kreteria kelulusan peserta didiknya. Sekolah yang memiliki kreteria kelulusan yang ketat bukan berarti mempersulit peserta didiknya untuk lulus tetapi bermaksud untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya sehingga mereka mampu bersaing di era persaingan bebas sekarang yang akan datang. Sekolah yang menerapkan kreteria kelulusan yang ketat memiliki visi dan misi sekolah yang beroreintasi ke depan dan bukan sekedar mementingkan kuantitas belaka tetapi lebih menekankan pada kualitas. .

Kewenangan sekolah menentukan kelulusan peserta didiknya merupakan wujud dari otonomi sekolah yang selama ini didengung-dengungkan. Otonomi sekolah  yang merupakan salah satu jiwa dari Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dalam MBS , sekolah memiliki otonomi (kemandirian)  untuk berbuat yang terbaik bagi sekolah. Ketergantungan pada tingkat pusat makin kecil, sehingga sekolah harus dewasa dan meyakini bahwa perubahan pendidikan akan terjadi jika sekolah sendiri mau berubah. Otonomi (kemandirian)  sekolah menuntut  adanya kemampuan sekolah  untuk mengatur dan mengurus sekolahnya menurut prakarsanya sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai  dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penyelenggaraan UN  menyerap anggaran biaya milyaran rupiah untuk pelaksanaan di tingkat Nasional, belum lagi biaya di tingkat provinsi, kabupaten/kota, sekolah, dan orangtua peserta didik.  Dengan biaya yang relatif besar ini tentunya harus menghasilkan manfaat yang besar pula bagi kemajuan  dunia pendidikan Indonesia, bukan sebaliknya malah menjadi beban bagi peserta didik, orangtua, dan sekolah.

Kemudian,  sejak tahun 2015 yang lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menyelenggarakan UN yang berbasis komputer atau UNBK  untuk beberapa sekolah yang telah memenuhi syarat. Dengan adanya terobosan pelaksanaan UNBK ini diharapkan akan lebih menghemat biaya/anggaran yang selama ini relatif  sangat besar dan juga tingkat kejujurannya lebih tinggi. Semoga.

###1336###

Views All Time
Views All Time
46
Views Today
Views Today
2
Previous articleUNBK dan NASIB SISWA SEKOLAH PINGGIRAN
Next articlePUISI
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY