Upaya Meningkatkan Pemahaman Prestasi Belajar Siswa Kelas VI tentang Proses Perumusan Dasar Negara Melalui Metode Diskusi Pada SD Negeri Padang Rasian

0
64

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan siswa menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang menfokuskan pada pembentukan warga Negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, cerdas, terampil, dan berkarakter seperti yang diamantkan oleh Pancasila dan Undang –Undang Dasar 1945.

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Siswa cenderung tidak tertarik dengan pelajaran PKn, karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa disekolah.

Banyak factor yang menyebabkan hasil belajar PKn siswa kelas VI SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja rendah, diantaranya factor internal dan eksternal siswa. Factor internal antara lain : motivasi belajar, intelegensi, kebiasaan dan rasa percaya diri. Sedangkan factor eksternal adalah factor yang terdapat diluar siswa, seperti guru sebagai Pembina kegiatan belajar, strategi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan.

 

Salah satu indikator pendidikan berkualitas merupakan perolehan nilai hasil belajar siswa. Nilai hasil belajar siswa dapat lebih ditingkatkan apabila pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien dengan ditunjang oleh tersedianya sarana dan prasarana pendukung serta kecakapan guru dalam pengelolaan kelas dan pengusaan materi yang memadai.

Tolak ukur keberhasilan pembelajaran pada umumnya adalah prestasi belajar. Prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada SD Padang Rasian untuk beberapa kompetensi dasar umumnya menunjukkan nilai yang rendah. Hal ini standar kompetensi dan kompetensi dasar Pendidikan Kewarganegaraan kelas VI memang sarat akan materi, di samping cakupannya luas dan perlu hafalan. Jika dilihat dari hasil ulangan harian sebagian besar masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM)  yaitu sebesar 65,  hanya 20 % siswa yang telah memenuhi standar ketuntasan minimal. Dengan rata –rata kelas sebesar 60,33.

Rendahnya prestasi belajar PKn di kelas VI SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja dimungkinkan  juga  karena  guru belum menggunakan metode atau pun media pembelajaran serta mendesain  skenario pembelajaran yang disesuaikan dengan  karakteristik materi maupun kondisi siswa sehingga memungkinkan siswa kurang aktif dan kurang kreatif. Namun sebaliknya kecenderungan guru menggunakan model pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah, cenderung kering dan membosankan. Kegiatan pembelajaran masih didominasi guru. Siswa  sebagai obyek bukan subyek bahkan guru cenderung  membatasi partisipasi dan kreatifitas siswa selama proses pembelajaran.

Bertumpu pada kenyataan tersebut untuk merangsang dan meningkatkan peran aktif siswa baik secara individual dan kelompok terhadap proses pembelajaran PKn  maka masalah ini harus ditangani dengan mencari model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan. Guru sebagai pengajar dan fasilitator  harus mampu melakukan pembelajaran yang menyenangkan, menggairahkan sehingga akan diperoleh hasil yang maksimal. Kenyataan  selama ini kegiatan belajar mengajar masih didominasi guru yaitu kegiatan satu arah dimana penuangan informasi dari guru ke siswa dan hanya dilaksanakan dan berlangsung di sekolah, sehingga hasil yang dicapai siswa hanya mampu menghafal fakta, konsep, prinsip, hukum-hukum, teori hanya pada tingkat ingatan..

Upaya harus dilakukan untuk memulai tuntutan lulusan yang kompetitif di era pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi adalah menyelaraskan kegiatan pembelajaran dengan nuansa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diindikasikan dengan keterlibatan siswa secara aktif dalam membangun gagasan/pengetahuan oleh masing-masing individu baik di dalam maupun diluar lingkungan sekolah dengan metode mengajar yang dapat membuat siswa kreatif dalam  proses pembelajaran.

Oemar Hamalik (1983 : 39) mengatakan bahwa : ” Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan dan perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan ”.

Pendapat Oemar Hamalik menunjukkan bahwa, perubahan tingkah laku yang baru akibat belajar tidak hanya menyangkut jumlah pengetahuan, melainkan juga menyangkut masalah kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian dan penyesuaian diri.

Menurut W.S Winkel (1984 : 151) mengemukakan yaitu :

Belajar adalah suatu proses mental yang mengarah kepada pengetahuan kecakapan skill, kebiasaan atau sikap, yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga dapat menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif.

Selanjutnya Witherington (T.T : 3) mengemukakan pengertian belajar adalah sebagai berikut :

 

Belajar mengandung semacam perubahan dalam diri seseorang yang melakukan perbuatan belajar itu. Perubahan itu dapat pengertian, sebagai pengetahuan atau apresiasi (penerimaan atau penghargaan).

 

Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan penciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran PKn.

Dalam hal ini, penulis penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian pada SD Negeri Padang Rasian kelas VI pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang merupakan satu permasaalahan tentang peningkatan prestasi belajar siswa. Sehingga penulis membuat satu Penelitian Tindakan Kelas dengan judul : Upaya Meningkatkan Pemahaman Prestasi Belajar Siswa Kelas VI Mata Pelajaran PKn Materi Proses Perumusan Dasar Negara Republi Indonesia Melalui Metode Diskusi pada SD Negeri Padang Rasian “.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

  • Apakah melalui upaya penggunaan metode diskusi dapat meningkatkan pemahaman prestasi belajar siswa pelajaran PKn tentang materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia dikelas VI SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja ?
  1. Tujuan Penelitian

Untuk mengembangkan kemampuan berfikir dan memberikan pengetahuan dan kecakapan praktis serta meningkatan prestasi belajar siswa mata pelajaran PKn pada materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia melalui penerapan metode diskusi siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja.

  1. Manfaat Penelitian
  2. Memperbaiki proses belajar mengajar dalam meningkatkan prestasi belajar siswa mata pelajaran PKN pada SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan.
  3. Dengan Penerapan Metode Diskusi pada materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia di Kelas VI dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
  4. Mengembangkan kualitas guru dalam mengajar mata pelajaran PKn di Sekolah Dasar Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja.
  5. Metode pembelajaran diskusi akan menjadi model alternative bagi para guru dalam melaksanakan tugasnya untuk menanamkan pemahaman prestasi belajar siswa materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia di Kelas VI mata pelajaran PKn pada SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja.
  6. Dengan adanya model pembelajaran ini akan mempermudah guru dalam mengembangkan kompetensi yang dimiliki siswa baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
  7. Dengan demikian model ini juga berguna bagi pengembangan profesionalitas guru untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar.
  8. Menciptakan rasa senang siswa dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan selama pelajaran berlangsung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

 

  1. Kajian Teori
  2. Beberapa Pengertian Belajar
  3. Metode Diskusi

Istilah metode berasal dari kata yunani “Metha” dan “Hodos”. Metha diartikan melalui atau melewati. Sedangkan hodos berarti jalan atau cara. Dari gabungan dua kata di atas yang dimaksud dengan metode yaitu jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Selain itu metode dapat juga diartikan sebagai teknik yang dipergunakan peserta didik untuk menguasai materi tertentu dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Jadi jika metode ini dikaitkan dalam pendidikan Islam dapat berarti metode sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran yaitu pribadi Islam.

Metode diskusi adalah suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan obyektif. Metode diskusi dimaksudkan untuk dapat merangsang siswa dalam belajar dan berfikir secara kritis dan mengeluarkan pendapatnya dalam memecahkan suatu masalah yang berhubungan dengan dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Metode diskusi adalah satu dari alat yang paling berharga dalam daftar strategi yang dimiliki pengajar, seringkali pengajar dari kelas besar merasa bahwa ia harus menggunakan metode ceramah karena diskusi tidak mungkin digunakan. Sebenarnya diskusi bisa digunakan dalam semua kelas besar maupun kecil. Memang diskusi di kelas kecil lebih efektif dibanding dengan kelas besar, tetapi kelas besar jangan jadi penghalang bagi kemampuan pengajar mendorong partisipasi serta berpikir siswa.

 

b.      Prestasi Belajar Siswa

Prestasi belajar banyak diartikan sebagai seberapa jauh hasil yang telah dicapai siswa dalam penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang diterima dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar pada umumnya dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan dengan satu kriteria (Prakosa, 1991).

Prestasi belajar kemampuan seorang dalam pencapaian berfikir yang tinggi. Prestasi belajar harus memiliki tiga aspek, yaitu kognitif, affektif dan psikomotor. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya pada seorang anak dalam pendidikan baik yang dikerjakan atau bidang keilmuan. Prestasi belajar dari siswa adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa yang didapat dari proses pembelajaran. Prestasi belajar adalah hasil pencapaian maksimal menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap sesuatu yang dikerjakan, dipelajari, difahami dan diterapkan.

Pengertian tentang prestasi belajar. Prestasi belajar diartikan sebagai tingkat keterkaitan siswa dalam proses belajar mengajar sebagai Hasil evaluasi yang dilakukan guru. Menurut Sutratinah Tirtonegoro (1984 : 4), mengemukakan bahwa : Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak didik dalam periode tertentu.

Menurut Siti Partini (1980 : 49), “Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang dalam kegiatan belajar”. Sejalan dengan pendapat dicapai oleh seseorang dalam kegiatan belajar”. Sejalan dengan pendapat itu Sunarya (1983 : 4) menyatakan “Prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang merupakan ukuran keberhasilan siswa”. Haditomo dkk (1980 : 4), mengatakan “Prestasi belajar adalah kemampuan seseoran Dewa Ketut Sukardi (1983 : 51), menyatakan “Untuk mengukur prestasi belajar menggunakan tes prestasi yang dimaksud sebagai alat untuk mengungkap kemampuan aktual sebagai hasil belajar atau learning”. Menurut Sumadi Suryabrata (1987 : 324), “Nilai merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru menganai kemajuan atau prestasi belajar siswa selama masa tertentu”. Dengan nilai rapor, kita dapat mengetahui prestasi belajar siswa. Siswa yang nilai rapornya baik dikatakan prestasinya tinggi, sedangkan yang nilainya jelek dikatakan prestasi belajarnya rendah.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan kegiatan belajar siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode tertentu yang dinyatakan dalam nilai baik berbentuk rapor dan laporan lain seperti nilai mid semester, dimana angka mid semester tersebut mencerminkan keberhasilan seseorang dalam kegiatan belajarnya.

  1. Dasar Negara Pancasila

Pancasila sebagai Dasar Negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final. Hal ini kembali ditegaskan dalam Ketetapan MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara jo Ketetapan MPR No. I/MPR/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002.

Selain itu Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil kesepakatan bersama para Pendiri Bangsa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah “Perjanjian Luhur” bangsa Indonesia.Pancasila merupakan Dasar Negara yang lahir pada tanggal 01 Juni 1945 dan Rumusan Pancasila yang asli termuat dalam Pembukaan UUD 1945 pada Alinea ke-4. Pancasila sudah dikenal sejak berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera pada abad ke VII-XII dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur pada abad ke XII-XVI. Kehidupan manusia Nusantara telah menunjukkan ciri-ciri sikap tingkah laku yang mencerminkan perjalanan sila-sila Pancasila.

Menurut buku Sutasoma karangan Mpu Tantular (1292 – 1307) Pendidikan Kewarganegaraan sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan watak dan karakter sudah menjiwai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang demokratis dan tanggung jawab. Pancasila juga merupakan ajaran tentang penuntun kesusilaan antara lain, jangan melakukan kekerasan, mencuri, berjiwa dengki, berbohong, dan mabuk akibat minuman keras.

Dari kronik sejarah setidaknya ada beberapa rumusan Pancasila yang telah atau pernah muncul. Rumusan Pancasila yang satu dengan rumusan yang lain ada yang berbeda namun ada pula yang sama. Secara berturut turut akan dikemukakan rumusan dari Muh Yamin, Sukarno, Piagam Jakarta, Hasil BPUPKI, Hasil PPKI, Konstitusi RIS, UUD Sementara, UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959), Versi Berbeda, dan Versi populer yang berkembang di masyarakat.

Pada sesi pertama persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada 29 Mei – 1 Juni 1945 beberapa anggota BPUPKI diminta untuk menyampaikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan rancangan “blue print” Negara Republik Indonesia yang akan didirikan. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr.Muhammad Yamin menyampaikan usul dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI.

Menurut ilmu asal usul kata (etimologi), Pancasila berasal dari bahasa sansekerta yaitu Panca dan Sila. Panca berarti lima, sila berarti satu sendi, dasar atau asas. Pancasila sebagai dasar Negara dan pandangan hidup yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila memiliki arti Lima Dasar, dengan urutan dan pemahaman yang terkandung didalamnya sebagi berikut :

  1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila ini menjelaskan bahwa Bangsa Indonesia mengetahui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (YME), Tuhan yang menciptakan manusia sederajat tanpa melihat perbedaan suku, agama, dan warna kulit.

  1. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Sila ini menjelaskan bahwa manusia harus diperlakukan secara adil dan beradab.

  1. Sila Persatuan Indonesia

Sila ini menjelaskan bahwa bangsa Indonesia menempatkan persatuan dan kesatuan serta kepentingan Bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi dan golongan

  1. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan

Sila ini menjelaskan segala persoalan harus diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mufakat, dan masalah-masalah internasional.

  1. Sila Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sila ini menjelaskan bahwa bangsa Indonesia ingin mewujudkan keadilan dan kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

  1. Kelebihan dan Kelemahan dari Metode Diskusi

Kelebihan atau Keunggulan metode diskusi adalah antara lain :

  1. Suasana kelas lebih hidup, sebab siswa mengarahkan perhatian atau pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan.
  2. Dapat menaikan prestasi kepribadian individu, seperti : sikap toleransi, demokrasi, berpikir kritis, sistematis, sabar dan sebagainya.
  3. Kesimpulan hasil diskusi mudah dipahami siswa, karena mereka mengikuti proses berpikir sebelum sampai kepada suatu kesimpulan.
  4. Siswa dilatih belajar untuk mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib layaknya dalam suatu musyawarah.
  5. Membantu murid untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
  6. Tidak terjebak kedalam pikiran individu yang kadang-kadang salah, penuh prasangka dan sempit. Dengan diskusi seseorang dapat mempertimbangkan alasan-alasan/pikiran-pikiran orang lain.

 

 

Kelemahan atau Kekurangan penggunaan metode diskusi antara lain :

  1. Kadang-kadang bisa terjadi adanya pandangan dari berbagai sudut bagi masalah yang dipecahkan, bahkan mungkin pembicaraan menjadi menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.
  2. Dalam diskusi menghendaki pembuktian logis, yang tidak terlepas dari fakta-fakta; dan tidak merupakan jawaban yang hanya dugaan atau coba-coba saja.
  3. Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
  4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.

 

Kelemahan lain dalam metode diskusi adalah kadang-kadang ada siswa yang memonopoli pembicaraan, dan ada pula siswa yang pasif dan tidak acuh. Dalam hal demikian guru hendaknya memperhatikan dan memberi motivasi kepada siswasupaya seluruh siswa ikut serta dalam diskusi. Untuk mengatasi kelemahan atau segi negatif dari metode ini, maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pimpinan diskusi diberikan kepada murid dan diatur secara bergiliran.
  2. Pimpinan diskusi yang diberikan kepada murid, perlu bimbingan dari guru.
  3. Guru mengusahakan supaya seluruh siswa ikut berpartisipasi dalam diskusi.
  4. Mengusahakan supaya semua siswa mendapat giliran berbicara, sementara siswalain belajar mendengarkan pendapat temannya.
  5. Mengoptimalkan waktu yang ada untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

 

  1. Manfaat Metode Diskusi dalam Proses Belajar Mengajar

Guru sebagai pengajar merupakan faktor penentu keberhasilan pendidikan itulah sebabnya peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari pendidikan selalu bermuara pada faktor guru. Oleh sebab itu efektifitas guru dalam menyampaikan materi pelajaran merupakan salah satu aspek yang menentukan keberhasilan pencapaian tujuan belajar dan lancarnya kegiatan belajar mengajar. Juga dituntut guru yang memiliki kompetensi dalam kegiatan belajar mengajar.

Supaya tercapai keberhasilan dalam pendidikan, diperlukan suatu pembaharuan (inovasi). Pembaharuan diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetapi disegala bidang termasuk bidang pendidikan, juga dalam setiap komponen sistem pendidikan.

Selama ini guru memperhatikan proses pembelajaran siswa fasif dalam memproses materi pembelajaran, artinya siswa hanya menerima apa yang diberikan oleh guru di depan kelas tidak berusaha untuk mencari sumber-sumber lain yang dapat meningkatkan nilai hasil belajar karena tidak adanya motivasi belajar sehingga dampaknya nilai yang diperoleh dari hasil pembelajaran sangat rendah. Di samping itu juga kurangnya komunikasi antara guru dan siswa sehingga menyebabkan kefakuman dalam kelas. Ada siswa yang takut-takut menjawab walaupun benar, di samping itu juga guru di dalam menyampaikan materi pembelajaran bersifat absrak atau kurang menggunakan metode diskusi. Seharusnya anak sekolah dasar harus banyak pengenalan konsep secara tanya jawab (diskusi).

Metode pembelajaran menuntut kompetensi yang harus dimiliki siswa sebagai hasil pembelajaran, yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Siswa tidak saja harus mengetahui fakta, konsep atau prinsip, tetapi juga trampil untuk menerapkan pengetahuannya dalam menghadapi masalah dalam kehidupan teknologi. Metode ini juga menuntut siswa untuk belajar aktif. Dengan demikian untuk mengatasi dan membangkitkan semangat  anak dalam belajar, harus menerapkan metode diskusi. Sebagai proses pembelajaran dan diharapkan dengan metode ini dapat meningkatkan minat belajar siswa serta dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa.

Menurut Suryabrata (2002 : 256) “Prestasi belajar adalah kemampuan seseorang yang diperoleh setelah hasil belajar”. Lebih lanjut menurut Widayatun (1999 : 110) menyatakan bahwa : “Prestasi adalah suatu hasil usaha yang di dapat siswa selama mengikuti pembelajaran. Prestasi belajar dapat ditingkatkan dengan cara member motivasi kepada siswa agar mereka giat dalam belajar, sehingga apa yang diinginkan dapat tercapai dengan baik”.

  1. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Belajar di Sekolah Dasar mempunyai tujuan utama untuk merobah tingkah laku yang sesuai dengan situasi tertentu. Adapun tingkah laku yang diharapkan adalah berupa pengetahuan, kemahiran, keterampilan, kepribadian, sikap, kebiasaan dan sebagainya.

Untuk mencapai tujuan yang dimaksud bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi sering kali ada hal-hal yang bisa mengakibatkan kegagalan atau setidak-tidaknya menjadi penghambat dalam mencapai kemajuan belajar. Kegagalan dalam memperoleh prestasi belajar dapat ditentukan oleh berbagai faktor. Perubahan tingkah laku akibat belajar mencakup semua aspek organisme atau pribadi seseorang. Seseorang yang sudah belajar tidak sama lagi dengan saat sebelumnya.

Sesuai dengan pendapat Oemar Hamalik tentang belajar,

Sumardi Suryabrata (1987 : 5), mengemukakakan bahwa :

Belajar merupakan aktifitas yang menghasilkan perubahan ada individu yang belajar (dalam arti behaviral chenges), baik aktual maupun potensial: perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama : dan perubahan itu terjadi karena usaha.

 

 

Selanjutnya Samidjo dan Sri Mardiani (1985 : 11) mengemukakan bahwa :

 

Belajar ialah suatu proses yang dapat membawa perubahan dalam behvior changes, aktual maupun potensial, atau perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru yang terjadi akibat adanya usaha-usaha yang dilakukan dengan sengaja.

 

Dari dua pendapat diatas, maka menjadi lebih jelas dimana belajar itu merupakan suatu proses perkembangan hidup manusia, perkembangan itu akan terjadi atau berubah akibat adanya usaha-usaha yang dilakukan dengan sengaja, seperti praktek latihan atau pengalaman-pengalaman lainnya.

Defenisi lain tentang belajar, E.R. Hilgad mengemukakan dalam buku S.Nasution (1986 : 39) sebagai berikut :

Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor yang tidak termasuk latihan, misalnya perubahan karena mabuk atau menghisap ganja, ini bukan termasuk hasil belajar.

 

 

  1. Faktor Fisiologis

 

Faktor fisiologis adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang erat hubungannya dengan masalah-masalah kejasmanian, terutama sekali tentang fungsi alat-alat indera, karena panca indera itu merupakan pintu masuknya pengaruh luar kedalam diri individu. Orang mengenal dunia luar adalah dengan menggunakan panca indera, jika alat indera tidak dapat berfungsi dengan baik, maka akan dapat memberi pengaruh tertentu terhadap kegiatan dan hasil belajar.

Faktor kesehatan jasmani sangat menentukan apakah belajar seseorang siswa dapat berjalan lancar atau tidak. Untuk menjaga kondisi badan agar tetap baik adalah menjadi keharusan bagi setiap orang yang belajar, dimana keadaan fisik yang sehat justru dapat menyegarkan pikiran seseorang untuk belajar.

Keadaan jasmani yang sehat dan segar dapat memberi pengaruh yang positif bagi kegiatan belajar seseorang terhadap hasil belajarnya. Kekurangan kadar gizi, vitamin dalam tubuh seseorang yang sedang belajar akan mengakibatkan kelesuan, lekas ngantuk, lekas lelah dan lekas bosan, hal ini dapat menjadi penghambat dalam meningkatkan prestasi belajar.

Menurut Slameto (1988 : 56) bahwa :

Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatannya terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang semangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun gangguan-gangguan/kelainan-kelainan fungsi alat indera serta tubuhnya.

 

Menjaga kodisi fisik tetap dalam keadaan baik merupakan salah satu usaha untuk dapat memungkinkan konsentrasi yang baik dan terarah.

Keadaan fisik merupakan suatu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari manusia, karena salah satu unsur itu dapat memberi pengaruh terhadap kegiatannya termasuk kegiatan belajar. Kalau keadaan fisik tidak dengan baik akan berpengaruh pula terhadap unsur-unsur lain pada manusia.

Untuk melakukan kegiatan belajar hendaknya dapat diusahakan agar kesehatan fisik selalu harus dijaga, agar dapat menimbulkan kegairahan dalam belajar dan akhirnya untuk meningkatkan prestasi belajar seoptimal mungkin.

  1. Faktor Psikologis

Faktor psikologis merupakan segala bentuk kemampuan yang berhubungan dengan aspek kejiwaan sebagai hasil yang berpusat pada otak dan akal. Jadi faktor ini merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri individu yang belajar, intelegasi (kemampuan intelektual) bakat, minat dan motifasi belajar. Unsur-unsur tersebut merupakan suatu keseluruhan yang bekerja sama secara serentak terhadap kegiatan belajar, karena itu kita harus menjaga, mengatur dan mengorganisir sedemikian rupa segala bentuk yang bersifat mengganggu dapat teratasi.

 

  1. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan suatu faktor yang berasal dari luar diri individu yang belajar. Dimana faktor tersebut sangat menentukan kelancaran seseorang siswa dalam belajar untuk meningkatkan prestasinya. Adapun faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu faktor keluarga, sekolah dan masyarakat.

  1. Faktor Keluarga

Rumah tangga adlah tempat dimana siswa dilahirkan dan dibesarkan. Didalam rumah tangga siswa pertama sekali menerima pengaruh, yaitu dari orang tua dan sanak saudara lainnya. Pendidikan yang diterima siswa didalam rumah tangga, terutama dari orang tua merupakan dasar pendidikan yang besar sekali artinya bagi pendidikan lanjutan siswa.

Dasar pendidikan rumah tangga yang kuat akan merupakan dasar yang paling kuat pula untuk mendorong keberhasilan belajar anak disekolah. Sebaliknya apabila bekal pendidikan dari rumah tangga kurang memuaskan maka akan sulit bagi anak untuk menerima pendidikan selanjutnya.

Untuk memberikan dasar pendidikan yang memadai kepada siswa, maka orang harus mempunyai pengetahuan yang memadai pula untuk itu. Dalam hal ini tingkat pendidikan orang tua ikut mempengaruhi sisa dalam melakukan kegiatan belajarnya. Karena jika orang tua tidak mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, maka akan mengalami kesulitan untuk memberikan pendidikan kepada anaknya.

 

  1. Faktor Sekolah

Betapapun rapinya rencana kegiatan disekolah, namun dalam pelaksanaannya masih terdapat kelemahan-kelemahan, baik dilihat dari guru mengajar, kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa, hubungan guru dengan siswa kurang baik, hubungan siwa dengan siswa kurang serasi, disiplin sekolah yang kurang sepadan dengan siswa, fasilitas yang tidak memadai dan mungkin juga waktu yang ditetapkan untuk pelajaran tertentu kurang sesuai dengan kondisi siswa, sehingga akan mempengaruhi siswa dalam kegiatan belajarnya yang akan datang di sekolah.

  1. Faktor Masyarakat

Masyarakat adalah lingkungan ketiga bagi perkembangan siswa setelah keluarga dan sekolah. Didalam masyarakat siswa menerima berbagai macam pengaruh, misalnya tentang kegiatan siswa dalam masyarakat, apakan dilihat dari segi pendidikan, suku, keadaan ekonomi dan juga masyarakat yang tidak terpelajar, pencuri, penjudi dan sebagainya.

Lingkungan masyarakat besar pengaruhnya terhadap pendidikan siswa. Apabila lingkungan siswa adalah orang-orang terpelajar, maka akan menumbuh kembangkan semangat untuk belajar. Dan apabila lingkungan siswa orang-orang yang tidak terpelajar, maka akibatnya siswa akan terganggu dan bisa hilang semangat belajrnya.

  1. Penerapan Metode Diskusi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap Dasar Negara Pancasila.

Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal. Pembahasan pembelajaran di SD membahas tentang pengertian pembaharuan dalam inovasi pendidik atau defenisi inovasi dalam bidang pendidikan dengan menguraikan secara sistematis pengertian pembaharuan (inovasi).

Sekolah sebagai lembaga pendidikan memberikan sejumlah pengetahuan sikap dan keterampilan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Salah satu ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah dasar adalah Pendidikan Kewarganegaraan.

Suatu pembelajaran dikatakan berhasil apabila timbul perubahan tingkah laku positif peserta didik sesuai dengan pembelajaran yang telah direncanakan. Kontek ini pada dasarnya tergantung pada guru sebagai unsur penting dalam kegiatan pembelajaran. Memang saat ini sudah menjadi tidak lazim apabila seseorang guru lepas tanggung jawabnya atas keberhasilan siswa dalam belajar. Untuk mewujudkan tanggung jawabnya tersebut guru harus selalu proaktif dan resvonsife terhadap semua fenomena-fenomena yang dijumpai di kelas.

Berdasarkan uraian tersebut diatas guru PKn yang menguasai metode mengajar ilmu Pendidikan Kewarganegaraan sangat mengharapkan siswanya berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Guru PKn yang professional dan kompoten mempunyai wawasan dan landasan yang dapat di pakai dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran PKn. Wawasan itu berupa dasar-dasar teori belajar yang dapat diterapkan untuk pengembangan dan perbaikan pembelajaran PKn. Melalui metode diskusi, guru bisa mengupayakan peningkatan pemahaman Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia.

Dengan demikian dari pendapat di atas dapat dipahami prestasi belajar merupakan bukti nyata sebagai hasil usaha dikerjakan seseorang. Bila prestasi dikaitkan dengan usaha belajar maka prestasi merupakan hasil dari kegiatan belajar yang telah diperoleh seorang pelajar dan juga merupakan suatu kecakapan dari manusia yang telah dicapai berkat adanya usaha belajar.

 

  1. Hipotesis Tindakan

Yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah peningkatan prestasi belajar siswa kelas VI terhadap materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia dengan menggunakan metode diskusi pada SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

 

  1. Setting Penelitian
  2. Waktu Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan selama 3 bulan pada SD Negeri Padang Rasian mulai bulan Agustus sampai dengan Oktober 2017, hal ini sesuai dengan jadwal pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang konsepnya tentang materi Dasar Negara Pancasila pada siswa di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja.

Tabel 3.1

Pembagian Waktu Penelitian

No Kegiatan Waktu
Agustus 2017 September 2017 Oktober 2017
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Pengajuan proposal
2 Penyusunan rancangan
penelitian
3 Pelaksanaan siklus I
4 Analisis hasil siklus I
5 Pelaksanaan siklus II
6 Analisis hasil siklus II
7 Penulisan hasil penelitian

 

 

  1. Tempat Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan pada hari-hari efektif belajar.

 

  1. Subjek Penelitian

Berdasarkan judul penelitian yaitu upaya peningkatkan pemahaman prestasi belajar siswa pada materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia di kelas VI melalui metode diskusi pada SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja, maka subjek penelitiannya adalah siswa kelas VI SD Negeri Padang Rasian yang berjumlah 12 siswa terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan.

 

  1. Dumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa sebagai subjek penelitian. Data yang dikumpulkan dari siswa meliputi data hasil tes tertulis. Tes tertulis dilaksanakan pada setiap siklus yang terdiri dari materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia melalui metode diskusi mata pelajaran PKn kelas VI SD Negeri Padang Rasian.

 

  1. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
  2. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunkaan teknik tes dan non tes. Tes tertulis digunakan pada akhir siklus I dan II, yang terdiri atas materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia, sedangkan teknik non tes meliputi observasi dan dokumentasi.

Observasi digunakan untuk kemampuan memahami Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia dengan metode diskusi dan konstekstual pada siklus I dan siklus II. Sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data, khususnya nilai mata pelajaran PKn

  1. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data meliputi :

  • Lembaran Kerja Kelompok
  • Catatan Guru dan Siswa
  • Wawancara
  • Angket
  • Tes Tertulis, terdiri dari 10 butir soal
  • Non tes, meliputi lembar observasi dan dokumentasi

 

  1. Validasi Data

Validasi data meliputi validasi hasil belajar dan validasi proses belajar.

  1. Validasi Hasil Belajar

Validasi hasil belajar dikenakan pada instrument penelitian yang berupa tes. Validasi ini meliputi validasi teoritis yang artinya mengadakan analisis instrument yang terdiri dari tampilan tes, validitas isi, dan validitas kostruksi. Dan validasi empiris yang artinya analisis terhadap butir-butir tes, yang dimulai dari pembuatan kisi-kisi soal, penulisan butir-butir soal, kunci jawaban dan criteria pemberian skor.

  1. Validasi Proses Pembelajaran

Validasi proses pembelajaran dilakukan dengan teknik triangulasi yang meliputi yaitu triangulasi sumber yakni dilakukan dengan observasi terhadap subjek penelitian yaitu siswa kelas VI SD Negeri Padang Rasian dan kolaborasi dengan guru kelas yang mengajar bidang studi PKn. Dan triangulasi metode dilakukan dengan penggunaan metode diskusi selain metode observasi. Metode diskusi digunakan untuk memperoleh data pendukung yang diperlukan dalam proses pembelajaran PKn.

 

  1. Analisis Data

Pada saat analisis data yaitu data yang dikumpul dalam proses pembelajaran adalah kemampuan siswa selama proses pembelajaran serta prestasi belajar siswa, selama proses pembelajaran Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif, yang meliputi :

  1. Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan Siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indicator pada siklus I dan siklus II.
  2. Analisis deskriptif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.

 

  1. Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi pembelajaran. Metode dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (Class Action Research) yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama untuk peneliti dan decision maker (pembuat keputusan) tentang variable yang dimanipulasikan dan dapat digunakan untuk melakukan perbaikan.

Prosedur penelitian terdiri dari 4 tahap, yakni : Perencanaan, melakukan tindakan, observasi dan evaluasi. Refleksi dalam tahap siklus dan akan berulang kembali pada siklus-siklus berikutnya.

Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan atau aktifitas siswa saat mata pelajaran PKn dengan metode diskusi untuk melihat peningkatan pemahaman, perubahan tingkah laku siswa, dan mengetahui tingkat kemajuan belajarnya yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar atau prestasi belajar siswa.

Data yang diambil adalah data kuantitatif dari hasil tes, presentasi, nilai tugas, serta data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusiasme siswa, partisipasi dan kerjasama dalam diskusi, kemampuan atau keberanian siswa dalam melaporkan hasil.

Dalam PTK siklus selalu berulang-ulang, setelah satu siklus selesai, barang kali guru akan menemukan masalah yang belum tuntas dipecahkan, diajukan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus yang pertama.

Berdasarkan penelitian di atas maka inti dari penelitian adalah adanya tindakan untuk meningkatkan atau memperbaiki kualitas pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang lebih baik. Langkah-langkah pelaksanaan tindakan meliputi keempat komponen dan berlangsung secara bersiklus yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi seperti pada gambar I, sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.

Kegiatan penelitian ini meliputi tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan analisis data. Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah menyusun atau menyiapkan materi pelajaran, menyusun instrument data dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan adalah melakukan post-test sesudah proses belajar mengajar atau member tes pada tiap pertemuan dan pengumpulan data. Pada saat analisis data yaitu data yang dikumpul dalam proses pembelajaran adalah kemampuan siswa selama proses pembelajaran serta prestasi belajar siswa, selama proses pembelajaran.

SIKLUS I

  1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini kegiatan yang dilaksanakan adalah :

  • Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
  • Lembar Kerja Siswa (LKS).
  • Membuat alat bantu (media pembelajaran).
  • Menyusun instrument pengamatan kemampuan guru dan dalam proses belajar mengajar.
  • Menyusun pelaksanaan pembelajaran.

 

  1. Pelaksanaan (Action)

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk setiap kali pertemuan mengikuti siklus rancangan penelitian tindakan (action research).

Berdasarkan model Kemmis Taggark dalam buku Kasihani Hasbullah.

Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perangkat

 

Rencana

(Pertemuan I)

Refleksi

Observasi                                    Siklus I                                            Revisi

Tindakan

Rencana

(Pertemuan II)

Refleksi

Observasi                                    Siklus II                                          Revisi

Tindakan

Rencana

(Pertemuan III)

Refleksi

Observasi                                   Siklus III

Tindakan

 

Laporan

 

 

Gambar I. Siklus Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (Action Research)

Sumber TIM Pelatih Proyek PGSM (1999 : 27)

 

 

  1. Tindakan
  • Menerapkan tindakan yang mengacu pada RPP
  • Siswa membaca materi yang terdapat pada buku sumber
  • Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang terdapat pada buku sumber
  • Siswa mendengarkan tentang materi yang dipelajari
  • Siswa berdiskusi membahas masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru
  • Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi
  • Siswa mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS)
  1. Pengamatan
  • Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan yaitu dengan catatan anekdot untuk mengumpulkan data.
  • Menilai hasil tindakan dengan menggunkaan format Lembar Kerja Siswa (LKS)
  1. Refleksi
  • Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan
  • Malakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS)
  • Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.

 

SIKLUS II

  1. Perencanaan
  • Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan penetapan alternative pemecahan masalah.
  • Menentukan indicator pencapaian hasil belajar
  • Pengembangan program tindakan II
  1. Tindakan
  • Melakukan Apersepsi
  • Menerapkan tindakan yang mengacu pada RPP
  • Siswa membaca dan memahami materi yang terdapat pada buku sumber
  • Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang terdapat pada buku sumber
  • Siswa mendengarkan tentang materi yang dipelajari
  • Siswa melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi
  • Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi
  • Siswa mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS)
  1. Pengamatan
  • Melakukan observasi sesuai dengan format observasi yang sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung untuk mengumpulkan data.
  • Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan.
  1. Refleksi
  • Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul
  • Membahas hasil evaluasi tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  • Memperbaiki tindakan sesuai dengan hasil evaluasi.
  • Evaluasi tindakan II

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran sebelum pelaksanaan tindakan kelas, guru mengajar secara konvensional.  Guru cenderung mentransfer ilmu pada siswa, sehingga siswa pasif, kurang kreatif, bahkan cenderung bosan. Disamping itu dalam menyampaikan materi guru banyak menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta pemberian tugas .

Melihat kondisi pembelajaran yang monoton, suasana pembelajaran tampak kaku, dampaknya adalah perolehan nilai siswa kelas VI pada materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia sebelum siklus I (pra siklus) seperti pada tabel I. Banyak siswa belum mencapai ketuntasan belajar minimal dalam mempelajari materi tersebut, hal ini diindikasikan pada pencapaian nilai hasil belajar dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 65.

Hasil pengamatan ketuntasan tes hasil belajar siswa pada konsep dasar negara pancasila pada pra siklus dapat dilihat dalam table sebagai berikut :

Tabel 4.1

 Perolehan Nilai Siswa

Pelaksanaan Awal

Pra Siklus

 

No Nama Siswa Nomor Soal Jumlah %B
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 B S
1. Cut Raudhatul Jannah 6 4 60
2. Rauzatul Muna 7 3 70
3. Hafizah 6 4 60
4. Ulva Nanda 7 3 70
5. Zulfan Alsyah 6 4 60
6. Khalilul Muharis 5 5 50
7. Muhammad Syafrawi 6 4 60
8. Saifuddin 6 4 60
9. Taufit Andrijal 5 5 50
10. Al Yasir 8 2 80
11. Wahyu Maulana 6 4 60
12. Alisyam 5 5 50
Bobot Nilai 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Jumlah Nilai 730
Nilai Rata-Rata 60,83

 

Berdasarkan analisis terhadap hasil belajar siswa, diperoleh gambaran bahwa selama proses belajar mengajar berlangsung dengan monoton kondisi prestasi belajar siswa dapat kita lihat seperti table 4.1. Dengan ketentuan nilai dapat kita lihat seperti table 4.2 dibawah :

Tabel 4.2

Nilai Tes Pra Siklus

 

 NO Hasil  (Angka) Hasil(Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen
1 85-100 A Sangat baik 0 %
2 75-84 B Baik 1 8,33 %
3 65-74 C Cukup 2 16,67 %
4 55-64 D Kurang 6 50,00 %
5 <54 E Sangat Kurang 3 25,00 %
Jumlah 12 100%

 

Berdasarkan hasil analisis yang digambarkan dalam bentuk tabel diketahui bahwa jumlah siswa yang mendapat nilai A (sangat baik) sejumlah  0 % atau tidak ada, yang mendapat nilai B (baik) sebanyak 8,33 % atau sebanyak 1 siswa dan yang mendapat nilai C (cukup)  sebanyak 16,67 % atau 2 siswa , dan yang mendapat nilai D (kurang) sebanyak 50,00 % atau 6 siswa, sedangkan yang mendapat nilai E (sangat kurang) 25,00 % atau sebanyak 3 siswa.

Dari hasil tes seperti tersebut diatas, sebagian besar  siswa belum mencapai ketuntasan belajar, hanya sebagian kecil yang telah mencapai ketuntasan belajar. Data ketuntasan  belajar pada kondisi awal dapat diketahui pada tabel  dibawah  ini

Tabel 4.3

Ketuntasan Belajar  Siswa Hasil Tes Pra Siklus

 

No Ketuntasan Belajar Jumlah Siswa
Pra Siklus
Jumlah Persen
1. Tuntas 3 25 %
2. Belum Tuntas 9 75 %
Jumlah 12 100%

 

 

Berdasarkan data pada tabel 3  tersebut di atas, diketahui bahwa siswa kelas VI yang memiliki nilai kurang dari KKM 65, sebanyak 9 siswa. Dengan  demikian   jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar minimum untuk kompetensi Dasar Negara Pancasila sebanyak 9 siswa (75 %). Sedangkan yang telah mencapai ketuntasan sebanyak 3 siswa (25 %).

Hasil nilai  pra siklus I  yang diperoleh dari hasil tes awal dapat ditunjukan seperti  dalam tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4.4

Rata-rata Hasil Tes Pra siklus

No Keterangan Nilai
1 Nilai tertinggi 80
2 Nilai Terendah 50
3 Nilai Rata-rata 60,83

 

 

 

 

  1. Deskripsi Hasil Siklus I
    1. Perencanaan Tindakan

Siklus ini direncanakan pada hari Rabu tanggal 02 Agustus 2017, dalam tahap ini Perencanaan tindakan dalam siklus I dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Pemilihan materi dan penyusunan rencana pelasaksanaan pembelajaran

Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah kompetensi dasar negara pancasila. Berdasarkan materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pokok bahasan yang dipilih dalam siklus I tentang  dasar negara pancasila. Berdasarkan pokok bahasan yang telah dipilih tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan  demikian, selama siklus I terjadi 2 kali tatap muka.

  1. Pembentukan kelompok-kelompok belajar

Pada siklus I, siswa dalam satu kelas  dibagi menjadi 3 kelompok kecil  dengan memperhatikan  heterogenitas baik kemampuan, gender.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan Tatap Muka

Tatap muka I dan II dengan Rencana Pembelajaran tentang materi dasar negara pancasila. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode diskusi dengan panduan Lembar Kerja  Siswa ( LKS). Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut;

  • Guru secara klasikal menjelaskan strategi pembelajaran yang harus dilaksanakan siswa.
  • Secara kelompok siswa berkompetisi menentukan makna nilai juang dalam perumusan pancasila
  • Secara kelompok siswa mencari dan menemukan tokoh-tokoh perumusan pancasila dengan panduan Lembar Kerja Siswa (LKS).
  • Secara kelompok siswa berdiskusi menyelesaikan LKS.
  • Secara kelompok siswa bertanya jawab antar kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
  • Guru memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dengan mengadakan evaluasi berupa tes.
  • Guru menilai hasil evaluasi.
  • Guru memberikan tindak lanjut.

 

Sekilas gambaran proses pembelajaran pada siklus I, guru tidak lagi mentransfer materi pada siswa, tapi siswa secara aktif bekerja sama dalam kelompok untuk mencari materi serta mendiskusikannya. Siswa tampak aktif dan bergairah dalam pembelajaran. Dalam kegiatan ini mereka saling bekerja sama  dan bertanggung jawab untuk berkompetisi dengan kelompok lain dalam menyelesaikan lembar kerja siswa. Suasana pembelajaran lebih menyenangkan nampak semua siswa bergairah dalam mengikuti pelajaran.

  1. Observasi

Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh  2 (dua) observer yaitu guru kelas (teman sejawat) pada  SD Negeri Padang Rasian. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan, kerjasama, kecepatan dan ketepatan  siswa dalam  memahami materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan rencana tindakan pada siklus II.

  1. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada siklus I dapat dideskripsikan seperti pada tabel 4.5 berikut ini :

Tabel 4.5

 Perolehan Nilai Siswa

Pelaksanaan Siklus I

 

No Nama Siswa Nomor Soal Jumlah %B
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 B S
1. Cut Raudhatul Jannah 8 2 80
2. Rauzatul Muna 9 1 90
3. Hafizah 7 3 70
4. Ulva Nanda 8 2 80
5. Zulfan Alsyah 6 4 60
6. Khalilul Muharis 7 3 70
7. Muhammad Syafrawi 8 2 80
8. Saifuddin 6 4 60
9. Taufit Andrijal 7 3 70
10. Al Yasir 10 0 100
11. Wahyu Maulana 6 4 60
12. Alisyam 6 4 60
Bobot Nilai 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Jumlah Nilai 880
Nilai Rata-Rata 73,33

 

Berdasarkan analisis terhadap hasil belajar siswa, diperoleh gambaran bahwa selama proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan metode kondisi prestasi belajar siswa dapat kita lihat seperti table 4.5. Dengan ketentuan nilai dapat kita lihat seperti table 4.6 dibawah :

Tabel 4.6

Hasil  Rekap Nilai Tes Siklus I

No Hasil (Angka) Hasil( Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen
1 85-100 A Sangat baik 2 16,67 %
2 75-84 B Baik 3 25,00 %
3 65-74 C Cukup 3 25,00 %
4 55-64 D Kurang 4 33,33 %
5 <54 E Sangat Kurang 0 0,00 %
Jumlah 12 100 %

 

Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa hasil yang mencapai nilai A (sangat baik) adalah 2 siswa (16,67%), sedangkan yang mendapat nilai B (baik) adalah 3 siswa atau (25%), sedangkan dari jumlah 12 siswa yang masih mendapatkan nilai C (cukup) sebanyak 3 siswa (25%), sedangkan yang mendapat nilai D (kurang) ada 4 siswa (33,33%), sedangkan yang mendapat nilai D (sangat kurang) tidak ada atau  (0,00% ).

Tabel 4.7

Ketuntasan Belajar  Siswa Hasil Tes Siklus I

No Ketuntasan Jumlah Siswa
Jumlah Persen
1. Tuntas 8 66,67 %
2. Belum Tuntas 4 33,33 %
Jumlah 12 100 %

 

Berdasarkan  ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 12 siswa terdapat 8 atau 66,67% yang sudah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan 4 siswa atau 33,33% belum mencapai ketuntasan. Adapun dari hasil nilai  siklus I dapat dijelaskan bahwa  perolehan nilai tertinggi adalah 100, nilai terendah 60, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 73,33, seperti pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.8

Rata-rata Hasil Tes siklus I

No Keterangan Nilai
1 Nilai tertinggi 100
2 Nilai Terendah 60
3 Nilai Rata-rata 73,33

Sumber : Data yang diolah

  1. Refleksi

Berdasarkan  hasil tes kemampuan awal dengan hasil tes kemampuan siklus I dapat dilihat adanya pengurangan jumlah siswa yang masih di bawah Kriteria ketuntasan Minimal. Pada pra siklus jumlah siswa yang dibawah KKM  sebanyak 9 siswa dan pada akhir siklus I berkurang menjadi 4 siswa.  Nilai rata-rata kelas meningkat dari 60,83 menjadi 73,33. Jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I, seperti disajikan dalam tabel 4.9 berikut ini.

Tabel 4.9

 Perbandingan  Hasil Nilai Tes Pra Siklus  dan Siklus I

No Hasil tes(dalam huruf ) Jumlah siswa yang berhasil
Pra siklus Siklus I
1 A  (85 -100) 2
2 B  (75-84) 1 3
3 C  (65-74) 2 3
4 D  (55-64) 6 4
5 E  (< 54) 3 0
Jumlah 12 12

 

Peningkatan Ketuntasan belajar siswa tampak pada tabel dibawah ini, jika  dibandingkan hasil pra siklus dan siklus I, dapat  dilihat pada tabel berikut

Tabel 4.10

Perbandingan Ketuntasan Belajar antara Pra Siklus dengan Siklus I

No Ketuntasan Jumlah Siswa
Pra Siklus Siklus I
Jumlah Persen Jumlah Persen
1. Tuntas 3 25 % 8 66,67 %
2. Belum  Tuntas 9 75 % 4 33,33 %
Jumlah 12 100% 12 100%

 

Peningkatan hasil rata- rata kelas nampak ada perubahan pra siklus dengan siklus I

Tabel 4.11

Perbandingan nilai rata-rata Pra Siklus dan Siklus I

 

No Keterangan Pra siklus Siklus I
1 Nilai tertinggi 80 100
2 Nilai terendah 50 60
3 Nilai rata- rata 60,83 73,33

 

Berdasarkan data pada tabel 4.11 di atas, dapat disimpulkan bahwa metode diskusi mampu meningkatkan hasil belajar, khususnya pada kompetensi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, rata-rata kelas pun mengalami kenaikan menjadi 73,33.  Walaupun sudah terjadi kenaikan seperti tersebut di atas, namun hasil tersebut belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, karena sebagian siswa beranggapan bahwa kegiatan secara kelompok akan mendapat prestasi yang sama. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II.

 

  1. Deskripsi Hasil Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut.

  1. Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan dalam siklus II dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Pemilihan materi dan penyusunan rencana pelasaksanaan pembelajaran

Dalam siklus II, pada hakikatnya merupakan perbaikan atas kondisi siklus I. Materi pelajaran dalam siklus II adalah keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Atas dasar materi pelajaran tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut adalah 2 x 35 menit dengan 2 kali tatap muka.

  1. Pembentukan kelompok siswa

Pada siklus II, strategi pembelajaran yang digunakan adalah metode problem solving dikemas dalam bentuk kuis yang dikompetisikan antar kelompok, sehingga siswa dibagi menjadi 3 kelompok untuk dasar negara pancasila secara benar tepat dan cepat

  1. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan Tatap Muka

Tatap muka I dan II dengan RPP tentang materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia.  Metode pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran dengan alat peraga PKn. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Guru memberikan evaluasi atas kegiatan pembelajaran pada siklus I.
  • Guru memberikan motivasi pentingnya memahami makna nilai juang dalam perumusan pancasila.
  • Guru melatih siswa untuk menerapkan strategi belajar nilai juang perumusan pancasila secara mandiri.
  • Mengevaluasi tugas latihan dasar negara pancasila serta membuat alat peraga.
  • Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran.
  • Guru memberikan evaluasi dengan tes.
  • Guru menilai hasil evaluasi.

 

Pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus II siswa masih belajar secara kelompok, namun dalam kegiatan kelompok ini siswa tertantang untuk lebih mandiri dalam menguasai materi. Karena disamping belajar secara kelompok , namun mereka antar individu harus berkompetisi secara pribadi .

 

  1. Observasi

Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh  2 (dua) observer yaitu guru kelas VI SD Negeri Padang Rasian Kecamatan Pasie Raja. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui aktivitas siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi.

  1. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada siklus II dapat dideskripsikan seperti pada tabel 4.12 berikut ini.

Tabel 4.12

 Perolehan Nilai Siswa

Pelaksanaan Awal

Siklus II

 

No Nama Siswa Nomor Soal Jumlah %B
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 B S
1. Cut Raudhatul Jannah 9 1 90
2. Rauzatul Muna 10 0 100
3. Hafizah 8 2 80
4. Ulva Nanda 8 2 80
5. Zulfan Alsyah 7 3 70
6. Khalilul Muharis 7 3 70
7. Muhammad Syafrawi 8 2 80
8. Saifuddin 7 3 70
9. Taufit Andrijal 7 3 70
10. Al Yasir 10 0 100
11. Wahyu Maulana 7 3 70
12. Alisyam 6 4 60
Bobot Nilai 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Jumlah Nilai 940
Nilai Rata-Rata 78,33

 

Berdasarkan analisis terhadap hasil belajar siswa, diperoleh gambaran bahwa selama proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan metode pembelajaran, kondisi prestasi belajar siswa dapat kita lihat seperti table 4.12. Dengan ketentuan nilai dapat kita lihat seperti table 4.13 dibawah :

 

 

 

 

Tabel 4.13

Rekap Hasil Nilai Tes Siklus II

No Hasil(Angka) Hasil(Huruf) Arti Lambang JumlahSiswa Persen
1 85-100 A Sangat Baik 3 25,00  %
2 75-84 B Baik 3 25,00  %
3 65-74 C Cukup 5 41,67  %
4 55-64 D Kurang 1 8,33 %
5 <54 E Sangat Kurang
Jumlah 12 100%

 

Dari  diagram di atas dapat diketahui bahwa yang mendapatkan nilai sangat baik (A) adalah 25,00 % atau 3 siswa, sedangkan yang mendapat nilai baik (B) adalah 25,00% atau 3 siswa. Dan yang mendapat nilai C (cukup) adalah 41,67% atau sebanyak 5 siswa. Sedangkan yang mendapat nilai D sebanyak 1 siswa atau 8,33% dan yang mendapat nilai E sebanyak  0%. Sedangkan nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan menjadi 78,33.

Ketuntasan belajar pada siklus II dapat ditabulasikan seperti pada tabel 4.14 di bawah ini

Tabel 4.14

Ketuntasan Belajar Siklus II

No Ketuntasan Belajar Jumlah  Siswa
Jumlah Persen
1. Tuntas 11 91,67 %
2. Belum Tuntas 1 8,33 %
Jumlah 12 100 %

 

Berdasarkan data tersebut di atas diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 11 siswa ( 91,67 %) yang berarti sudah ada peningkatan yang signifikan. Rata-rata kelas pun menjadi meningkat dan hasil nilai rata- rata di siklus II dapat diperjelas  di bawah ini :

Tabel 4.15

Rata-rata Hasil Tes siklus II

No Keterangan Nilai
1 Nilai tertinggi 100
2 Nilai Terendah 60
3 Nilai Rata-rata 78,33

 

  1. Refleksi

Berdasarkan  nilai hasil siklus I dan nilai hasil siklus II dapat diketahui bahwa metode problem solving dapat meningkatkan hasil belajar Sains, khususnya kompetensi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia. Untuk lebih jelasnya pada tabel 17 berikut dipaparkan hasil refleksi pada siklus II.

Tabel 4.16

Perbandingan Hasil Nilai Tes Model Siklus I dan Siklus II

No Hasil Tes Jumlah Siswa yang Berhasil
Siklus I Siklus II
1    A (85 -100) 2 3
2 B (75-84) 3 3
3 C (65-74) 3 5
4 D (55-64) 4 1
5     E (< 54)
Jumlah 12 12

Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal , siklus I dan siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal rata- rata kelas sebesar 60,83, sedangkan nilai rata- rata kelas siklus I sudah ada peningkatan menjadi 73,33.Adapun kenaikan rata–rata pada siklus II menjadi 78,33.  Untuk lebih jelasnya  dapat dilihat pada tabel dan dibawah ini :

Tabel 4.17

Perbandingan Hasil Tes  Pra siklus, siklus I dan Siklus II

NO Hasil LambangAngka Hasil Evaluasi Arti Lambang Pra Siklus Model Siklus I Model Siklus II
1 85-100 A Sangat Baik 2 3
2 75-84 B Baik 1 3 3
3 65-74 C Cukup 2 3 5
4 55-64 D Kurang 6 4 1
5 <54 E Sangat Kurang 3
Jumlah 12 12 12

 

Tabel 4.18

Perbandingan ketuntasan nilai rata- rata  Pra siklus, siklus I dan siklus II

No Uraian Jumlah siswa   Rata-Rata
Tuntas Belum Tuntas
1 Kondisi Awal 3  siswa 9  siswa 60,83
2 Siklus I 8  siswa 4  siswa 73,33
3 Siklus II 11  siswa 1  siswa 78,33

 

Atas dasar informasi pada tabel 15 dan 16 di atas, dapat disimpulkan bahwa metode diskusi khususnya pada penguasaan kompetensi Dasar Negara Pancasila ada peningkatan.

  1. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar PKn khususnya penguasaan kompetensi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia pada siswa SD Negeri Padang Rasian kelas VI semester I tahun pelajaran 2017/ 2018. Hal tersebut dapat dianalisis dan dibahas sebagai berikut.

1.Pembahasan Pra Siklus I                                           

      1).Hasil  Belajar

Pada awalnya siswa SD Negeri Padang Rasian kelas VI, nilai rata- rata pelajaran PKn rendah khususnya pada kompetensi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia. Yang jelas salah satunya disebabkan karena luasnya kompetensi yang harus dikuasainya dan perlu daya ingat yang setia sehingga mampu menghafal dalam jangka waktu lama. Sebelum dilakukan tindakan guru memberi tes. Berdasarkan ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 12 siswa terdapat 3 atau 25 % yang baru mencapai ketuntasan belajar dengan skor standar Kriteria Ketuntasan Minimal. Sedangkan 9 siswa atau 75,00% belum mencapai kriteria ketuntasan minimal untuk kompetensi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia yang telah ditentukan yaitu sebesar 65.  Sedangkan  hasil nilai  pra siklus I  terdapat  nilai tertinggi adalah 80, nilai terendah 50, dengan rata-rata kelas sebesar 60,83.

2)  Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran  pada pra siklus  menunjukkan bahwa siswa masih pasif, karena tidak diberi respon yang menantang. Siswa masih bekerja secara individual, tidak tampak kreatifitas siswa maupun gagasan yang muncul. Siswa terlihat jenuh dan bosan tanpa gairah karena pembelajaran selalu monoton.

 

  1. Pembahasan Siklus I

Hasil Tindakan pembelajaran pada siklus I, berupa hasil tes dan non tes. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap pelaksanaan siklus I diperoleh keterangan sebagai berikut :

1) Hasil Belajar

Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa hasil yang mencapai nilai A (sangat baik) adalah 2 siswa (16,67%), sedangkan yang mendapat nilai B (baik) adalah 3 siswa atau (25%), sedangkan dari jumlah 12 siswa yang masih mendapatkan nilai C (cukup) sebanyak 3 siswa (25%), sedangkan yang mendapat nilai D (kurang) ada 4 siswa (33,33%), sedangkan yang mendapat nilai D (sangat kurang) tidak ada atau atau 0 % .

Berdasarkan  ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 12 siswa terdapat 8 atau 66,67% yang sudah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan 4 siswa atau 33,33% belum mencapai ketuntasan. Adapun dari Hasil nilai  siklus I dapat dijelaskan bahwa  perolehan nilai tertinggi adalah 100, nilai terendah 60, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 73,33.

2)  Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran pada siklus I sudah menunjukkan adanya perubahan, meskipun belum semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan kegiatan yang bersifat kelompok ada anggapan bahwa prestasi maupun nilai yang di dapat secara kelompok . Dari hasil pengamatan telah terjadi kreatifitas dan keaktifan siswa secara mental maupun motorik, karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan permainan serta perlu kecermatan dan ketepatan. Ada interaksi antar siswa secara individu maupun kelompok , serta antar kelompok. Masing-masing siswa ada peningkatan latihan bertanya dan menjawab antar kelompok , sehingga terlatih ketrampilan bertanya jawab. Terjalin kerjasama inter dan antar kelompok. Ada persaingan positif antar kelompok mereka saling berkompetisi untuk memperoleh penghargaan dan menunjukkan untuk jati diri pada siswa.

Hasil antara kondisi awal dengan siklus I menyebabkan adanya perubahan walau belum bisa optimal, hal ini ditandai  dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar. Dari hasil tes akhir siklus I ternyata lebih baik dibandingkan dengan tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal atau sebelum dilakukan tindakan. Perbandingan tersebut dapat disajikan pada tabel berikut :

 

Tabel 4.19

Perbandingan kegiatan dan hasil  pada pra siklus dan siklus I

NO Pra Siklus Siklus I
1 Tindakan Tindakan
Pembelajaran konvensional, tanpa menggunakan metode  Penerapan yang mengacu pada RPP dengan menggunakan metode diskusi
2 Hasil Belajar Hasil Belajar
v   Ketuntasan v   Ketuntasan
~ Tuntas             : 3  ( 25 %) ~ Tuntas             : 8  ( 66,67 %)
~ Belum tuntas  :  9 ( 75 %) ~ Belum tuntas  :  4  ( 33,33 %)
v   Nilai Tertinggi     : 80 v   Nilai Tertinggi    : 100
v   Nilai terendah      : 50 v   Nilai terendah     : 60
v   Nilai rata- rata      : 60,83 v   Nilai rata- rata     : 73,33
v   Refleksi
 Nilai rata- rata meningkat 12,5
=  12,5/60,83 x100% =20,55%
2 Proses belajar Proses belajar
v   Proses pembelajaran pasif v   Proses pembelajaran ada perubahan, siswa mulai aktif
v   Siswa kurang terlibat dalam proses pembelajaran v   Siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran
v   Siswa hanya mendengarkan , kadang mencatat v   Siswa mencari dan menemukan materi, mencatat dan mengkomunikasikan antar teman dalam kelompok maupun antar kelompok
v   Belum memanfaatkan media pembelajaran yang tepat v   Sudah memanfaatkan media pembelajaran sesuai materi
v   Belum tumbuh kreatifitas dan kerjasama antar teman v    Kreatifitas, kerjasama, tanggung jawab mulai tampak
v   Sebagian kecil indera yang aktif v    Sebagian besar alat indera aktif

 

Dari hasil refleksi siklus I dapat disimpulkan bahwa  melalui penerapan metode diskusi siswa mengalami peningkatan baik dalam mencapai ketuntasan belajar yaitu dari 9 siswa belum tuntas pada pra siklus dan 4 siswa yang belum tuntas pada siklus I.  Sedangkan nilai rata – rata kelas ada kenaikan sebesar 20,55% . Pada siklus I ini belum semua siswa mencapai ketuntasan karena ada sebagian siswa berpandangan bahwa kegiatan yang bersifat kelompok , penilaiannya juga kelompok.

 

  1. Pembahasan Siklus II

Hasil tindakan pembelajaran pada siklus II berupa hasil tes dan non tes, Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan oleh peneliti terhadap pelaksanaan siklus II diperoleh keterangan sebagai berikut.

  1. Hasil Belajar

Dari  pelaksanaan tindakan siklus II dapat diketahui bahwa yang mendapatkan nilai sangat baik (A) adalah 25 % atau 3 siswa, sedangkan yang mendapat nilai baik (B) adalah 25 % atau 3 siswa. Dan yang mendapat nilai C (cukup) adalah 41,67 % atau sebanyak 5 siswa. Sedangkan yang mendapat nilai D sebanyak 1 siswa atau 8,33 % dan yang mendapat nilai E tidak ada atau 0 %. Sedangkan nilai rata-rata kelas memperoleh peningkatan 78,33.

2) Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran pada siklus II sudah menunjukkan semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan sekalipun kegiatan bersifat kelompok namun ada tugas individual yang harus dipertanggung jawabkan,  karena ada kompetisi kelompok maupun kompetisi individu. Dari hasil pengamatan telah terjadi kreatifitas dan keaktifan siswa secara mental maupun motorik, karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan permainan  perlu kecermatan dan ketepatan . Ada interaksi antar siswa secara individu maupun kelompok, serta antar kelompok. Masing- masing siswa ada peningkatan latihan bertanya jawab dan bisa mengkaitkan dengan mata pelajaran lain maupun pengetahuan umum, sehingga disamping  terlatih ketrampilan bertanya jawab, siswa terlatih berargumentasi. Ada persaingan positif antar kelompok untuk penghargaan  dan menunjukkan jati diri pada siswa.

Hasil antara siklus I dengan siklus II  ada perubahan secara signifikan , hal ini ditandai  dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar . dari hasil tes akhir siklus II ternyata lebih baik dibandingkan dengan tingkat ketuntasan belajar siswa pada siklus I.

Peningkatan hasil belajar maupun ketuntasan  tersebut dapat disajikan pada tabel 18 dibawah ini :

 

 

 

Tabel 4.20

Perbandingan kegiatan dan  hasil pada  siklus I dan  siklus II

NO  Siklus I Siklus II
1 Tindakan Tindakan
 Penerapan yang mengacu pada RPP dengan menggunakan metode diskusi  Penerapan metode problem solving dipandu dengan kuis kompetitif
2 Hasil Belajar Hasil Belajar
v   Ketuntasan v   Ketuntasan
~ Tuntas            :  8  ( 66,67 %) ~ Tuntas             : 11  ( 91,67 %)
~ Belum tuntas :  4  ( 33,33 %) ~ Belum tuntas  :   1   ( 8,33 %)
v   Nilai Tertinggi    : 100 v   Nilai Tertinggi    : 100
v   Nilai terendah     : 50 v   Nilai terendah     : 60
v   Nilai rata- rata     : 73,33 v   Nilai rata- rata     : 78,33
v   Refleksi
 Nilai rata- rata meningkat 5,00
=  5,00/73,33 x100% = 6,82%
2 Proses belajar Proses belajar
v   Proses pembelajaran ada perubahan, siswa mulai aktif v   Proses pembelajaran  siswa aktif dan kreatif serta cekatan
v   Siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran v   Siswa  terlibat langsung dalam proses pembelajaran, dan masing- masing siswa punya tugas mandiri
v   Siswa mencari dan menemukan materi, mencatat dan mengkomunikasikan antar teman dalam kelompok maupun antar kelompok v   Siswa mencari dan menemukan materi, mencatat dan mengkomunikasikan dan mendemontrasikan hasil penyelesaian secara kompetitif  antar teman dalam kelompok maupun antar kelompok
v   Sudah memanfaatkan media pembelajaran sesuai materi v   Sudah memanfaatkan media pembelajaran sesuai materi  yang diperagakan
v    Kreatifitas, kerjasama, tanggung jawab mulai tampak v   Kreatifitas, kerjasama, tanggung jawab dan ide, kecermatan, ketepatan dan kecepatan muncul
v    Sebagian besar alat indera aktif v   Semua alat  alat indera aktif, baik mental maupun fisik

Dengan melihat perbandingan hasil tes siklus I dan siklus II ada peningkatan yang cukup signifikan, baik dilihat dari ketuntasan  belajar maupun hasil perolehan nilai rata- rata kelas. Dari sejumlah 12 siswa masih ada 1 siswa yang belum mencapai ketuntasan, hal ini memang siswa tersebut harus mendapatkan pelayanan khusus, namun sekalipun 1 siswa ini belum mencapai ketuntasan, di sisi lain tetap bergairah dalam belajar. Sedangkan ketuntasan ada peningkatan sebesar 78,33 dibandingkan pada siklus I

Sedangkan nilai tertinggi pada siklus II sudah ada peningkatan dengan mendapat nilai 100 sebanyak 3 siswa, hal ini karena ke-tiga siswa tersebut disamping mempunyai kemampuan cukup, didukung rasa senang dan dalam belajar, sehingga mereka dapat nilai yang optimal. Dari nilai rata- rata kelas yang dicapai pada siklus II ada peningkatan sebesar 6,82 % dibandingkan nilai rata- rata kelas pada siklus I. Secara umum dari hasil pengamatan dan tes sebelum pra siklus, hingga siklus II, dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar PKn kompetensi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia sebesar 78,33.

 

  1. Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian, dapat dilihat dan telah terjadi peningkatan pemahaman makna Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia pada siswa kelas VI SD Negeri Padang Rasian pada semester I tahun pelajaran 2017/2018 melalui penerapan metode diskusi. Peningkatan  nilai rata- rata  yaitu 60,83 pada kondisi awal menjadi 73,33 pada siklus I dan menjadi 78,33 pada siklus II. Nilai rata-rata siklus I meningkat 20,55 % dari kondisi awal, nilai rata-rata siklus II meningkat 6,82 % dari siklus I. Sedangkan ketuntasan belajar pada siklus I ada peningkatan sebesar 12,5 % dari kondisi awal, siklus II meningkat 5,0 % dari siklus I. Peningkatan nilai rata-rata kelas secara keseluruhan  sebesar 27,37 % .

Berdasarkan analisis terhadap tes hasil belajar siswa pada Siklus II dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari Siklus I. Disini semua siswa dapat dikatakan tuntas belajarnya, karena siswa sudah lebih memahami tentang materi yang dipelajarinya dan sangat termotivasi dalam melakukan kegiatan belajar dan telah banyak juga kemajuan yang dicapai siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan penerapan metode diskusi, sesuai dengan yang diharapkan.

Pada akhir pembelajaran terdapat perubahan positif pada siswa mengenai pemahaman cahaya dan sifat-sifatnya. Dengan menggunakan metode diskusi ternyata mampu meningkatkan prestasi belajar PKn pada materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode diskusi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VI SD Negeri Padang Rasian materi Proses Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia yang dilaksnakan dengan model demonstrasi dan konstekstual tahun pelajaran 2017/2018. Peningkatan  nilai rata- rata  yaitu 60,83 pada kondisi awal menjadi 73,33 pada siklus I dan menjadi 78,33 pada siklus II. Nilai rata-rata siklus I meningkat 20,55 % dari kondisi awal, nilai rata-rata siklus II meningkat 6,82% dari siklus I. Sedangkan ketuntasan belajar pada siklus I ada peningkatan sebesar 12,5 % dari kondisi awal, siklus II meningkat 5,0 % dari siklus I. Peningkatan nilai rata-rata kelas secara keseluruhan  sebesar 27,37 % . Dengan demikian, berdasarkan analisis terhadap tes hasil belajar siswa pada Siklus II dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari Siklus I. Disini semua siswa dapat dikatakan tuntas belajarnya, karena siswa sudah lebih memahami tentang materi yang dipelajarinya dan sangat termotivasi dalam melakukan kegiatan belajar dan telah banyak juga kemajuan yang dicapai siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan penerapan metode diskusi, sesuai dengan yang diharapkan.

  1. Saran-Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat disarankan agar :

  • Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dapat menggunakan metode diskusi sebagai salah satu alternative dalam proses pembelajaran di sekolah.
  • Melalui pembelajaran ini, guru dapat dengan mudah merespon potensi atau modelitas siswa dalam setiap kelompok belajar, apakah tergolong kepada kelompok Visual (pandangan), kelompok Auditorial (pendengaran) atau kelompok Kinestetik (gerakan).
  • Diharapkan seorang guru yang professional dapat lebih efektif melakukan kegiatan proses belajar mengajar, serta dengan mudah dapat merespon perbedaan-perbedaan potensi yang dimiliki siswanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, dkk. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bina Aksara

 

Budimansyah, D. (2002). Model Pembelajaran dan Penelitian Portofolio. Bandung  PT. Ganesindo

 

  1. Restu Cipto Handoyo, SH, MH. (2003). Hukum Tata Negara, Kewarganegaraan, dan Hak Azasi Manusia. Yogyakarta : Penerbit Universitas Atma Jaya

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001). Jakarta : Balai Pustaka

 

C.S.T. Kansil dan Cristine S.T, (2003). Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara

 

Mastur, Widiarso Wiyono, Slamet (2007). Pendidikan Kewarganegaraan SD/MI Kelas VI. Semarang : Penerbit Aneka Ilmu.

 

BNSP. (2006). Standar Isi, Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Kewarganegaraan untuk SD/MI. Jakarta : BNSP.

 

Tim Redaksi. (2003). Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen MPR). Jakarta : Penerbit Restu Agung.

 

Pemerintah No.20 Tahun 2007. Tentang Standar Penilaian.

 

Pemerintah No. 40 Tahun 2009. Tentang Standar Proses.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FOTO KEGIATAN

PRA SIKLUS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FOTO KEGIATAN

SIKLUS I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Views All Time
Views All Time
180
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY