UNBK, SIAPA TAKUT?

0
163

Membaca berita koran B.Post, Minggu, 7 Pebruari 2016 tentang kesiapan siswa menghadapi UNBK, dimana ada siswa peserta UN yang akan mengikuti ujian yang berbasis komputer merasa gugup. Wajar dan logis jika ada hal-hal yang membuat peserta UN tahun 2016 ini merasa gugup , cemas, dan berbagai perasaan yang gundah lainnya. Kini dunia pendidikan negeri ini mulai melakukan perubahan ke arah penggunaan IT dalam proses penilaian, khusus UN. Kegiatan UN menjadi agenda yang penting dan strategis dalam dunia pendidikan Indonesia, mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota provinsi, sampai tingkat nasional. Perhelatan UN yang digelar selama ini dilaksanakan selalu dalam bentuk berbasis kertas (Paper Based Test),artinya soal ditulis di kertas yang kemudian dijawab oleh peserta ujian dikertas pula. Perkembangan paket  soal UN dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, khususnya dalam bentuk dan model soal yang diajikan pada saat UN. Perubahan ini tentunya untuk mendapatkan mutu soal dan pada akhirnya juga untuk mengetahui indikator  mutu pendidikan nasional. Berbagai kekurangan dan kelemahan soal UN yang berbasis kertas terus diperbaiki dan ditingkatkan sehingga mutu dan nilai UN itu sendiri dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam beberapa tahun terakhir ini paket soal UN memiliki variasi yang beragam dengan model paket yang berbeda dalam satu ruang UN. Dengan model paket soal UN yang berbeda ini diharapkan dapat meminimalisir kecurangan dalam pelaksanaan UN, terutama dalam hal contek-menyontek diantara para peserta ujian tersebut. Fenomena contek-menyontek bukanlah hal baru dan tabu bagi sebagian peserta ujian, terlebih bagi peserta  UN. Pengawasan UN yang ketat dan sistem silang murni masih belum dapat  menutup kemungkinan bagi peserta UN untuk saling contek dan kerja sama mengerjakan soal UN. Hal ini dapat terjadi karena jumlah yang mengawasi dan yang diawasi tidak seimbang. Dalam ruang UN yang normal berisi 20 peserta , sedangkan pengawas  hanya 2 orang. Kemungkinan terjadi contek menyontek dalam pelaksanaan UN  sangat terbuka dan tidak dapat dipungkiri hal tersebut terjadi dari tahun ke tahun.

Kemudian pada tahun 2015, UN dilaksanakan dengan berbasis komputer (computer based test) atau yang lebih dikenal dengan UN online mulai diperkenalkan oleh Kemdikbud dalam pelaksanaan UN pada jenjang SMA/SMK/MA.  Berdasarkan Permendikbud Nomor 144 tahun 2014 pada Pasal 20 ayat (1) dinyatakan bahwa “Pelaksanaan UN SMA/MA dan SMK dapat dilakukan melalui ujian berbasis kertas (Paper Based Test) dan/atau ujian berbasis computer (Computer Based Test)”. Ketentuan tersebut memang belum mewajibkan seluruh peserta UN mengikuti ujian ujian berbasis komputer karena hanya ditujukan bagi siswa SMA/MA dan SMK, sementera untuk peserta UN SMP dan SD tidak diatur oleh ketentuan tersebut.  Pada UN tahun 2016 yang akan datang sudah UN online akan diterapkan untuk beberapa sekolah jenjang SMP/MTs yang telah siap dengan komputer dan pasokan listriknya. Persyaratan untuk menyelenggarakan UN ujian berbasis komputer tidak semudah menyelenggarakan UN yang manual (berbasis kertas) karena harus dilengkapi dengan perangkat komputer dan jaringan ketersediaan pasokan listrik  yang memadai.

 

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayan beserta koleganya di daerah, memiliki kepentingan tersendiri terhadap tetap berlangsungnya pelaksanaan UN. Salah satu dari kepentingan itu adalah untuk memetakan dunia pendidikan Indonesia, khususnya indikator keberhasilan pendidikan yang dilihat dari hasil  UN selama ini. Dengan melihat hasil UN yang dianggap memiliki tingkat keakuratan dan validitas tinggi, dapat diidentifikasi tingkat kemajuan dunia pendidikan di suatu daerah, bahkan sekolah yang mengikuti UN. Kemudian dari hasil pemetaan tersebut akan memudahkan melakukan suatu tindakan atau kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia ke depannya. Kajian dan analisis  terhadap hasil UN menjadi bahan masukan dan pertimbangan pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang berkaitan dengan dunia pendidikan Indonesia.

Dengan UN online yang objektif dan jauh dari kecurangan serta  contek menyontek diharapkan akan menghasilkan data hasil  UN yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga  dapat menjadi bahan pertimbangan dan pengambilan kebijakan oleh pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Tercapainya peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari masukan (input) hasil penilaian yang objektif dari kegiatan UN online yang relatif  objektif pula. Dengan nilai UN online yang relatif akurat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayan beserta koleganya di daerah dapat memetakan kondisi nyata pendidikan Indonesia yang lebih akurat. Bagi kalangan pendidik dan orangtua berharap dengan pelaksanaan UN online dapat menghasilkan lulusan yang dapat bersaing di era globalisasi ini.

Bercermin dari pengalaman dan kasus contek massal yang terjadi selama ini, UN online diharapkan dapat menjadi alternatif solusi bagi upaya meningkatkan mutu dunia pendidikan Indonesia, khususnya dalam penilaian hasil pendidikan. Tanpa mengurangi makna dan esensi proses pendidikan itu sendiri, penilaian dengan UN online dapat menjadi barometer yang lebih akurat bagaimana keberhasilan suatu daerah dalam dunia pendidikan yang sebenarnya. Keakuratan hasil penialaian melalui UN online dapat menjadi benang merah dari situasi dan kondisi nyata dunia pendidikan Indonesia selama ini. Penyelenggaraan UN online sudah di depan mata, dan ini berarti dunia pendidikan Indonesia sudah selangkah lebih maju meskipun hal ini belum menggambarkan tingkat kemajuan dan mutu pendidikan Indonesia yang sangat beragam ini. UN online setidaknya sudah membuka mata kita para pendidik  dan pemangku kepentingan dunia pendidikan untuk melek dan akrab dengan dunia TIK.

Keberhasilan penyelenggaraan UN online sangat ditentukan oleh kesiapan sekolah penyelenggara dalam menyediakan sarana pendukung utama yaitu computer, jaringan internet, dan ketersediaan pasokan listrik  yang memadai. Ketersediaan sarana tersebut menjadi syarat mutlak untuk penyelenggara UN online. Oleh sebab itu, bagi sekolah yang tidak memiliki sarana tersebut tentunya tidak dapat melaksanakan sendiri UN online.  Menyediakan sarana komputer , jaringan internet, dan ketersediaan pasokan listrik  menjadi persoalan tersendiri bagi sekolah yang tidak memiliki sarana tersebut selama ini. Kemampuan sekolah yang terbatas, jaringan internet, dan ketersediaan pasokan listrik  PLN merupakan masalah yang sudah lama terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Jangankan komputer dan jaringan internet serta ketersediaan pasokan listrik , persoalan mendasar seperti buku pelajaran, media pendidikan, dan sarana dan prasarana lainnya masih banyak dirasakan oleh banyak sekolah di negeri ini.  Dengan demikian, kesiapan untuk menyelenggarakan UN online hanya dimiliki oleh sebagian kecil sekolah yang selama ini memang telah memilikinya, terutama sekolah yang berada di perkotaan dan telah tergolong Sekolah Standar Nasional (SSN), Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSB), atau Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Tentunya sekolah tergolong SSN, RSBI, dan SBI sangat kecil jumlahnya dibandingkan dengan sekolah yang ada di Indonesia.

 

Dunia pendidikan Indonesia tetap terus melakukan banyak inovasi dan perbaikan yang terus menerus seiring dengan kemajuan dan dinamika masyarakat dan ilmu pengetahuan dan teknologi, terlebih teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan dan mutu dunia pendidikan sangat ditentukan oleh banyak pihak pemangku kepentingan yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan. Pemerintah, orangtua, dan masyarakat menjadi pilar pokok dalam menopang dan dan mendukung dunia pendidikan Indonesia yang bermutu. Demikian pula dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran dan penilaian pendidikan. Semoga.

Views All Time
Views All Time
269
Views Today
Views Today
1
Previous articleTANTANGAN PENDIDIKAN MORAL DI ERA DIGITAL
Next articlePROGRAM LHS DAN DUKUNGAN KELUARGA
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY