ZONASI GURU dan PEMERATAAN MUTU PENDIDIKAN

0
74

Membaca dan menyimak berita koran Banjarmasin  Post, Selasa, 6 Agustus 2019, pada halaman 7  dengan judul “ Rotasi Harus Pertimbangkan Rumah Guru”.  Menurut beritanya, antara lain disebutkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana  merotasi guru secara berkala. Untuk tingkat sekolah dasar enam tahun sekali. Sedangkan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas empat tahun sekali. Rencana ini mendapat tanggapan sejumlah kalangan  guru di Kalimantan Selatan. Saat sejumlah sekolah di Kalsel kekurangan siswa saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Sistem Zonasi 2019. Wakil Sekretaris  Ikatan Guru Indonesia Wilayah  Kalsel Kamaludin  menyatakan sejumlah sekolah, khususnya di Banjarmasin kekurangan guru. Ini menghambat rencana Kemendikbud.

Belum banyak informasi yang  beredar terkait dengan rencana Kemendikbud menerapkan kebijakan rotasi atau mutasi guru dengan sistem  zonasi. Namun,wacana tersebut sudah  mulai mendapatkan tanggapan  dan komentar dari kalangan guru itu sendiri, ada pro dan ada pula yang kontra. Beragamnya mutu  dunia pendidikan tidak terlepas dari pengelolaan guru , khususnya dalam hal penataan dan pemerataan distrusi guru itu sendiri. Penumpukan guru pada sekolah milik pemerintah yang  favorit, sedangkan banyak sekolah pinggiran yang masih kekurangan guru merupakan masalah klasik dalam pengelolaan guru selama ini.

Masalah pemerataan guru memang sudah cukup lama ada, sehingga tidak dapat dimungkiri bahwa ada guru yang bertugas di sekolah favorit atau dalam kota, dari sejak diangkat menjadi guru hingga pensiun menjadi guru di sekolah tersebut. Kepindahan atau mutasi hanya dapat terjadi apabila ada penugasan atau diangkat menjadi kepala sekolah, suami pindah tugas, dan hal-hal yang berifat darurat lainnya. Guru betah bertugas di sekolah favorit atau dalam kota tersebut hingga masa pensiun tiba.

Fakta tersebut di atas bertolak belakang dengan guru yang bertugas di sekolah pinggiran atau terpencil. Proses mutasi guru di sekolah pinggiran atau terpencil relatif dinamis, bahkan sebelum masa kerja yang dipersyaratkan dapat mutasi, guru sudah mengajukan usul mutasi ke sekolah atau daerah lain. Akibatnya, sekolah-sekolah di daerah pinggiran atau terpencil banyak kekurangan guru, karena tidak ada guru yang betah berlama-lama di sekolah tersebut.

Kondisi sekolah yang tidak merata distribusi guru tersebut,  menjadi salah faktor penyebab adanya kesenjangan mutu pendidikan selama ini, karena terjadi penumpukan di sekolah yang, sedangkan sekolah lainnya sangat kekurangan guru.

Dengan rencana program atau kebijakan zonasi guru diharapkan dapat mengurai salah satmasalah dalam dunia pendidikan Indonesia, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik  dan merata di seluruh penjuru tanah air. Selain itu, melalui zonasi guru tersebut memberikan penyegaran yang siginfikan bagi guru itu sendiri, sehingga dapat lebih bersemangat lagi dalam melaksanakan tugas profesinya di sekolah yang baru. Semoga.

###2063###

Views All Time
Views All Time
34
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN HOMESTAY MAN ICT 2019. Bagian 12. Acara Penutupan Homestay ICT 2019
Next articlePROBLEMATIKA GURU INDONESIA
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY