Wacana Guru Luar Negeri Ku

0
66

Oleh : Imam Syafii
Guru MAN 1 Musi Rawas

Mencermati pemberitaan diberbagai media sosial sejak dari tanggal 9 Mei 2019 hingga hari ini (13/5) wacana tentang “Guru”, ya “Guru Luar Negeri” ternyata menyedot perhatian publik terutama para pemangku kebijakan seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, organisasi profesi PGRI, IGI, hingga pemerhati dan praktisi pendidikan di tanah air. Mata perhatian publik seolah-olah terbelalak lebar oleh stateman dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani terkait rencananya mendatangkan guru dari luar negeri untuk mengajar di Indonesia.

“Kita ajak guru dari luar negeri untuk mengajari ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia,” kata Puan saat menghadiri diskusi Musrenbangnas di Jakarta, Kamis (9/5). Ia meminta pihak berkepentingan seperti sekolah untuk menyampaikan pengajar seperti apa yang dibutuhkan dan berapa jumlahnya, nanti akan dikoordinasikan untuk didatangkan. (https://www.law-justice.co/artikel/65090/menteri-puan-datangkan-guru-dari-luar-negeri-mengajar-di-ri/)

Berbagai pendapat dan kritik mengalir deras disampaikan melalui media-media sosial tentang wacana mendatangkan guru luar negeri ke negeri tercinta ini. Pro dan Kontra menghiasai setiap pembicaraan dan pendapat para penggiat, praktisi dan pelaku pendidikan di media sosial.

Menurut hemat penulis berbagai kritik dan pendapat yang berkembang menyikapi rencana ini tentulah sangat wajar dan rasional oleh karena di dalamnya terkandung makna perhatian dan kecintaaan yang mendalam terhadap sosok pendidik dan bagaimana pendidikan semestinya di negeri ini semakin maju sehingga mampu bersaing dan setara dengan pendidikan negara-negara maju lainnya.

Polemiknya dimana? Sehingga booming dan menjadi tranding issue dalam beberapa hari terakhir ini dan terus disuarakan di media-media sosial. Jawabannya adalah interprestasi kata “mendatangkan”, sosok guru dari luar negeri yang diwacanakan oleh Pemerintah dimaknai oleh publik dengan “mengimport guru sehingga muncul istilah “Guru Import” yang diasumsikan akan menggantikan peran guru dalam mengajar di sekolah-sekolah, inilah yang kemudian menjadi perbincangan hangat, pertanyaannya perlukah kita mengimport guru?

Terkait dengan hal tersebut Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi menyatakan dukungannya jika yang dimaksudkan rencana pemerintah adalah mendatangkan guru luar negeri dengan tujuan untuk memberikan pelatihan dan mengajari guru-guru bagaimana cara mengajar yang baik, memotivasi untuk mengajar, saling tukar pengalaman dan sebagai instruktur dalam kegaiatan Training of Trainer dan di Balai-balai latihan kerja dan bukan untuk menggantikan guru-guru yang sudah ada dirinya setuju dan mendukung. https://www.infodikdas.com/2019/05/pgri-dukung-rencana-datangkan-guru-dari-luar-negeri.html?), tetapi jika yang dimaksudkan adalah mengimport guru maka PGRI tidak setuju dan menolak hal itu (https://www.infodikdas.com/2019/05/ketua-pgri-kalau-impor-guru-ya-kami-menolak.html)

Sementara itu Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim yang secara tegas memberikan sikap menolak rencana “Import Guru” ke sekolah-sekolah. Menurutnya wacana impor guru sebagai hal yang kurang tepat terlebih di tengah hebohnya guru-guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun menyelamatkan pendidikan dengan pendapatan yang tidak memadai. Menurutnya, pemerintah pemerintah lebih baik menyejahterakan guru honorer Indonesia jika memang memiliki banyak dana. (https://republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/pre420328/ ikatan-guru-indonesia-kritik-wacana-impor-guru)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pun angkat bicara menurutnya guru yang didatangkan dari luar negeri bertujuan untuk melatih guru-guru maupun instruktur yang ada di Indonesia. “Salah satu pertimbangan Menko PMK Puan Maharani dengan mendatangkan instruktur atau guru dari luar negeri untuk meningkatkan kemahiran instruktur atau guru Indonesia. Juga bisa lebih efisien dari pada mengirim instruktur atau guru Indonesia ke luar negeri,” ujar Mendikbud seperti dikutip Antara di Jakarta, Minggu. (https:// cnnindonesia.com/nasional/20190512134554-20-394131/guru-luar-negeri-yang-diundang-puan-fokus-melatih-guru-lokal?)

Menurut hemat penulis pertama, perlu kita telaah maksud dan tujuan yang ingin di capai dalam rencana mendatangkan guru dari luar negeri bagaimana implikasinya terhadap pendidikan dan generasi bangsa di negeri ini. Kedua, apakah sudah tepat untuk mengundang/mendatangkan guru luar negeri ke sekolah-sekolah untuk menyelesaikan persoalan yang ada di sekolah-sekolah kita. Apakah jawaban dan solusinya adalah dengan mendatangkan Guru Luar Negeri? Oleh karena itu perlu adanya problem mapping yang dilakukan dalam menjawab persoalan di setiap sekolah kita mengingat penyebaran demografi yang sangat luas dan beragam persoalan di masing-masing satuan pendidikan.

Ketiga bukankah banyak guru-guru kita yang juga lulusan luar negeri dan setiap tahun mengirimkan mereka ke luar negeri? Tahun ini saja mencapai 1200 guru yang tersebar di berbagai negara. (https://www.antaranews.com/berita/803315/kemendikbud-kirim-1200-guru-ke-luar-negeri). Selain itu, di dalam negeri sendiri semangat guru dalam meningkatkan kompetensinya untuk menjadi sosok guru profesional, baik melalui pendidikan, pelatihan, pengembangan keprofesian, pendidikan profesi semakin baik.

Salah satu kasus misalnya dari hasil bincang-bincang saya dengan seorang guru yang telah mengabdikan sebaga guru honorer sejak tahun 13 tahun lalu yang baru menyelesaikan Program PPG dengan bantuan biaya pemerintah pada tahun 2019 ini, masih menghabiskan kurang lebih dana 8-10 juta untuk menyelesaikan PPG selama 3 (bulan) yang meliputi biaya hidup, kost dan tugas-tugas selama PPG. Bagi seorang guru honorer tentunya biaya ini sangatlah besar dan jumlah yang tidak sedikit. Akan tetapi oleh karena semangatnya, maka tetap ia perjuangkan hingga meraih predikat lulus. Itu hanyalah secuil kisah dan fakta guru honorer kita dan masih banyak cerita-cerita guru-guru honor lainnya. Ini salah satu fakta bahwa guru kita terus berupaya meningkatkan kompetensi dirinya untuk mengikuti kemajuan perkembangan dunia pendidikan.

Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah mengundang guru dari luar negeri sebagai instruktur untuk program Training of Trainers atau ToT, pada lembaga pelatihan yang berada di kementerian atau BLK, yang sasaran utamanya adalah untuk peningkatan kapasitas pembelajaran vokasi juga pembelajaran science, technology, engineering and mathematics (STEM), barangkali ini masih bisa difahami sebagai upaya peningkatan daya saing skill SDM di tataran dunia kerja dan industri.

Views All Time
Views All Time
100
Views Today
Views Today
1
Previous articleGURU IMPOR, KENAPA TIDAK?
Next articleCahaya-Mu
Imam Syafii, M.Si. Guru di MAN 1 Musi Rawas Prov. Sumatera Selatan. Lahir di Desa Tebat Jaya, BK 0 (OKU Timur-Sumsel) 22 Pebruari 1978. Pendidikan dasar saya tempuh pertama kali di SDN Inpres Balikpapan Kalimantan Timur pada tahun 1984 hingga kelas 3 dan melanjutkan pendidikan dasar kelas 4 di SDN Patok Songo Kec. Buay Madang Kab. OKU Timur- Sumsel lulus tahun 1990. Kemudian melanjutkan ke MTsN Martapura Kab. OKU Timur lulus pada tahun 1993. Pendidikan menengah atas saya tempuh di Pondok Pesantrean Nurul Huda Sukaraja Kec. Buay Madang Kab. OKU Timur di MA Nurul Huda Jurusan A3 (Biologi) lulus pada tahun 1996. Saya menlanjutkan Pendidikan S1 di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru-Riau jurusan Agronomi dan meraih predikat lulusan terbaik pada tahun 2001. Setelah enam bulan menjalani profesi sebagai asisten dosen memperoleh kesempatan beasiswa dari Pemerintah Provinsi Riau untuk melanjutkan Pendidikan Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB-Bogor) masuk tahun 2002 dan lulus pada tahun 2004. Profesi guru saya jalani sejak lulus dari Bogor dengan menjadi guru honorer di MTsN 1 Muara Kelingi, di SMAN 1 Muara Kelingi, di MA Hidayatullah Muara Kelingi , SMAN Karya Sakti Kec. Muara Kelingi, MAN Muara Kelingi, SMAN 2 Muara Kelingi Kab. Musi Rawas. dI Tahun 2008 saya mendapatkan SK Bupati sebagai Guru TKS di SMAN 1 Muara Kelingi, dan di tahun 2009 kuliah kembali mengambil program Akta IV Pendidikan Biologi di Universitas Bengkulu dan pada tahun 2014 mendapatkan SK sebagai PNS di MAN 1 Musi Rawas.

LEAVE A REPLY