WANITA BERJILBAB HIJAU

0
21

Entah mengapa dengan perasaanku, ada rasa yang seharusnya tidak hadir. Jantungku berdebar-debar saat aku harus melangkah kaki ditempat pelabuhan yang menghantarkanku. Jantung ini semakin berdegup lebih kencang bukan karena seorang gadis yang duduk disebelahku dengan rambutnya yang hitam panjang terurai, mengingatkanku iklan shampoo yang sering menghias layar kaca. Bukan pula karena pancaran sorot matanya yang tajam meskipun kacamata terpasang diwajahnya menambah kecantikannya.

Rasa ini belum mampu aku kontrol meskipun aku sudah berusaha dengan baik untuk tidak larut dengan permainan perasaan ini. Kupandangi wajah-wajah yang duduk disekitarku. Seorang Ibu dengan balutan hijab berwarna hijau menjuntai panjang, pakain muslimah menutup tubuhnya membuatnya semakin anggun dalam pandanganku. Namun ada hal yang kulihat dalam dirinya. Ia tidak mampu menyembunyikan kegelisahan dalam dirinya. Wajahnya pucat pasi menunjukkan rasa ketakutan dalam dirinya. Semakin kutatap wajahnya semakin ia gusar karena kecemasan masih berbalut dalam dirinya.

Perahu kecil yang menghantarkan kami ke penyeberangan berkapasitas 15 orang dengan tempat duduk bongkar pasang yang terbuat dari kayu tanpa dilapisi busa empuk sedikitpun. setiap susunan diisi oleh 3 orang jika bobot tubuhnya masih dibawah 75 kg. Namun jika bobot tubuhnya mencapai 100kg hanya mampu setiap tempat duduk diisi 2 orang saja.

Perahu masih mengikuti alunan gelombang air laut yang terbawa suasana speedboat sehingga menciptakan riak gelombang tinggi rendahnya irama. Semakin kencang gelombang yang tercipta maka benturan antar perahupun tidak bisa dihindarkan. Pekikkan takbir dari ibu berhijab Hijau santer terdengar, kecemasannya akan perahu yang ditumpanginya membuatnya harus berdzikir panjang. Bukan saja beliau yang cemas, ternyata perasaan yang hadir dalam diriku juga dikarenakan gelombang air laut yang sejak tadi kuperhatikan menciptakan riak gelombang yabg cukup besar. Bagi seorang penumpang yang tidak terbiasa dengan perahu kecil sangat wajar jika kecemasan menghampirinya. Perahu kecil yang kami tumpangi lebih dikenal dengan pompong untuk masyarakat Tembilahan.

Saat pompong sudah mampu dikendalikan dan meninggalkan pelabuhan tempat bersandar barulah ibu berhijab hijau tersebut bisa tersenyum. Tenyata beliau baru pertama kali menumpangi pompong untuk bepergian. Wanita Aceh yang sudah lama berdomisili di Tembilahan ini memperkenalkan namanya Marliah Sarleni seornag guru yang mengajar di SMKN 2 Tembilahan. Ia menumpangi pompong ini karena ada kegiatan memenuhi undangan guru SDN 17 Tembilahan untuk acara Gerakan Literasi Sekolah (GELIS). Undangan dari bu Wirdayane Tanjung saat mengenalkan dirinya begitu ramah dan senyumnya selalu terpancar. Balutan baju batik biru dan jilbab biru membuat mataku lebih mengamati tulisan yang tertera yang ada dalam bati tersebut. Ternyata beliau dari Ikatan Guru Indonesia (IGI) salah satu organisasi profesi yang ada didunia pendidikan.

Aku cukup tahu dengan organisasi tersebut, yang 1 tahun belakangan ini memang semakin kencang pergerakannya. Gerakan didasari karena tujuan yang sama dalam peningkatan kompetensi bagi guru-guru seluruh Indonesia begitu yang kubaca pada sebuah websitenya.

******** bersambung******

#ceritapagi
#igi
#sagusaku

Views All Time
Views All Time
92
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY