Malas, mendengar kalimat ini maka yang muncul dalam benak kita ialah sesosok manusia yang enggan untuk melakukan suatu pekerjaan, dimana santai-santailah wataknya. ‘Malas adalah wabah penyakit yang menyerang manusia kebanyakan, dimana penyakit ini mendorong manusia untuk tidak mengejar kemajuan dan keutamaan serta rela gagal mencapai sesuatu sebelum mencobanya.”[1]

Malas merupakan cara saitan dalam menjauhkan anak cucu Adam dari kebaikan, bagaimana tidak demikian, karna dengan malas dapat membuat  kita tak mampu dekat dengan Sang Pencipta. Dimana rasa malas ini menghalang-halangi manusia untuk bergerak dalam melakukan kebaikan seperti menuntut ilmu, bersedekah,pergi ke masjid,pergi berwudhu dan lain sebagainya.

Ketika syaitan meniupkan hawa malas kedalam diri kita maka bersiap-siap kita akan masuk kedalam golongan orang-orang merugi. Maka  memohonlah kepada Allah agar terbebas dari angin-angin kemalasan, dimana orang yang merugi itu tidak mampu memanfaatkan waktu yang dimiliki sekarang dengan sesuatu yang bermanfaat. Orang yang mencintai kemalasan ia akan dijauhi oleh kesuksesan, kesuksesan dunia akan menjauh dari nya terlebih kesuksesan akhirat.

Rasa malas dapat membuat pemiliknya tak berdayaguna baik untuk dirinya pribadi ataupun orang lain. Bagaimana mungkin kita  dapat berjumpa dengan kesuksesan, jika masih menjadikan rasa malas sebagai teman setia. Lihatlah para sukses yang berada didepan kita semua dari mereka sebagian besar meraihnya dengan  bekerja keras seperti salah satu pernyataan yang dikutip penulis bahwa saya tidak akan pernah berhasil karena kebetulan, tetapi saya berhasil karena bekerja dan ulet (Hemingway)[2]

Terlebih untuk urusan akhirat, ketika akan menjemput kebahagiaan duniawipun perlu berbagai pengorbanan apa lagi untuk akhirat. Namun ketika landasan segala apa yang dilakukan untuk Allah semata, maka Insha Allah akan bernilai ibadah, yang akan mengantarkan diri kita kepada kesuksesan sejati yang akan kita jemput di alam keabadian. Maka untuk masuk kedalam gerbang kesuksesan sejati itu yang harus kita lakukan jangan bermalas-malasan itu takhayul. Cobalah jangan sungkan untuk mendekat diri kepada-Nya, libatkan Sang Pemilknya jika kita ingin mendapatkan kesuksesan itu, bukankah semua ini ada didalam genggaman-Nya lalu apa yang membuat manusia bermalas-malasan. Bermalas-malasan (hidup santai) akan membuat hina seperti yang dikatakan salah satu literatur :

seseorang tidak membiasakan hidup santai, kecuali ia pasti hina. Cinta kepada kemudahan menimbulkan kehinaan, dan cinta kepada kecukupan adalah kunci ketidakberdayaan”[3]

Malas merupakan duri penghalang yang harus dicabut dari kulit kesuksesan, jika tidak segera dicabut maka kesuksesan itu akan terinfeksi olehnya. Islam mencela orang-orang yang memiliki watak malas.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam pernah memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari sifat yang bernama malas ini. Di riwayatkan dari Anas, Nabi bersabda :

“ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan, kesedihan, ketidakberdayaan, malas, takut dan bakhil ”[4]

Dan sebagian ahli hikmah berkata :

Gerak adalah barakah, lemah semangat adalah kebinasaan, dan malas adalah kesengsaraan ”[5]

 

Sifat malas merupakan salah satu fitrah manusia, bisa saja ia tiba-tiba muncul didalam diri kita, ketika malas ini menyerang beristirahatlah. Beristirahat berbeda dengan leha-leha, istirahat artinya kita sedang mengumpulkan energi kembali agar semangat seperti sediakala, berbeda dengan berleha-leha ini artinya ia enggan atau tak berkeinginan untuk melakukan sesuatu jika dibiarkan justru menyebabkan si pemiliknya pada sebuah jurang ketertinggalan dan binasa bersama dengan kemalasan tersebut.

Nabi shallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda di dalam hadist ‘ Abdullah bin ‘Umar :

Setiap perbuatan mempunyai masa semangat, dan setiap masa semangat mempunyai masa surut  ( fatrah). Barangsiapa masa surutnya kepada Sunnahku, maka ia Berjaya. Dan barang siapa masa surutnya kepada selain sunnahku, maka ia binasa”[6]

[1] Muhammad bin Hasan Aqil Musa Syarif. Op. Cit 110

[2] Syahrul. (2016). 11 jurus rahasia menjadi juara. Surakarta: Kekata. Hlm 11

[3] Muhammad bin Hasan Aqil Musa Syarif. Op. Cit 147

[4] Ibid.,  112

[5] Ibid.

[6]  Ibid., 114

Views All Time
Views All Time
40
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY